dsc00065__1471525893_36-73-64-10

Hak yang Terpasung

Cerita oleh Kenia Nareriska

Sepasang mata itu bercerita lebih banyak dibanding apa yang terucap dari mulutnya. Ada seberkas luka sekaligus harap dalam pandangannya. Ini semua tentang apa yang terjadi dalam hidupnya beberapa tahun yang lalu. Sebuah pengalaman pahit yang justru membuatnya ingin bangkit.

Adalah Agus Sugianto, salah satu aktivis gerakan anti pasung di Indonesia. Kulitnya sawo matang, rambut­nya tersisir rapi ke sisi kiri, dengan berpakaian batik nan rapi ia mempersilakan saya masuk ke dalam sebuah ruangan di lantai tiga. “Ini bukan ruangan saya, saya pinjam dari dosen sini,” katanya dengan suara lembut khas orang Jawa diiringi senyum ramah. Siapa sangka sosok itu juga­lah yang beberapa tahun silam dipasung menggunakan ran­tai pada kaki dan tangannya. Anto, begitu biasa ia disapa, adalah mantan pasien gangguan jiwa yang pernah dipasung sebanyak tiga kali dalam hidupnya.

Kisahnya berawal ketika ia duduk di bangku kuliah semester II. Ketika itu, selain berkuliah, ia juga bekerja part time di sebuah pabrik kertas di bagian quality control. Pagi hari ia berkuliah, malamnya bekerja di pabrik. Akan tetapi, dalam menjalani hal tersebut nyatanya sangatlah berat. Setelah satu setengah tahun kuliah sambil bekerja, fisik Anto tidak kuat, membuatnya sering jatuh sakit. Kinerja Anto di pabrik pun menurun. Hingga akhirnya beru­jung pada pemecatan.

Lahir dalam keluarga kurang berada memang mem­buat Anto harus banting tulang membiayai kuliahnya sendi­ri. Kedua orangtuanya mengharapkan setelah lulus dari Sekolah Teknik Menengah (STM), Anto bisa bekerja, tetapi ia berkeinginan keras untuk tetap kuliah. Ia sampai men­jual sepeda motor untuk membiayai kuliahnya. Akan tetapi, apa daya, Anto justru kena tipu. “Pada saat itu saya be­lum bisa menerima kegagalan. Bingung mencari solusi tapi justru terstigma oleh masyarakat,” kenang Anto. Bak pemantik, pengalaman-pengalaman pahit inilah yang memicu penyakit yang diderita Anto.

Di tengah kebingungan dan derasnya stigma yang menghujam, pada tahun 1999, Anto pergi dari kampungnya. “Kalau di desa saya tidak diterima menjadi manusia utuh, saya mencari di mana tempat saya. Di mana kedamaian itu ada?” kata Anto mengenang pemikiran­nya ketika ia ritual ngwiwit. Ngwiwit merupakan ritual mengunjungi makam-makam Sunan. “Tapi porsi saya melebi­hi normal, saya melakukannya selama seminggu,” tuturnya. Perjalanannya ini ia lakukan dengan modal nekat. Hanya dengan berbekal sejumlah uang dan selembar pakaian. “Saya numpang-numpang kendaraan. Pokoknya uang yang saya bawa hanya cukup untuk berangkat aja, tidak cukup untuk pulang,” katanya, saat itu ia diliputi rasa kebingungan dan mendambakan rasa damai.

Pencariannya akan kedamaian yang sejati terhen­ti di Madura. Sesampainnya di Madura ia dijemput oleh keluarganya. Sebenarnya, ketika sampai di suatu tempat, Anto selalu memberi kabar kepada orang tuanya melalui telepon. Hingga pada satu titik Anto tidak punya uang lagi dan rasa kedamaian yang dicari tidak kunjung ia dapat. Akhirnya ia menyerahkan diri kepada Kepolisian Sektor (Polsek) dan meminta mereka untuk menghubungi keluarga. Be­berapa waktu berselang, Anto pada akhirnya dijemput oleh keluarganya. Keluarga Anto langsung memeriksanya ke puskesmas di Nganjuk. Tan­pa diagnosis yang jelas, Anto diberi perawatan di puskes­mas itu. Di sinilah awal mula pengalaman Anto dipasung. Sebelum menuju rumah sakit, ia sempat mendekam dalam kurungan penjara pol­sek dalam beberapa hari. Hal ini untuk mengantisipasi supaya Anto tidak lagi kabur. Mendengar Anto mendekam dalam penjara, stigma masyarakat pada dirinya makin bu­ruk. “Ooo … emang bener edan,” begitulah kurang lebih kata tetangga, terang Anto menirukan.

Agus Sugianto. (Gregorius bramantyo)
Agus Sugianto. (Gregorius Bramantyo)

***

Di dalam sebuah ruangan berisi kurang lebih tiga puluh orang itu Anto dirawat inap. Sebuah metode yang diterapkan di puskesmas itu adalah pasien gangguan jiwa yang dirawat inap pada hari-hari pertama perawatan harus dipasung menggunakan rantai. “Pada saat itu pelayanan terhadap pasien gangguan jiwa memang belum sebaik se­karang,” Anto menjelaskan. Pemasungan dilakukan pada tangan dan kakinya. Lalu seminggu berikutnya hanya tangan saja, lalu kaki saja. Hal ini Anto rasakan selama 28 hari. “Ketika dipasung saya merasa tidak diperlakukan seperti manusia,” katanya sambil menghela nafas. Dipasung berarti ia tidak bisa melakukan hal-hal pribadi sendiri. Seperti mandi, makan, buang air besar, buang air kecil, semua dilakukan dengan pengawasan. Bahkan di hari-hari awal dipasung, Anto melakukan segala sesuatunya di atas dipan kayu. Pernah sekali waktu, ketika saatnya mandi, pa­sien di sana hanya disiram dengan selang air. “Benar-benar tidak diperlakukan seperti manusia,” katanya sekali lagi. Pengalaman inilah yang mendorong Anto untuk terus aktif mengampanyekan bebas pasung.

Usai 28 hari dirawat di puskesmas, Anto dipulang­kan ke rumahnya. Di daerah asalnya, masyarakat sekitar masih belum bisa menerima keadaan Anto. Banyak tetang­ga mencaci-maki. Pun Anto belum bisa menerima hidupnya. Selang satu tahun, di tahun 2000, Anto kembali melarikan diri ke Madura. Masih dengan tujuan yang sama, mencari kedamaian sejati. “Siapa yang bisa kerasan? Teman-teman yang dahulu kenal menjauh semua. Keluarga support-nya kurang karena pengetahuan mengenai perawatan pasien gangguan jiwa masih minim.”

Sepulangnya Anto dari Madura, ia kembali di­pasung. Di tempat yang sama dengan perlakuan yang sama pula. Di titik ini, ia mulai menyadari bahwa dirinya harus berubah. Perlahan tapi pasti, Anto mulai bangkit dari keterpurukannya. “Setelah itu, ya sudah mulai menerima, meski berat banget.”

Pasca keluar dari puskesmas untuk yang kedua kalinya, Anto bertekad kem­bali menata kehidupannya. Terhitung sejak tahun 2002, ia sesungguhnya sudah da­lam keadaan stabil. Bahkan sudah mandiri, memiliki pekerjaan, membuka usa­ha menjahit. Akan tetapi, di tahun 2004, Anto dijanjikan sebuah pekerjaan di Palem­bang oleh saudaranya. “Saya percaya saja dan langsung ke sana.” Namun, peker­jaan yang dijanjikan ternyata tidak ada. Anto merasa kece­wa bercampur sedih. Ia tidak marah, hanya selama ber­hari-hari ia menjadi sosok yang sangat pendiam. Orang-orang pikir Anto kerasukan jin hingga tidak berniat untuk bicara barang sepatah kata pun. Akhirnya ia dibawa ke tempat pengobatan alternatif. “Pengobatan alternatifnya dengan kekerasan fisik, aku kan malah jadi marah to,” ingatannya kembali pada masa-ma­sa itu. Kemarahannya justru menghantar Anto diisolasi di Palembang.

Untuk ketiga kalinya, keluarga kembali menjem­put Anto. Sesampainya di rumah, Anto tidak dibawa ke puskesmas, tapi langsung dipasung di rumahnya. Keluar­ganya sudah tidak memiliki biaya untuk merawat Anto. “Tapi saya paham keluarga memasung saya karena mereka takut saya melarikan diri lagi,” katanya menerima masa lalunya. Anto dipasung selama dua minggu di tempat tidur yang berada di bagian belakang rumah. Karena Anto tera­tur minum obat, akhirnya keluarga melepaskan rantai yang memasungnya.

Setelah dipasung untuk yang ketiga kali, Anto kem­bali bangkit dari keterpurukannya. Ia rela mencari refe­rensi hingga ke perpustakaan daerah demi lebih paham mengenai penyakitnya. “Pada saat itu belum ada internet, jadi segala informasi mengenai schizophrenia saya dapat dengan membaca buku di perpustakaan.” Ia juga sempat bekerja di praktek dokter umum. Di situ, Anto banyak berbincang dengan dokter mengenai penyakit yang dideritanya. Berbekal berbagai informasi yang diterima, Anto bertekad bergerak maju ke depan mengubah hidupnya. Anto mengenali kondisi jika sedang stres, lalu menyusun langkah-langkah untuk menghindarinya. Di samping itu, ia terus meminum obat yang diresepkan puskesmas secara ru­tin. Ternyata, setelah ia bergabung dengan komunitas kes­ehatan jiwa di tahun 2009, apa yang telah dilakukannya selama ini merupakan tindakan-tindakan yang biasa diam­bil secara medis. “Ternyata dalam kasus saya itu, kata be­berapa dokter, telah menjalani teori yang mereka pelajari selama ini secara mandiri.”

Menengok lagi ke pengalaman masa lalunya, Anto tidak ingin menyalahkan siapapun. Bahkan mere­ka yang pernah mengejeknya, “Masyarakat itu memang karakternya seperti itu. Bahkan mereka yang paling baik sekalipun pasti ada salahnya. Itu wajarlah.” Kini ia be­ranggapan bahwa apa yang selama ini dialami adalah ujian dari Tuhan yang memang harus dijalani. Tidak semua orang bisa mengatasi ujian seperti yang Anto alami. “Jadi saya menganggap ini sebuah privilege bagi orang-orang spesial,” ujarnya setelah melewati sekian lama perenungan.

Kini dengan pengalaman hidupnya, Anto banyak dipercaya untuk membantu dan memotivasi keluarga-kel­uarga pasien gangguan jiwa. Ia juga aktif menjadi pembic­ara di berbagai acara kesehatan jiwa. “Saya menerimanya sebagai perjalanan dari Tuhan untuk bisa sampai di titik ini, dan bisa bermanfaat bagi orang lain.”

Sekarang Anto berusaha kembali meraih cita-ci­ta yang dahulu sempat terkubur. “Menyelesaikan agen­da-agenda yang belum terselesaikan, seperti cita-cita awal, mau kerja,” terangnya. Kini, selain aktif mengampanyekan bebas pasung, ia juga menerima pesanan lukisan, menjahit baju batik, juga berusaha menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah.

Berbicara mengenai cita-cita, laki-laki berusia 38 tahun itu sewaktu kecil bercita-cita menjadi guru baha­sa Inggris. Kini ia sedang berusaha mengejarnya kembali dengan menyelesaikan studinya dalam bidang pendidikan bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan (PGRI) Tu­lungagung. “Ini salah satu cita-cita saya yang tertunda. Dari kecil saya suka banget bahasa Inggris. Hanya saja kurang konsisten menekuni ini sehingga pas kuliah yang pertama nggak ambil bahasa Inggris.” Pikirnya ketika itu, bahasa Inggris bisa dipelajari di luar bangku kuliah.

Kini, Anto sudah berdamai dengan masa lalunya. Dengan masayarakat di sekitar tempat tinggalnya pun Anto tidak lagi ambil pusing dengan perkataan mereka, “Ya mungkin masih ada yang beranggapan saya tidak sejajar dengan mereka, saya memaklumi sih. Memang masih be­lum paham mengenai kesehatan jiwa. Malah menjadi tugas banyak pihak untuk menyadarkan masyarakat.”

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *