baleo5

Menjamah Cerita dalam Tradisi Baleo, Lamalera

Cerita oleh Anzhello Lamabelawa

Saat gong berbunyi, seorang pria mengangkat sebuah kayu berukuran sebuah pendayung perahu. Lebar kayu itu bisa digenggam dengan kepalan tangan. Kayu yang bisa digenggam sudah lebih tinggi dari kepalanya. Para awak perahu duduk melingkar. Hadapan mereka tertuju kepada pria sang pemegang kayu itu. Mereka lantas berdoa.

Tubuh mereka bergoyang miring ke kanan, miring ke kiri, kadang ke depan, kadang ke belakang. Posisi duduk, posisi berdiri, dan arah gerakan tubuh mereka layaknya sedang berada di samudera luas di mana tubuh mereka asyik menahan terpaan deras badai dan terjangan ombak yang deras.

Usai doa, lamafa (juru tombak) berdiri kokoh di ujung perahu kecil tanpa mesin. Paledang nama perahu itu. Pandangan lamafa cenderung ke depan menikmati suasana penuh angin dan tahan dengan guncangan ombak yang silih berganti. Sesekali ia menoleh ke kiri dan ke kanan. “Baleo…baleo…baleo…” seruan itu keluar dari mulutnya yang kemudian diikuti asistennya, juru dayung dan juru mudi. Seruan itu muncul ketika melihat properti ikan paus di salah satu sisi ruang pentas malam itu.

Awak paledang mendayung perahunya sambil berseru, “Gilibe…gilibe…gilibe..”. Pengucapan ‘gilibe’ diawali oleh awak paledang terdepan kemudian diikuti satu persatu sampai awak paling belakang. ‘Gilibe’ ialah seruan pemberi semangat semua awak paledang. Pengucapannya dilakukan berulang-ulang. Mereka mendayung sekuat tenaga, secepat mungkin. Makin cepat mendayung, mereka makin dekat dengan ikan paus buruan itu.

Lamafa mengambil posisi nyaman untuk menombak properti berbahan kawat dan berbungkus kertas menyerupai ikan paus itu. Tempuling nama tombak itu. Tempuling yang digunakan ternyata sudah ditali sebelum mereka berburu. Tepat dibelakang lamafa, asistennya berdiri jongkok dengan sikap siaga mengatur tali yang sudah diikat di salah satu ujung tempuling.

Tempuling sudah menyasar di bagian tubuh properti ikan paus itu. Dua orang pendayung keluar dari paledang. Gerakan mereka seolah menceburkan diri ke laut, menggerakkan kaki dan tangan menyerupai orang yang berenang menghampiri ikan. Mereka berdua menikam lagi ikan yang sudah ditombak. Titik tikaman tepat di kepala dan bagian properti mamalia raksasa itu.

Kenong, nama alat musik suku Kedang itu, ditabuh dengan irama dalam tempo tertentu. Sambil menari, asisten lamafa menggulung tali. Seorang awak mengatur layar perahu tradisional itu. Mereka menepi sambil menarik paus hasil buruan. Itulah peragaan tarian Baleo Leva Nuang di atas sebuah arena pentas malam itu. Tarian Baleo Leva Nuang diperagakan oleh penari lelaki. Leva Nuang mengisahkan tradisi berburu ikan paus yang hanya dilakukan oleh kaum lelaki.

***

Cahaya obor ikut menerangi ruang pentas malam itu. Perempuan yang memegang obor itu berjalan menuju suatu tujuan. Sekelompok perempuan lain dengan menjunjung bakul berjalan mengikutinya. Bakul itu memuat daging ikan paus hasil buruan. Cahaya obor itu mengisahkan bahwa suasana saat itu pukul tiga dini hari.

Dalam tarian itu, ada gerakan tangan memberi dan menerima. Sesekali gerakan tangan si penari  mengulur ke depan dan kembali ke pelukan penari itu. Gerakan tangan itu layaknya penerima memberi sesuatu ke pihak sebelah. Itu adalah gerakan barter yang menerangkan bahwa ikan hasil buruan dibarter oleh ibu-ibu Lamalera.

Tong..tong..tong… Suara kenong berbunyi, berganti tempo yang berbeda. Temponya dibuat lebih cepat. Tiba-tiba suatu kelompok penari masuk dalam arena peragaan. Awalnya tarian membentuk lingkaran kecil, dan ketika tempo musik berganti lebih cepat, seketika itu juga bentuk lingkaran tarian itu berubah menjadi lebih besar. Semakin larut, gerakan tarian makin berbeda.

Gerakan tubuh merapat, melebar, dan membentuk lingkaran besar itu bertujuan untuk memberi gerakan yang leluasa dan lebih bebas saat menari. Beberapa anak-anak membawakannya dengan beragam ekspresi.

Tempo instrumen kenong itu kembali berganti. Kali ini temponya semakin mengasyikan. Penari perempuan menggerakan tubuh, kepala, tangan, dan  bagian tubuh lain dengan gemulai. Gelang para penari yang terbuat dari gading mulai berbunyi. Bunyi itu ada akibat gesekan dari sentuhan gelang satu dan gelang lain yang saling berbenturan.

Itulah tarian Baleo yang menceritakan aktivitas masyarakat Lamalera di Lembata, Nusa Tenggara Timur. Tarian Baleo merupakan perpaduan budaya Leva Nuang (aktivitas melaut oleh laki-laki) dan Leva Penete (aktivitas barter oleh perempuan). “Tarian Baleo harus diiringi lagu yang bernuansa dan mengisahkan ucapan syukur. Kemarin kita memakai lagu Tanah Lembata Helelero,” kata Vosa, salah satu penari Baleo Leva Penete. Tarian Baleo diakhiri dengan tarian Dolo-Dolo, sebagai ucapan syukur atas segala rezeki yang sudah diberikan.

Tarian Dolo-Dolo merupakan puncak tarian malam itu, menandakan bahwa tarian Leva Penete dan Leva Nuang sudah selesai. Tarian Dolo-Dolo dipentaskan sebagai ungkapan terimakasih dan rasa bersyukur atas hasil tangkapan ikan dan aktivitas barter yang sudah mencapai titik akhir.

baleo1

***

Lamalera berada di Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lamalera terkenal dengan tradisi Baleo (perburuan ikan paus secara tradisional). Perpaduan antara budaya Leva Nuang dan Leva Penete bernama Baleo. Tarian Baleo sudah ada sejak tradisi penangkapan ikan paus pertama kali muncul, yang menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat Lamalera.

“Masayarakat Lamalera hanya bisa melaut dan barter,” jelas Delos, pria asli Lembata itu. Keadaan geografis yang tidak memungkinan, membuat masyarakat Lamalera memilih untuk tidak bertani dan bercocok tanam.

Sebelum berburu mamalia raksasa itu, orang berdoa terlebih dahulu di batu paus. Ritual biasa dibuka dengan upacara misa. Ritual dilakukan dengan mengucapkan percaya bahwa segala rezeki yang ada adalah pemberian berkat yang Kuasa.

Tarian asal Lamalera itu pernah tampil di beberapa event. “Di Lembata pernah dipentaskan, di Yogyakarta sudah lebih dari tiga kali. Di Solo dan Jakarta juga pernah,” kata Delos dengan aksen Lembata yang kental.

“Pernah saat tampil di Jakarta tapi penarinya kita orang Lembata dari Yogyakarta yang membawakan,” ia melanjutkan. Pertama kali, tarian Baleo tampil pada acara Nusa Tenggara Timur Yought Project (NTT YP). Penampilan kedua di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) dan penampilan ketiga pada Festival Melanesia II. “Usai tampil, setiap penari kadang diberi uang usai pementasan. Uang itu dipakai untuk membeli aksesoris lain untuk menari,” jelas Vosa.

Tarian Baleo pernah lolos seleksi di FKY. “Lolos seleksi merupakan suatu kebanggaan untuk kita sendiri karena kita harus daftar, kita diseleksi, dan satu minggu kemudian baru saya dihubungi kalau kita lolos seleksi,” terang Vosa sambil melengkungkan senyum. “Saat mendaftar, kami sempat ditanya ini tarian apa. Saya jawab ini tarian Baleo, tarian yang menceritakan proses menangkap ikan paus di Lamalera,” lanjut Vosa.

Penari Baleo pernah satu panggung dengan pekerja seni senior di Yogyakarta, bersama mereka yang sudah punya nama. Baleo adalah satu-satunya tarian yang mewakili NTT dan mewakili Indonesia timur saat itu. “Sebenarnya tradisi Baleo sudah mendunia. Hanya saja, beberapa media tertentu baru mengangkatnya belakangan ini,” terang Delos.

***

Sanggar Lepan Batan berdiri pada tahun 2015, terbentuk dari kesadaran anak-anak muda yang memiliki minat di bidang seni tari. Lepan Batan dibentuk untuk mempersatukan budaya Lamaholot dan budaya Kedang. Pembentuk sanggar ini sepenuhnya bukan orang Lembata asli. Sanggar dibentuk dari sejumlah pendiri, tiga orang penasihat, ketua, wakil ketua, koreografer, dan beberapa pengurus lain.

“Awalnya kami (penari Baleo-red) belum terkoordinasi. Sanggar baru terbentuk ketika ada undangan dari komunitas lain, di mana undangan meminta penari Lepan Batan untuk mengisi acara. Dari momentum itu, anak-anak mulai menyadari pentingnya membuat komunitas atau sanggar dan sepakat nama tariannya adalah Baleo,” ucap pria bernama Devos itu. Ia menambahkan, Sanggar Lepan Batan bertujuan supaya para penari saling terkoordinasi. Menariknya, pengurus Sanggar Lepan Batan sepenuhnya bukan orang Lembata asli. Sedangkan para penari semuanya adalah orang asli Lembata.

***

Penari Baleo harus memakai busana dan perlengkapan khusus. Penari lelaki memakai nowing bermotif ikan paus, lumba-lumba, dan ikan pari. Memakai salah satu dari ketiga motif juga diperbolehkan. Nowing adalah sarung khusus bagi lelaki Lamalera. Penari perempuan mengenakan kwatek yang merupakan sarung adat khusus untuk perempuan Lamalera.

Selain sarung, ada gelang gading yang dikenakan di pergelangan tangan penari perempuan. “Saat tangan penari digerakan dengan gemulai, ada bunyi khas dari gelang itu. Bunyi itu untuk meriuhkan suasana,” kata Vosa.

“Perempuan mengenakan kwatek, tangan penari dihiasi gelang gading, anting gading bulat, dan anting besi putih. Itu semua sudah merupakan tradisi, sebagai wujud rasa syukur kepada Lewo Tanah (kampung halaman),” kata Delos.

Kepala penari Baleo kepala dihiasi bulu ayam untuk mempercantik diri. Sebenarnya memakai daun lontar untuk menghias kepala, namun mengingat di Yogyakarta tidak ada daun lontar, sebagai gantinya bulu ayam yang dipakai. Salah satu unsur mengapa kepala penari Baleo dihiasi daun lontar karena dahulu kala hanya terdapat pohon tuak (pohon lontar) di Lamalera, ditambah belum adanya topi pada masa itu.

“Laki-laki dulu menggunakan nowing, digulung biasa di pinggangnya dan ada parang yang diikat. Tidak pakai kalung, tidak pakai gelang, dan di atas kepala tetap ada daun lontarnya,” terang Delos.

Ina-ina (mama-mama) hanya menjepit kainnya di atas dada. Mereka membawa tas kecil yang terbuat dari daun tikar yang berisi sirih pinang dan diikat ke samping. Tas itu dibawa ke mana pun mereka pergi. Hanya  ada anyaman. Pakaian asli sesederhana itu.

Perlengkapan para penari di Sanggar Lepan Batan sudah dimodifikasi. Ada gelang yang berbahan kaca karena para penari kekurangan gelang yang terbuat dari gading.

Sanggar Lepan Batan kekurangan alat musik ketika hendak mementaskan tari Baleo. Alat musik yang ada sulit untuk dibawa dari Lamalera ke Jogja. Ditambah di Lamalera pun keberadaan alat musik khusus tarian Baleo letaknya tidak terkumpul di satu tempat. “Saat mau menari kami harus pinjam ke pihak lain terlebih dahulu. Permasalahan kami hanya kekurangan alat musik saja,” kata Delos.

baleo7

Sebenarnya dalam memperagakan tarian Baleo, suling acapkali dipakai untuk mengiringi para penari agar suasana lebih mengena. Tapi kemampuan orang yang memainkan suling masih terbatas.

Alat musik tarian Baleo yang asli hanya ada di Kedang, Lamalera, dan Ileape. Keberadaan alat musik itu berpencar. Menurut Delos, tentunya ada faktor yang mempengaruhi berpencarnya alat musik tersebut. “Ada dugaan bahwa dulu pernah terjadi perang atau bencana gempa. Hingga kini keberadaan alat musik itu tak terkumpul di satu tempat,” kata Delos

Alat musik harus lengkap jika penarinya dibawakan oleh tetua penari Baleo Lamalera. “Jika tetua Lamalera yang menari, mau tidak mau mereka harus mengambil dan mengumpulkan semua alat musik yang berpencar tadi,” kata Vosa mengingat ucapan seorang pelatih tarian Baleo di Lamalera.

Penari Baleo di Jogja masih tergolong baru, tidak semahir penari Baleo yang ada di Lamalera. Pastinya tarian dan nuansa yang ditarikan juga berbeda. “Kalau penarinya tetua Lamalera, mereka sangat menikmati. Saking nikmatnya, kita yang yang menonton sampai merinding. Kadang kita merasakan ada aura sakralnya hingga bulu badan pun merinding,” kata Delos menceritakan pengalamannnya ketika menonton pagelaran tarian Baleo di suatu event.

Sanggar Lepan Batan belum memiliki program kerja lain. Pengurus masih berfokus pada tarian Baleo. Untuk menjadi pengurus dalam Sanggar Lepan Batan tidak harus orang yang memiliki latar belakang sanggar. “Pengurus terbuka untuk siapa saja yang mau masuk menjadi pengurus dalam sanggar ini,” tandas Vosa yang juga merupakan salah satu pendiri Sanggar Lepan Batan.

“Sanggar Lepan Batan dibentuk sebagai wadah tempat untuk kita berkumpul dan sharing pengalaman,” kata Delos sembari membakar rokok di tangannya.

Menurutnya sanggar itu sebagai wadah untuk anak-anak Lembata yang ingin menari dan terbuka untuk orang luar Lembata. “Kalau ingin belajar menari, mari kita sama-sama menari. Yang latihan tinggal menyesuaikan. Latihan tarian Baleo biasanya kalau ada event,” lanjutnya.

Sanggar yang berada di Jalan Wahid Hasyim, Condong Catur, Sleman itu mengajak anak-anak muda yang ingin belajar tari, khususnya bagi orang Lembata. Mereka tidak menutup diri untuk orang luar Lembata yang juga ingin belajar tari.

Tidak semua orang mengetahui adat istiadat dan tradisi Baleo. Adanya sangggar ini sebenarnya untuk menggali lagi potensi yang dimiliki anak-anak Lembata, supaya bisa melestarikan serta menjaga tradisi Baleo supaya tidak termakan zaman. “Jadi tugasnya kita adalah menjaga, kita yang teruskan tradisi itu, bukan orang lain,” kata Vosa.

Selain itu, tarian Baleo juga sebagai wadah bagi orang luar Lembata agar bisa mempelajari dan mengetahui tarian Baleo khas Lamalera itu sendiri. “Supaya orang bisa tahu, oh ternyata di Lembata punya ini (tarian Baleo-red), kita orang Lamalera itu dikenal dengan Baleo, penangkapan ikan paus itu,” tutupnya.

 

 

 

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *