scan029

Monolog Sebuah Kursi

Tulisan oleh Riski Mario
Ilustrasi oleh Silvester Wisnu

Aku.
Aku terpesona pada sepasang tangannya. Sepasang tangan, yang terlihat kokoh dalam bentangan sinar ranum yang dengan rayu mengintip dari balik jendelamu. Sentuhanmu berasa pelita. Tatapmu sekilas namun bias. Bagiku, kaulah Tuhan dan aku hamba. Menengadah dalam angkara, adalah satu-satunya cara agar kita dapat bersama.                                                                                                                                                   

Pada suatu malam berbalut indah purnama itulah, pertama kali aku melihat seorang lelaki misterius itu. Ia bertelanjang dada di bawah sinar rembulan yang membiaskan lekuk tubuhnya yang kurus dan masih berbau keringat. Rambutnya yang panjang terurai hingga menutupi dadanya pun masih basah, seperti baru saja mengerjakan sesuatu yang menguras tenaga. Sepasang tangannya yang terlihat kokoh memegang secangkir kopi yang baru saja ia seduh. Seekor cicak yang hinggap di atas tubuhku pun nyaris tergelincir jatuh saking terkejutnya aku menemukan sepasang tangan indah yang menari di bawah sinar rembulan. Dan, ya, tanpa sadar aku menaruh rindu pada ujung secangkir kopi yang bercampur manis dari bibirmu.

Hujan yang turun membawa kebahagiaan di musim kemarau yang panjang. Ini kali pertama hujan turun. Aku tak bahagia karena hujan turun. Isak tangis bercampur geram yang disusul oleh suara dentuman terdengar begitu nyaring dari halaman belakang. Halaman belakang yang telah lama dihuni oleh sebuah pohon mangga dan beberapa potongan kayu sepertiku. Kau kerap kali berdiri di halaman belakang sambil menghisap sebatang kretek lalu santai menikmatinya.  Aku sengaja bersembunyi di balik tumpukan-tumpukan barang usang yang lama tak kau sentuh ini. Kau menatapku. Dan inilah awal di mana rasanya aku tak pernah bisa melupakan tatapan itu. Tapi tunggu dulu, bukan tatapan bahagia atau mengiba yang kau tujukan, tapi sedih. Sayu tatapmu membuatku risau. Namun, entahlah, kau sedih pada kehidupanmu, atau padaku.                                                 

Suatu malam, lelaki itu kembali ke halaman belakang ini setelah beberapa pekan berlalu. Di hadapan sunyi, malam memperdengarkan gemuruh rancu yang diracik menjadi rindu dan kujadikan candu dalam sepi. Tak disangka kau berjalan ke arahku dan terasku sebagai perhentianmu. Kau menatapku. Lalu kita lama terdiam, saling memandangi dalam remah cahaya lampu temaram yang mencuri-curi kesempatan untuk mengintip kita dari teras halaman belakang rumahmu. Kau bagai si bunyi yang memekak malam sunyi. Sementara aku, si sepi yang bersembunyi di balik mimpi, tak ada tempat bagi kita untuk saling memiliki. Namun, hampir tak kusadari, ternyata sedari tadi kau melempar senyum kepadaku.

“Hei! Apa yang membuatmu tersenyum? Apa ada yang aneh dari tubuhku?” tukasku.

Tapi percuma. Kau segera melangkahkan kakimu menuju rumah sembari mengucapkan kata-kata yang tidak jelas aku dengar. Tak peduli seberapa keras dan kencang aku mencoba untuk memanggilmu, kau tetap tidak akan pernah bisa mendengarku. Hingga tinggallah aku di sini kembali bersama sepi. Sepi malam yang kian gelap, yang membuat tidurmu semakin lelap. Namun aku masih saja terperangkap pada bayang tatapan matamu malam tadi.

Aku dibawa menuju sebuah ruangan gelap yang kurang lebih berukuran 4×6 persegi. Dari luar, ruangan ini sama sekali tidak menarik perhatian, Sebuah ruang yang kumuh dan diserbu oleh aroma karat dari segala penjuru. Ketika aku melihat lelaki itu, dia sedang menuju ke sudut ruangan entah mencari apa. Dan entahlah, ada beribu tanya yang berputar-putar dipikiranku saat ini.

“Mau kau apakan aku?”

“Sialan! Ternyata disini.”

“Jawab aku!” umpatku sekeras-kerasnya.

“Nah! Akhirnya nyala juga lampunya.”

Tak pernah ada manusia yang menjawabku. Kenapa aku bodoh sekali mengharapkan sebuah jawaban fana yang tidak akan pernah aku dapatkan darimu wahai lelaki. Aku tak pernah tahu, betapa aku bisa menganguminya hanya karena sepasang tangannya yang kokoh. Dan baru kusadari, ternyata aroma karat yang begitu mudah tercium berasal dari alat-alat perkakas pekerjaanmu. Tanpa kau menjawab pun, aku telah menyimpulkan. Kau akan menggunakanku. Lama kita saling memandang, namun inilah kali pertama kau menyentuhku. Dan baru aku ingat, sebelum kita berpisah malam itu, kau mengatakan, “Kayu itu akan kujadikan sebuah kursi besok pagi.”

***

Kau meletakkanku di atas sebuah meja kecil lalu berangsur membuka kotak perkakasmu. Kau keluarkan sebuah gergaji lalu kembali ke hadapanku. Ujung tubuhku kau tahan dengan menginjakkan kaki kananmu yang kemudian berangsur mulai menyayat tubuhku dengan gergaji itu. Dalam remang cahaya lampu ruang ini, aku dapat melihat matamu. Aku menemukan mata yang menatapku penuh birahi. Tak peduli pada sakit yang kurasakan, akan tetap kau hujamkan gergaji itu untuk menyayat nadiku. Ketika kau berangsur melakukannya, tiba-tiba saja kau berhenti lalu berteriak kencang hingga menghantam gendang telinga. “Bangsat! Keparat!” umpatmu. Ternyata ujung jempolmu terluka akibat tersayat oleh gergaji itu. Luka yang meneteskan darah, darah yang berwarna merah, hingga berkecamuk dengan lara. Namun entah mengapa, kau yang terluka tapi aku yang merasa sakitnya.

Kau kembali menjamah secangkir kopi dan sebungkus kretek di atas meja. Yang menyisakan remah bubuk kopi dan aroma khas tembakau pada ujung bibir manismu. Aku sering bertanya, mengapa kau begitu menyukai kopi yang pekat dan pahit itu? Baru aku mengerti, ternyata pekat tidaklah salah. Aku bukanlah orang yang mempedulikan benar dan salah akan suatu hal. Namun terkadang beninglah yang begitu memukul. Kau memberikanku rindu yang bening. Jika kau bertanya mengapa? Bukan rindunya yang semakin bening, tetapi yang dirindu. Lalu berangsur hening, dan hilang. Tidak lama kau pun melanjutkan kembali pekerjaan yang baru saja kau tunda. Kau menggenggamku hingga malam pun terasa kian singkat. Semenjak menyentuhmu, percakapan ini tak lagi menginginkan pagi. Dan baru kusadari, ternyata aku menaruh cemburu pada secangkir kopi dan sebatang kretek.

***

Aku telah selesai dan telah beberapa pekan kau gunakan. Seorang lelaki menadah bening liurnya di cangkir kopi sepi pagi hari. Daun-daun rindu telah lama mengering di ranting intuisi. Di antara sunyi pagi, sepotong hati telah muak mengharap rindu dalam titian lara. Ah, rasa hanyalah sebait sajak. Sisanya hanya sepi yang terinjak. Kenapa kau semakin hari semakin gemar merisau? Kenapa kau semakin hari semakin jarang menjamahku? Atau mungkin aku sudah tidak lagi menjadi unsur bahagiamu? Atau aku mungkin tidak nyaman untuk kau gunakan? Hingga akhirnya kutahu, ternyata kesalahannya ada padaku. Aku tidak menjadi sebagus dengan apa yang kau inginkan.

Tiba pada ujung cerita ini kuceritakan, lelakiku mengakhiri hidupku sendiri. Dibuangnya aku pada sebuah toko barang bekas yang berada di sudut kota tak jauh dari rumah tempat ia tinggal. Terbuangnya aku hampir sama tragisnya dengan apa yang dirasakan manusia-manusia di luar sana. Manusia-manusia yang tak memiliki kuasa. Lucunya mereka sesama manusia tetapi saling menjatuhkan. Sedang aku? Tidak. Aku tidak ada dalam sejarah peradaban kalian. Pesanku lenyap ditelan semesta yang sedang murka hingga menyatu dalam angkara. Kalian para manusia, telah aku susun rima ini bagi kalian. Setidaknya, ingat dan akuilah bahwa keberadaanku, ada.

Aku tegaskan kepada kalian. Ini bukanlah sebuah kisah tentang baik dan buruk, benar dan salah, senang dan sedih, atau opera sabun jenis apapun itu. Mari kuceritakan, bagaimana kisahku menjadi sebuah barang tak berguna yang berujung di pembuangan. Sebuah toko barang bekas. Diam. Sepi. Terbuang. Terabaikan. Terlupakan. Tidak lama kemudian aku mendengar sayup-sayup penjaga toko tersebut memutar sebuah lagu dari piringan hitam yang tak kukenal. Walaupun suaranya tidak begitu keras namun cukup jelas aku menangkap liriknya:

So many words spoken & yet so little truth.. Too much talk but when will you move.. It’s at the point where we have little to lose.. And they crest the hill so savage & wild… Scorching the land & every woman & child.. Through the deserts they slip into the night.. And they die…

Hidupku memang fana, yang membuatku mengiba pada secangkir rasa dan terlihat hina. Namun, perkenankan aku menghantammu lewat monolog. Aku merasa itu sama sakitnya dengan luka yang kau berikan.

 

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *