dscf1128

Perpustakaan dan Budaya Populer

Cerita oleh Uli Fabiola & Putri Alvi
Foto oleh Vincensius Helmy

Grhatama Pustaka, nafas baru bagi Kota Pelajar.

Siang itu suhu udara mencapai puncaknya. Panasnya sungguh menyengat di kulit. Matahari mengeluarkan energi dua kali lipat dari biasanya. Ruangan yang sesak dengan ratusan loker menjadi tempat pertama sesampainya di sana. Dari ruangan loker utama, kami berjalan mengitari bangunan yang ditopang oleh pilar-pilar besar, dihiasi oleh peribahasa yang ditulis dalam dua bahasa, Indonesia dan Jawa, serta aksara Jawa.

Berbeda-beda cara seseorang menikmati suasana yang ada dalam perpustakaan. Ada yang sedang membaca, mengerjakan tugas, diskusi dengan beberapa kerabat, sampai tertidur pulas di atas tumpukan buku. Beberapa orang  duduk di pinggir ruangan yang hanya dibatasi dengan kaca, memandang kami sesaat, menyadari kedatangan kami, atau mungkin jenuh akan tulisan yang ada di hadapannya. Beberapa di antaranya berseragam sekolah, berkerudung, ada pula yang mengenakan almamater, yang beruban pun tak ketinggalan.

Perjalanan kami terhenti pada satu ruangan, di mana seseorang sudah menunggu kami. Terlihat seorang perempuan berusia kira-kira 40 tahun, sedang duduk di dalam ruangan rapat sambil membolak-balik kertas yang ada di hadapannya. Mejanya terlihat berantakan, mungkin sedang menyusun jadwal pekerjaannya. Perempuan itu menyadari kedatangan kami, dan dengan sigap membereskan mejanya, kemudian menyambut kami. “Maaf berantakan,” tuturnya.

Tempat ini bernama Grhatama Pustaka. Sebuah perpustakaan yang tergolong baru dan memiliki bangunan cukup megah. Khalayak lebih sering mendengar kata “graha” dibandingkan dengan “grha.” Namun ternyata, kata “graha” yang diidentikan dengan sebuah arti perumahan, justru memiliki arti lain, yaitu buaya. Sedangkan kata “grha” yang memiliki makna rumah. “Nama tersebut merupakan pemberian dari Bapak Gubernur sendiri, karena diminta berdasarkan nama jawa, akhirnya diberilah nama Grhatama Pustaka, artinya adalah rumah utama untuk menyimpan pustaka” terang Sari, selaku kepala tata usaha Grhatama Pustaka.

Di ruangan itu, kami berbincang-bincang bersama Sari, selaku kepala Tata Usaha, mengenai perpustakaan tersebut. Beliau menceritakan dari awal dibangunnya perpustakaan hingga saat ini. Perpustakaan ini tidak seperti perpustakaan umum lainnya. Perpustakaan ini memiliki suatu ciri khas yang sangat kental dengan adat istiadat Yogyakarta, yaitu adat Jawa. Sehingga tidak heran jika banyak pengunjung dari dalam kota maupun dari luar kota yang sangat antusias mengunjungi perpustakaan ini.

Penjelasannya mengenai cerita di balik  perpustakaan ini begitu menarik, sehingga membuat rasa penasaran kami pun lebih mendalam. Jika diperhatikan dengan seksama, gedung perpustakaan ini memiliki struktur bangunan yang terbilang unik. Setelah diselidiki lebih lanjut dan mendengarkan penjelasan dari Sari, struktur perpustakaan ini tidak dirancang sembarangan. Melainkan, Gubernur DIY sendiri ikut turut tangan dalam proses perancangannya. Mulai dari desain bangunan, sampai pada ke filosofi yang coba ditanamkan. Bangunannya memiliki struktur sedemikian rupa, perpustakaan ini memiliki filosofi yang unik sehingga terjadilah bangunan seperti sekarang adanya.

dscf1164

Dari pintu loker utama terlihat dengan jelas bangunan ini ditopang oleh empat pilar raksasa. Empat pilar minaret tersebut merupakan perwujudan dari Gubernur Yogyakarta yang ingin mengantarkan masyarakat kepada kesempurnaan hidup, yang dalam bahasa Jawa empat pilar itu memiliki arti, agung; baik semasa hidupnya, prakoso; sehat jasmani dan rohani, wulung; berbuat kebaikan, serta wangi; yang berarti menjaga nama baik dan martabat. Pada sisi lainnya, jika dilihat dari atas, bangunan ini akan terlihat seperti sirip baling-baling. Semakin banyak angin yang datang, maka baling-baling itu akan semakin kencang berputar. Maknanya adalah semakin banyak yang datang ke sini, maka akan semakin kencang atau kuat pula pengetahuan yang didapatkan.

Perpustakaan yang diresmikan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada 21 Desember tahun lalu ini, dikabarkan sebagai perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara. Kabar burung mengatakan perpustakaan ini terbesar karena bangunannya yang luas, ada pula yang mengatakan bila perpustakaan ini merupakan terbesar dalam skala provinsi. Namun, Sari selaku kepala tata usaha menegaskan bahwa semua isu tersebut tidaklah benar adanya. Semua kabar yang beredar hanyalah opini yang muncul dari khalayak. Sultan HB IX pun tidak pernah mengatakan bahwa perpustakaan ini merupakan perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara. Saya tidak tahu sama sekali, dari mana masyarakat bisa beranggapan seperti itu,” tutur Sari.

Terciptanya opini yang menyebar luas membuat pihak Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) bangga sekaligus merasa terbebani. Bangga karena mereka mendapat apresiasi dari masyarakat, sedangkan menjadi beban karena Grhatama ini belum mewujudkan title terbesar seperti opini yang beredar. Ada sedikit perasaan takut juga ketika mendapatkan gelar sebagai perpustakaan terbesar, se-Asia Tenggara pula. Namun, pihaknya tidak larut bahkan terlena begitu saja akibat pemberitaan ini. Justru, hal-hal seperti inilah yang membuat pihak BPAD menjadi bersemangat untuk menciptakan Grhatama Pustaka menjadi perpustakaan yang memiliki gelar sebagai perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara.

Kami tidak langsung pulang, tetapi kami ingin mencoba menikmati fasilitas-fasilitas yang telah disediakan. Tak lama setelah kami berbincang-bincang dengan Sari, terdengar suara pengumuman bahwa tidak lama lagi akan ditayangkan sebuah film edukasi di ruang audio visual. Kesempatan tidak datang dua kali di waktu yang cukup padat, kami menuju ruang audio visual untuk menyaksikan sebuah film. Perlu diketahui, walaupun perpustakaan ini memiliki fasilitas yang terbilang cukup “wah”, ternyata pihak perpustakaan tidak pernah memungut sepeserpun biaya. Semua dikarenakan biaya pembangunan gedung perpustakaan murni dari APBN.

Perpustakaan yang diresmikan pada 21 Desember tahun  lalu dan dibuka untuk umum pada 4 Januari 2016 ini memiliki fasilitas yang cukup menarik perhatian pengunjung,  yaitu adanya bioskop 6 Dimensi (6D). Mengapa disebut sebagai bioskop 6D? Kami saja hanya pernah menonton film di bisokop dengan fitur 2D dan 3D. Jangankan menonton bioskop dengan fitur 6D, mendengarnya saja baru kali ini. Ternyata, disebut 6D karena bioskop Grhatama Pustaka terdiri dari layar yang merupakan layar 3D, kursi yang diigunakan dapat bergoyang, serta juga terdapat efek salju, air, dan api.

Tidak hanya itu saja, banyak fasilitas yang menunjang kebutuhan para pengunjung. Fasilitas yang disediakan antara lain; auditorium, ruang seminar, ruang audio visual, bisokop 6D, kafetaria bagi pengunjung yang hendak mengisi perut serta koleksi bukuu-buku langka yang tidak akan didapatkan di perpustakaan manapun. Rasa penasaran masih membuat kami bertanya-tanya mengenai adanya bioskop 6D. Sebenarnya untuk apa dibangun sebuah bioskop di dalam perpustakaan.

dscf1130

Tidak salah jika Grhatama Pustaka dilabeli sebagai tempat wisata edukasi. Dikarenakan sebagai tempat untuk membaca, pengunjung juga dapat berwisata, melakukan berbagai macam kegiatan belajar dan mengajar, disertai sebagai tempat dikumpulkannya karya-karya yang luar biasa. Perpustakaan ini tidak hanya diperuntukan bagi mereka yang “kutu buku,” namun juga untuk para peneliti, wisatawan, pelajar, dan tentu saja untuk semua kalangan yang ingin memperdalam ilmunya.

Pada waktu mendatang, rencananya pihak BPAD akan memulai pembangunan untuk gedung khusus penyimpanan arsip yang letaknya persis di belakang gedung Grhatama Pustaka. Nantinya, kedua gedung ini akan dihubungkan oleh jembatan, yang berdasarkan penuturan kepala tata usaha Grhatama Pustaka akan diisi dengan pameran lukisan. Akhir yang dapat kami simpulkan dari lawatan ke Grhatama Pustaka adalah perpustakaan ini merupakan perpustakaan yang unik dan berbeda dari perpustakaan sewajarnya ada di Indonesia. Tidak hanya ingin menyediakan tempat membaca dan meminjam buku, akan tetapi juga menyediakan tempat wisata sekaligus hiburan agar para pengunjung tidak merasa jenuh. Perpustakaan tidak hanya menyangkut buku, tapi berbagai ilmu melalui berbagai sarana dan fasilitas.

 

 

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *