3.1

Mereka yang Dihantam Namun Tak Karam

Cerita & Foto oleh Giras Pasopati

“Setiap penyandang cacat mempunyai kesamaan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya”
(Pasal 13 Undang-Undang Nomor 4 tahun 1997)

Pagi itu Tarjono Slamet merasakan ada yang berbeda dengan kondisi badannya. Lesu dan tanpa gairah. Serasa ia ingin melewati hari itu dengan segera. Kalau perlu dengan satu kedipan mata. Hari  itu bakal melelahkan baginya dan kedua orang temannya karena ada beberapa trafo yang bermasalah di wilayah Klaten. Dia tak menyangka jika pagi itu akan menjadi hari yang mengubah hidupnya kelak.

Siang hari firasat buruk semakin menjadi, ketika ia dan kedua temannya tadi memeriksa kerusakan salah satu instalasi di kawasan industri Ceper, Klaten. Saat itu tiba-tiba satu sisi anting-anting pada menara tersebut lepas dan mengenai mereka. Hanya dalam hitungan detik, Tarjono dan dua temannya terlempar akibat tersengat listrik tegangan tinggi.

Meski ketiganya selamat, semuanya mengalami cacat seumur hidup. Tarjono harus kehilangan kaki kirinya yang terpaksa diamputasi. Selain itu ia juga harus menerima kenyataan bahwa sepuluh jari tangannya tak bisa digerakkan lagi lantaran mengalami kerusakan syaraf. “Setelah itu mental saya sempat hancur, bahkan saya sempat berpikir untuk mati saja,” kenang Tarjono mengingat penderitaannya.

Selama berbulan-bulan Tarjono hidup dalam sebuah dioma yang adalah realitas bagi keadaannya saat itu, “hidup segan mati tak mau”. Di awal kegelapan dalam episode kehidupannya itu yang ia lakukan hanyalah mengurung diri dan merenungi nasibnya. Kejadian itu menciptakan sebuah situasi yang melelahkan baginya. Berondongan petuah, nasehat, dan kata-kata penyemangat dari keluarga, teman, dan semua orang yang bersimpati padanya malah membuatnya semakin merasa terpuruk.

“Banyak orang-orang yang ngomong ini itu, nyemangatin saya, ngasih saya nasehat. Tapi ya percuma, waktu itu nggak ada omongan yang masuk ke pikiran saya. Pikiran saya masih kalut, masih sedih. Toh, omongan mereka juga nggak bisa membuat keadaan saya kembali normal seperti sebelum terjadi kecelakaan,” ungkap Tarjono.

Tarjono Slamet. Sekilas ia tampak normal, namun sebenarnya syaraf tangannya telah mati dan ia juga menggunakan kaki palsu hingga kini. (Giras Pasopati)
Tarjono Slamet. Sekilas ia tampak normal, namun sebenarnya syaraf tangannya telah mati dan ia juga menggunakan kaki palsu hingga kini. (Giras Pasopati)

Dalam situasi yang memuakkan Tarjono tersebut, muncullah seorang sosok yang membawa secercah harapan baginya. Frannie Denmmest, seorang volunteer asal Belanda yang pada saat itu bertugas di bagian fisioterapi RS Dr. Sardjito dengan sabar menyemangatinya. Ia telah membuat Tarjono sadar akan penghargaan atas kehidupan dan membuatnya bangkit kembali. Tarjono membutuhkan waktu dua tahun untuk bangkit.

Atas dorongan keluarga dan sejumlah teman dekatnya, Tarjono lalu masuk ke Pusat Rehabilitasi Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum) di Yogyakarta dan mengikuti sejumlah pendidikan dan keterampilan khusus bagi penyandang cacat. Tahun 1991, Tarjono bergabung dengan bagian usaha kerajinan atau Yakkum Craft. Atas bimbingan McLennan Collin, seorang volunteer di sana, ia mulai membuat produk-produk kerajinan seperti mainan anak-anak dari kayu, alat peraga, dan puzzle. Hasil karyanya kemudian dijual ke sejumlah tempat seperti sekolah dan tempat-tempat pendidikan lainnya.

Tidak hanya sampai di situ, Tarjono pun mulai berpikir untuk berwirausaha agar dapat memperbaiki kondisi ekonominya. Setelah dikirim Yakkum untuk mengikuti kursus singkat tentang fund rising di Selandia Baru tahun 1992 dan Australia tahun 1993 dan kuliah di Oakland University, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari Yakkum Craft dan membangun usahanya sendiri.

Kebersamaan dengan sesama penderita cacatlah yang akhirnya menggugah Tarjono untuk kemudian bangkit dari keputusasaan. Ia mulai menyadari, cacat fisik bukanlah akhir dari segalanya. Kaum difabel pun dapat berbuat sesuatu dan menghasilkan karya-karya brilian, berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Tarjono menamai usahanya barunya Mandiri Craft, yang berproduksi di Desa Ngangkruk, Kretek; dan Desa Timbulharjo, Sewon, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Berbekal hasil warisan keluarga, sisa gaji, dan usaha sampingan sebagai penerjemah bahasa, Tarjono membeli 15 mesin sebagai alat produksi kerajinan kayu, mulai dari mesin gergaji, kompresor, mesin pembuat siku, hingga mesin amplas.

Ia lalu menggandeng 25 kaum difabel yang sebagian besar adalah penyandang polio. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Solo, Semarang, Banyuwangi, Magetan, dan Gunung Kidul, yang sebelumnya adalah rekan-rekannya yang juga pernah bergabung di Yakkum Craft.

Kurun waktu tahun 2003 sampai 2006, Mandiri Craft telah memberi pengasilan yang layak melalui produk-produk berkualitas yang dibuat dan dipesan oleh konsumen di Indonesia, Australia, Selandia Baru, dan Eropa. Dari hasil kursus fund rising dan jaringan di luar negeri, Tarjonomampu mengekspor produk-produk Mandiri Craft ke Belanda, Australia, dan Jerman.

Pada waktu itu Tarjono mampu membayar semua karyawannya dengan upah yang layak. Bahkan semua karyawan Mandiri Craft digaji di atas Upah Minimum Provinsi atau UMP. Belum lagi, mereka masih akan menikmati insentif melalui sistem bagi hasil atas setiap kelebihan keuntungan usaha.

Gempa 27 Mei 2006 di Bantul kala itu berdampak hebat pada perusahaan tersebut, bahkan telah merenggut nyawa salah satu pengrajin. Sarana dan prasarana yang ada di workshop dan lingkungan tempat tinggal Tarjono mengalami kerusakan total. Meskipun upaya perbaikan telah dilakukan, ternyata Mandiri Craft sangat membutuhkan bantuan dari pihak luar untuk bisa bangkit kembali.

1.1

Bantuan-bantuan kemudian berdatangan dari berbagai belahan dunia. Teman-teman Tarjono dari Belanda mengumpulkan uang untuk mendirikan workshop sementara dengan materi bambu. Palang Merah Jepang, Malaysia, Indonesia, dan Belanda mengirimkan bantuan dana untuk memulai workshop yang baru. Kemudian Handicap Internasional menyumbang beberapa mesin dan alat produksi untuk memproduksi barang kerajinan sehingga proses produksi bisa dimulai lagi pada Agustus 2006.

Untuk mengesahkan Mandiri Craft secara hukum, pada tahun 2008 dibuat akte yayasan dengan nama “Yayasan Penyandang Cacat Mandiri”. Yayasan memutuskan untuk menjalankan peranannya dengan nama komersil “Mandiri Craft”. Berkat kemurahan hati Palang Merah Jepang, pada tahun 2008 didirikanlah suatu bangunan megah sebagai sumbangan bagi Mandiri Craft. Bangunan baru tersebut meliputi ruang workshop, kantor terpadu, bagian penjualan, dan asrama bagi para pekerja. Selain itu juga tersedia fasilitas pelatihan bagi para penyandang cacat, termasuk korban gempa Mei 2006.

Pemerintah daerah Bantul melalui bupati kemudian memberikan ijin sewa atas sebidang tanah untuk periode waktu 20 tahun dengan biaya yang sangat murah. Maka, pada Januari 2009 Mandiri Craft mulai memproduksi kerajinannya di tempat yang baru tersebut, yaitu di Jalan Parangtritis KM. 7,5, Cabean, Sewon, Bantul.

Satu mimpi yang belum terlaksana adalah menjadikan rumah produksi kerajinan Mandiri Craft berstandar internasional. Artinya, setiap pekerja di sana harus mendapatkan fasilitas antisipatif untuk keselamatan kerja. “Saya ingin mereka aman dalam bekerja sehingga perlu ditekan dari kemungkinan mengalami kecelakaan, terutama saat mengoperasikan mesin-mesin. Dan agar mereka dapat merasa setara dengan orang-orang normal lainnya,” jelas Tarjono.

Setelah peristiwa gempa Mei 2006, Tarjono juga memberi pelatihan bagi beberapa korban yang selamat. Tujuannya adalah agar mereka dapat memperoleh penghasilan yang telah hilang karena gempa. Banyak korban selamat gempa yang kehilangan harta benda dan butuh bantuan untuk memulai kembali kehidupan mereka. “Di daerah Yogyakarta ini saja masih banyak penyandang cacat yang belum terakomodasi, apalagi setelah gempa 27 Mei. Saya ingin berbagi ilmu dan pengalaman saya dengan mereka karena saya ingin, kami para penyandang cacat ini sejajar dengan orang-orang normal lainnya,” ujar Tarjono.

Saat ini, Yayasan Penyandang Cacat Mandiri telah memiliki 55 karyawan yang hampir semuanya adalah penyandang cacat fisik. Mulai dari produksi, administrasi, hingga keuangan, semuanya ditangani oleh karyawan yang difabel secara fisik. Tarjono yang menjabat sebagai manajer mempunyai dua lokasi workshop, yaitu di Jalan Parangtritis KM 7,5 dan di Jalan Prangtritis KM 9.

Pekerja baru diwajibkan untuk mengikuti pelatihan terlebih dahulu tentang cara bekerja orang difabel. Para pekerja baru ini wajib tinggal di asrama yang sudah disediakan yang berada dalam satu bangunan yang sama dengan tempat workshop Mandiri Craft. Selain diperuntukkan bagi pekerja yang masih dalam tahap pelatihan, asrama ini juga diperuntukkan bagi para pekerja yang berasal dari luar kota.

Produk yang paling diminati dan sudah menjadi semacam trademark bagi Mandiri Craft adalah produk mainan kayu edukatif. Selain itu, mereka mulai memperbanyak variasi produk kerajinan mereka. Jika dulu hanya sebatas produk kerajinan untuk edukasi, kini beberapa produk rumahan seperti hiasan rumah dan peralatan rumah lainnya juga mulai diproduksi.

Omzet per bulan mereka saat ini menurun menjadi sekitar 30 juta. Padahal sebelumnya, omzetnya bisa mencapai ratusan juta. Omzet ini berasal dari pasar luar negeri dan dalam negeri. Pasar luar negeri mereka saat ini adalah Palang Merah Internasional, Jerman, Jepang, dan Belanda. Sedangkan pasar dalam negerinya  adalah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Sumatera. “Ke depannya kami terus mengembangkan dan berinovasi terhadap prosuk kami. Selain mengembangkan produk baru selain mainan edukatif, kami juga berinovasi dalam hal desain dan bentuk produk-produk baru yang akan kami produksi. Kami akan mulai mengikuti kemuan dan permintaan pasar saat ini,” jelas Tarjono mantap.

Kini, keinginannya adalah memperluas jangkauan pasar dan mempekerjakan sebanyak mungkin orang yang senasib dengan dirinya, yaitu orang-orang difabel. Ia ingin mereka mendapat perlakuan dan penghidupan yang layak seperti orang normal lainnya. “Seharusnya orang-orang difabel seperti saya ini punya hak juga untuk mendapat pekerjaan seperti orang-orang normal lainnya. Dalam undang-undang juga ada. Tapi pada realitasnya kami tetap saja dipandang sebelah mata, hanya dipandang sebagai beban keluarga, beban masyarakat, beban pemerintah. Maka dari itu saya ingin mengubah semua itu,” uajrnya lantang.

2.1

Raut muka cerah tampak di wajah Sawiji, salah satu pekerja di workshop Mandiri Craft. Hal yang membuatnya ceria adalah karena ia bekerja bersama teman-teman yang juga memiliki kesamaan nasib dengannya, yaitu sama-sama memiliki cacat fisik. Suasana kerja yang nyaman dan kekeluargaan membuat semua pekerjaan yang berat pun terasa ringan. 

Sawiji berasal dari Sragen. Ia mulai bekerja di Yayasan Mandiri Craft sejak tahun 2006. Pria yang berusia sekitar 40-an tahun ini belum memiliki istri maupun anak. “Saya sangat senang bisa bekerja di sini karena banyak teman yang senasib dengan saya. Saya jadi tidak pernah merasa minder lagi setelah berada bersama-sama mereka,” ungkapnya dengan mantap.

Siang itu Sawiji bekerja di bagian perakitan bersama tiga orang teman lainnya. Tugas mereka adalah merakit bagian-bagian dari mainan edukatif yang telah melewati tahap pengecatan. Tingkat kesulitan bagian perakitan ini tergantung dari besar kecilnya bentuk mainan edukatif tersebut. Semakin kecil mainan, semakin rumit dan butuh ketelitian lebih bagi mereka untuk merakitnya.

Selain bagian perakitan, terdapat bagian-bagian lain dalam tahapan produksi di Mandiri Craft ini. Dari tahap awal seperti pemotongan kayu, pembentukan, perakitan awal, lalu penghalusan atau pengamplasan, lanjut ke tahap pengecatan, perakitan akhir dan pengetesan produk.

Tahapan produksi yang menggunakan mesin adalah tahapan pemotongan kayu, pembentukan kayu dan profiling kayu. Di sini beberapa pekerja bekerja di dalam ruang yang besar dan beratap tinggi, sehingga tidak ada kesan sesak walaupun mereka bekerja dengan mesin-mesin besar yang hampir semuanya memiliki stiker bertuliskan ‘Handicap International’ dan ‘Japanese Red Cross Society’. “Pembagian kerja menurut bidangnya masing-masing ditentukan oleh skill mereka selama pelatihan dan juga jenis cacat fisik mereka. Jadi setiap pekerja akan enjoy dan merasa nyaman dengan bidang atau salah satu bagian produksi yang mereka kerjakan,” jelas Tarjono Slamet.

Tiap tahapan produksi dikerjakan oleh lebih dari satu orang. Salah satu tahapan produksi yang paling banyak pekerjanya adalah tahap penghalusan atau pengamplasan. Di tahapan ini ada 11 pekerja yang duduk memutari meja panjang dan menggesek-gesekkan amplas di tangan mereka pada produk kayu yang telah dibentuk. Bagian produksi ini terletak di halaman belakang workshop, menyatu dengan pagar beton workshop dan dipayungi seng dan juga rimbun pohon halaman belakang. Di beberapa sudut terdapat beberapa kruk penyangga yang disandarkan dan beberapa kursi roda.

Tempat pengamplasan tersebut merupakan salah satu lokasi produksi yang paling ramai dengan berbagai obrolan dan celoteh khas masing-masing pekerja. Ada yang berbicara tentang acara di televisi, politik, sampai ke hal-hal yang cukup berbobot seperti hukum.

Aktivitas kerja di tempat ini berlangsung dari jam delapan pagi sampai jam lima sore. Setelah itu para pekerja pun bebas beraktivitas. Setelah bekerja seharian, Sawiji biasanya melepas lelah dengan menonton televisi. “Kalau acara favorit saya di sini bersama teman-teman ya nonton TV setelah kerja. Yang paling sering ditonton ya kalau nggak berita ya sinetron, kadang nonton pertandingan sepak bola. Kadang juga kami jalan-jalan atau nganter teman yang pulang ke daerahnya masing-masing, karena di sini juga ada beberapa motor yang bisa kami gunakan bareng-bareng,” ujar Sawiji.

Motor yang dimaksud oleh Sawiji adalah motor yang memang sengaja dirancang dimodifikasi agar dapat digunakan oleh orang yang memiliki cacat fisik. Kebanyakan dari motor tersebut memiliki tiga roda dan beberapa lainnya dibuat dengan sespan di sampingnya. Kenikmatan dalam kebersamaan hidup membuat mereka merasa normal kembali. Mereka tidak butuh keajaiban untuk menjadi “normal”. Seperti kata Albert Einstein, there are two ways to live your life. One is a though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle.

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *