Untitled-1

Amadeus

Tulisan oleh Giras Pasopati

Hari ini akan menjadi awal hari-hari yang berat di musim yang dapat membuat tulang-tulangmu terasa membeku seperti es batu. Setidak-tidaknya setiap orang akan berjalan lebih berat dan tampak menjadi dua kali lebih besar daripada biasanya karena jaket dan mantel musim dingin yang mereka pakai. Tapi hari-hari yang berat itulah yang malah membuat wajah kota Praha menjadi lebih indah. Bahkan dari kota manapun di dunia.

“Ah, lagi-lagi aku yang menjadi tumbal atas keindahan kota Bohemian ini. Seharusnya turis-turis itu tahu yang mereka nikmati memerlukan pengorbanan yang tidak mereka pikirkan,” gumam Rudolf dalam hati

Bagi Rudolf, hari-harinya mungkin menjadi lebih berat dibanding hari-hari siapapun di Praha. Setidaknya membuat segalanya lebih tidak menyenangkan. Jari-jarinya akan lebih kaku saat memencet senar-senar biola, siku tangannya akan lebih mudah kram saat menggesekkan bow atau busur biola. Kakinya akan terasa sangat berat dan lesu menopang tubuhnya di tengah butiran salju yang berjatuhan.

Tapi apalagi hal yang lebih indah dari musim dingin dan bunyi gesekan biola yang mengalun di jalanan kota Praha? Ini adalah perpaduan luar biasa antara visualitas dan musikalitas. Seharusnya pengamen-pengamen jalanan seperti Rudolf ini mendapat penghargaan dari Dewan Kota Praha, karena merekalah roh keindahan Praha di musim dingin, merekalah not-not indah dalam partitur berjudul Praha.

Namun ada satu hal yang membuat Rudolf tetap bersemangat mengamen di jalanan Praha pada musim dingin ini. Bukan karena jumlah turis yang makin bertambah dan menambah penghasilannya, tetapi karena ada seorang wanita misterius yang selalu membuat hatinya bertanya-tanya. Wanita yang selalu melewatinya di Jumat malam dengan wajah menunduk sambil berjalan. Wanita yang berlalu bagai hembusan angin dengan rambut pirangnya yang terurai. Wanita yang selalu menaruh uang minimal 100 Koruna pada koper biolanya!

“Aku tak sabar untuk menanti hari Jumat, akan kualunkan lagu terbaikku untuknya. Lagu yang sudah kuciptakan khusus untuk yang terindah di kota Praha!” gumamnya lagi sambil menyikat giginya.

“Tok, tok, tok…” tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar apartemennya.

“Siapa? Tunggu sebentar,” ujar Rudolf sambil bersiap diri.

“Ini aku, Marek,” ujar seseorang di balik pintu.

“Oh, ternyata kamu, ada perlu apa di hari sepagi ini Marek? Bukankah hari ini kamu tak bisa belajar biola?” tanya Rudolf kepada Marek.

Marek adalah tetangga apartemennya, umurnya sekitar 11 tahun. Ia tinggal bersama ibunya, Ivana yang bekerja di klub malam. Ibunya seorang pecandu. Marek tak pernah melihat ayahnya semenjak ia lahir.

“Lagi-lagi ibuku membawa pria asing. Bolehkah aku di sini seharian ini Rudolf?” jawab Marek bernada lemas.

“Tentu saja, masuklah Marek, buatlah dirimu senyaman mungkin. Aku akan membuatkan roti panggang untukmu. Oh ya, kau mau jus jeruk atau susu?” ujar Rudolf menenangkan.

“Jus jeruk saja, tampaknya jus jeruk akan membuatku lebih bersemangat hari ini,” timpal Marek.

Marek lantas menjatuhkan dirinya di sofa kecil, matanya memutari seluruh ruangan. Kemudian lewat jendela di sampingnya ia melihat butiran salju yang berjatuhan berirama. Butiran salju yang putih bersih, sangat kontras dengan kondisi kamar Rudolf dan kamar-kamar lain di apartemen ini. Bercak-bercak di dinding, pintu dengan kayu yang sangat tua dan kusam, yang selalu berdecit saat dibuka menjadi salah satu ciri khas interiornya. Ya, kawasan tempat tinggal mereka adalah sisi gelap kota Praha dengan segala keindahan dan kemegahan ala Bohemia-nya.

Bau wangi khas roti yang terpanggang tiba-tiba memenuhi ruangan. Lantas diikuti dengan harum kopi yang diseduh dengan air yang amat panas, yang bisa melelehkan bekunya hari yang bersalju. Marek mengambil biola Rudolf yang diletakkan di atas sebuah kabinet di pojok ruangan. Sejenak dipandanginya biola yang tampak sangat tua itu, lantas ia mulai menggesekkan bow ke senar-senar biola.

“Permainanmu semakin memperlihatkan kemajuan Marek,” ujar Rudolf sambil menaruh beberapa roti panggang.

“Terima kasih Rudolf, aku akan terus berlatih agar bisa menjadi sepertimu,” timpal Marek.

“Kenapa seperti aku? Kau harus lebih hebat dan sukses dalam bermusik, kau akan menulis partitur-partitur hebat seperti Wolfgang Amadeus Mozart!” balas Rudolf menyemangati.

“Siapa itu Wolfgang Amadeus Mozart?” tanya Marek.

“Dia adalah seorang maestro musik. Bahkan dia mampu menciptakan komposisi musik saat berumur 5 tahun!” seru Rudolf menyemangati.

“Wow, dia pasti orang yang sangat pintar dan hebat dalam bermain musik,” sahut Marek terkagum.

“Lebih dari pintar, dia jenius!” timpal Rudolf.

“Baiklah! Aku akan berusaha menjadi seperti Wolfgang Amadeus Mozart!” ujar Marek bersemangat.

Rudolf tersenyum melihat semangat Marek, dalam pikirannya terngiang bagaimana dulu ia juga bercita-cita ingin menjadi musisi hebat seperti Mozart setelah mendengar cerita dari kakeknya. Cerita yang sama persis ia ceritakan kepada Marek. Tapi segala sesuatu memang tak selamanya menjadi seperti yang diinginkan. Pernah ia ikut menjadi pemain biola dalam suatu orkestra, tapi persaingan antar orkestra membuat orkestra tempat Rudolf bermain menjadi tidak laku dan akhirnya bubar. Eropa adalah Colosseum bagi orkestra dunia.

Kadang ia merasa kecewa dengan dirinya, di usianya yang menginjak 30 tahun ia merasa kosong. Ia sering merasa hidupnya tidak memiliki banyak arti. Dan bermain biola adalah satu-satunya obat ketika pikirannya sedang kacau. Nada-nada minor cocok dengan suasana hatinya ketika sedang tertekan atau sedih.

“Kota ini memang indah, dengan segala kemegahan dan kekejamannya. Gedung-gedung megah dan bangunan artistik itu sangat kontras dengan makin banyaknya tunawisma di kota ini. Kau memang indah, Praha,” gumam Rudolf melankolis.

“Hari ini kau akan bermain di mana, Rudolf?” tanya Marek mengagetkan lamunan Rudolf.

“Oh, hari ini tampaknya aku akan mengamen di Karluv Most,” jawab Rudolf terkaget.

“Kukira kau akan ke Kota Tua hari ini, bolehkah aku ikut?” sahut Marek.

“Baiklah, kita akan berangkat sebentar lagi. Aku akan berganti baju dahulu,” ujar Rudolf sambil mengambil bajunya.

Mereka berdua lalu menuruni tangga apartemen dan keluar menuju pemberhentian bis di belokan dekat apartemen. Sebenarnya mereka bisa naik trem atau kereta subway, tapi dari apartemen mereka lebih dekat pemberhentian bis. Di perjalanan terlihat warna putih di mana-mana, salju yang menutupi trotoar, atap gedung, halaman rumah, dan lampu kota. Akhirnya, mereka sampai di Karluv Most.

Karluv Most atau yang lebih dikenal turis dengan nama Jembatan Charles adalah sebuah jembatan yang dibangun di abad 15, melewati sungai Vltava dengan tujuan menghubungkan Kota Tua dengan kastil di Hradcany. Jembatan ini dihiasi dengan tiga puluh patung kuno santo-santo, walaupun kebanyakan darinya kini adalah replika. Yang paling terkenal adalah patung Santo John dari Nepomuk. Banyak yang percaya, orang bakal beruntung jika dapat menemukan dan menyentuh dua bagian di patung ini. Cara mencarinya mudah, bagian tempat untuk disentuh lebih berkilau dari bagian lain karena telah sering disentuh.

“Hey, lihat itu Rudolf! Pemain saxophone itu dikerubungi pengunjung!” ujar Marek sambil menunjuk.

“Oh, itu Alexei. Dia memang pemain saxophone yang pintar menarik perhatian. Permainannya atraktif,” jawab Rudolf.

Para turis terlihat antusias melihat permainan Alexei, gaya permainannya memang atraktif dan terlihat sangat menjiwai. Komposisi dari pemain saxophone kelas dunia seperti Kenny G dan Dave Koz bisa ia mainkan dengan sangat atraktif. Turis-turis asing terpukau dengan permainannya, apalagi dengan gayanya yang flamboyan itu. Beberapa dari mereka asyik mengabadikan penampilan Alexei dengan kamera.

Dengan setelan jas warna putih dan sepatu kulit mengkilat warna krem, ditambah kilau rantai emas di kalungnya, Alexei mencuri perhatian seisi jembatan. Bahkan menurut kabar yang didapat Rudolf dari musisi jalanan lain,  Alexei sering mengencani turis-turis asing atau juga menjadi semacam pria panggilan bagi turis-turis wanita. Maka itu di kalangan musisi jalanan ia dijuluki Si Ular Putih karena tingkah lakunya yang sering menggoda turis.

“Ayo kita beri perlawanan padanya Rudolf!” seru Marek tiba-tiba bersemangat.

“Ah, anak ini jadi ikut-ikutan gila seperti Si Ular Putih itu,” gumam Rudolf sedikit kesal.

“Sudahlah Marek, tak usah hiraukan dia. Setiap orang memiliki gaya dan ciri khas masing-masing. Kadang kita tak perlu nafsu dan saling mengejar,” ujar Rudolf menimpali Marek.

“Tapi kau harus menunjukkan permainan terbaikmu Rudolf! Aku ingin turis-turis itu tahu bahwa kau tidak kalah hebatnya dengan Alexei!” seru Marek membalas.

“Baiklah, lebih baik kau lihat saja aku dan cobalah menarik perhatian turis-turis asing,” kata Rudolf.

“Beres!,” seru Marek

Rudolf mempersiapkan dirinya, dia mengambil tempat di antara patung Santo Luthgard dan Santo Adalbert. Dia memulai komposisi pertamanya, yaitu komposisi biola dari lagu John Lennon yang terkenal yang berjudul “Imagine”. Lagu itu sudah menjadi lagu pamungkasnya untuk menarik turis-turis asing selama beberapa tahun ini. Menurutnya lagu itu memiliki kekuatan yang universal, apalagi dengan nama John Lennon sebagai penciptanya, pasti turis manapun mengenal lagu itu.

Turis-turis mulai berdatangan dan melemparkan Koruna demi Koruna ke dalam koper biola Rudolf. Dua turis asal Jepang terbawa suasana, menggelengkan kepala mereka mengikuti irama gesekan biola Rudolf. Yoko Ono memiliki andil besar dalam hal ini. Marek yang semenjak awal sudah menari-nari untuk menarik perhatian akhirnya kelelahan setelah misinya tercapai. Ia lalu duduk disamping Rudolf dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mengikuti irama.

Tak terasa sore telah tiba, butiran salju mulai berjatuhan lagi dari langit dan disusul oleh hembusan angin yang membikin ngilu tulang. Rudolf dan Marek akhirnya berkemas, takut terjadi hujan salju yang lebih lebat. Walaupun mereka tak bisa mengalahkan Alexei, namun bagi mereka hasil hari itu sudah lebih dari cukup. Mereka segera berlari, menuju kedai kopi terdekat.

Pagi hari muncul lagi, kali ini Rudolf tampak sangat bersemangat walaupun ia bangun agak kesiangan. Tapi apalah arti kesiangan bagi seorang musisi jalanan seperti dirinya. Apalagi hari ini dia tidak berniat untuk mengamen di Karluv Most. Ada banyak alasan untuk hal itu di hari ini. Yaitu karena hari ini ia akan memainkan lagu ciptaannya untuk yang pertama kali. Karena hari ini ia akan memakai baju terbaiknya. Karena hari ini hari Jumat!

Siang itu ia habiskan untuk berlatih dan mencari-cari pakaian yang cocok untuk hari itu. Lemarinya sudah berantakan, pakaiannya berserakan dimana-mana. Setelah menemukan yang cocok, ia kemudian bergegas mandi karena hari sudah sore. Kali ini butuh waktu cukup lama baginya untuk mandi dan berdandan. Setelah semuanya siap ia langsung bergegas pergi, kali ini Marek tidak ikut bersamanya. Di malam hari tak ada yang bisa mengganggunya untuk menonton TV.

Tempat mengamen malam Sabtu adalah di perpotongan jalan Dusni dan jalan U Milosrdnych. Oleh karena itu di otaknya ada suatu keyakinan bahwa wanita yang menjadi misteri itu adalah seorang perawat yang bekerja di rumah sakit yang berada dekat dengan jalan itu.

“Wanita itu pastilah seorang perawat. Hanya perawat yang memiliki kharisma dan jiwa yang teduh karena kebiasaannya merawat orang yang sakit. Dan kalaupun itu benar, mungkin baginya aku ini orang sakit,” gumam Rudolf

Setelah menemukan tempatnya, Rudolf mulai mempersiapkan diri dengan membuka koper biola dan melemaskan jemarinya. Satu dua lagu mulai dimainkannya. Para pejalan kaki yang hilir mudik membuat kopernya kian penuh kali ini. Namun wanita misterius itu tak kunjung lewat juga.

“Ah, mungkin sebentar lagi dia lewat. Aku harus lebih bersabar. Semua ini tak boleh menjadi sia-sia,” gumamnya lagi.

Malam semakin pekat, namun wanita itu tak juga melintas. Malahan berdiam di pikiran Rudolf. Membuat Rudolf menerka-nerka, kenapa ia tak juga lewat? Apakah ia sakit? Atau terjadi sesuatu yang buruk? Akhirnya Rudolf pun pulang dengan hati hampa.

“Tok… tok… tok…” terdengar suara ketukan pintu.

“Rudolf, bangun Rudolf….! Ada surat untukmu,” suara Marek menyeruak kemudian.

Dengan separuh kesal Rudolf bangun. Sudah pastilah kekesalannya diakibatkan oleh malamnya yang buruk. Separuh matanya masih terpejam saat membuka pintu dan menerima surat dari Marek. Rambutnya tak karuan bentuk.

“Dari siapa?” tanya Rudolf dengan mata yang separuh terpejam.

“Aku tak tahu. Seorang wanita memberikannya padaku. Dia bilang ini untuk Rudolf,” jawab Marek.

“Seorang wanita? Bagaimana ia bisa tahu namaku pula?” tanya Rudolf lagi.

“Aku tidak tahu, mungkin ia temanmu dulu,” jawab Marek.

Rudolf mengakhiri pertanyaannya dengan menutup pintu. Namun dalam otaknya pertanyaan itu belum berakhir. Dengan hati-hati ia membuka amplop dan membaca suratnya. Seketika itu raut mukanya berubah.

Untuk Rudolf,

Malam itu kau pasti menungguku. Maafkan aku, aku tak bisa mendengarkan permainan biolamu malam itu. Mulai malam itu aku berganti shift jaga sebagai perawat. Aku merasa sedih dan berhutang 100 Koruna kepadamu. Maka itu dengan surat ini aku ingin membayar hutangku kepadamu. Temui aku pukul 19.00 malam ini di restoran Michal.

Irenka

NB : Aku mengetahui nama dan alamatmu dari Alexei

“Kali ini kau penyelamatku Alexei. Ternyata bagiku kau ada gunanya,” ujar Rudolf dalam hati yang berseri-seri.

Kali ini Rudolf tampak seperti orang gila. Dengan rambut yang acak-acakan ia terus saja tersenyum sendiri. Dipandangi dan dibacanya terus surat itu sambil tersenyum.

Dan ketika ia terus saja memandangi surat itu, sayup-sayup terdengar suara biola dari kamar Marek. Dan semakin lama terdengar seperti “Cosi Fan Tutte”, simfoni cinta buatan Wolfgang Amadeus Mozart.

“Ah, tak mungkin anak itu memainkan Mozart,” gumam Rudolf.

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *