Lukisan wayang Beber. Cerita perjuangan cinta Panji dan Dewi Candra Kirono. (Irene Kanalasari)

Semedi Cakra Jawata Aji

Cerita oleh Karina Octavia & Irene Kanalasari
Foto oleh Irene Kanalasari

Kisah cinta Romeo dan Juliet karya Wiliam Shakespeare yang legendaris menjadi kisah cinta yang penuh perjuangan dan berujung tragis, sudah dikenal dan sangat populer di seluruh dunia. Indonesia sendiri mempunyai kisah cinta yang tak kalah menarik untuk dinikmati yaitu kisah cinta Panji Asmarabangun (Raden Inu Kertapati) dan Dewi Candra Kirono (Galuh Sekartaji), yang merupakan cerita asli milik bumi Nusantara, yang tidak hanya dinikmati lika-liku percintaannya, namun juga filosofi-filosifi yang dapat dipelajari.

Kisah cinta dua sejoli dari Kerajaan Jenggala dan Kediri inilah yang dituangkan secara apik dan menawan dalam lukisan Wayang Beber yang dipertunjukkan atau digelar. Sayangnya, wayang ini memiliki pamor yang kalah rendah dibandingkan dengan wayang-wayang yang lain karena berbagai faktor. Langkanya keberadaan wayang ini yang membuat seorang seniman Wayang Beber bernama Trias Indra Setiawan yang akrab dipanggil Indra mendirikan museum Wayang Beber yang diberi nama Museum Wayang Beber Sekartaji, yang terletak di Dusun Kanutan RT 08, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul. Museum ini didirikan pada tanggal 1 Oktober 2017.

‘Beber’ sendiri dalam bahasa Jawa berarti ‘digelar’. Kata ‘beber’ inilah yang menjadi pembeda wayang yang diyakini sebagai yang tertua di Pulau Jawa dengan wayang lain yang sering dipentaskan. Jika pada umumnya tokoh dalam pewayangan akan dibentuk dengan kulit hewan, hal ini berbeda dengan wayang beber. Tokoh dalam wayang beber akan digambar dalam gulungan kulit yang nantinya akan ‘dibeber’ atau digelar ketika pertunjukkan dalam satu kesatuan lukisan.

Pementasan Wayang Beber bisa dinilai cukup sederhana dibanding dengan wayang pada umumnya. Pada ujung awal dan akhir wayang akan dipasang tongkat yang kemudian diletakkan pada semacam penyangga, sehingga akan terbentuk sebuah layar yang terbuat dari Wayang Beber. Ketika pertunjukkan dimulai, dalang akan memutar tongkat tersebut secara perlahan sembari bercerita. Wayang Beber yang hingga saat ini masih eksis berada di Pacitan, Jawa Timur, mengisahkan tentang Jaka Kembangkuning. Sementara Wayang Beber yang berada di Wonosari, Gunung Kidul, mengisahkan tentang Remang Mangunjaya. Meskipun berbeda cerita, namun pada muaranya sama, yaitu cerita Panji .

Menurut penuturan Indra, pagelaran Wayang Beber memang terlihat lebih sederhana, namun tetap memerlukan dana yang tidak sedikit dan ada beberapa ritual yang harus dilakukan seperti menyiapkan sesajen hingga menyembelih kambing. Hal ini bukan tanpa alasan karena pada jaman kerajaan, pementasan Wayang Beber adalah hal yang sangat sakral bagi masyarakat. Ketika akan diadakan pembukaan hutan, pengusiran roh jahat, hingga proses penyembuhan, Wayang Beber akan dipentaskan.”Bahkan dulu untuk mengalahkan Ki Ageng Mangir, penguasa Majapahit yang terkenal sakti mandraguna, Wayang Beber yang menjadi mata panah,” tambah pria yang dulu merupakan alumnus Universitas Atma Jaya.

Trias Indra Setiawan. (Irene Kanalasari)
Trias Indra Setiawan. (Irene Kanalasari)

Eksistensi Wayang Beber di tengah masyarakat memang kalah pamor akibat adanya larangan pertunjukan di beberapa tempat karena dianggap sebagai penyembahan berhala. Karenanya, di kalangan masyarakat bangkitlah wayang yang sekarang ini kita kenal, yaitu Wayang Purwo. Padahal bila ditelaah lebih lanjut, dibandingkan wayang yang lain, Wayang Beber menyajikan cerita asli milik Bumi Nusantara sendiri, yang seyogyanya dijaga sebagai kekayaan bangsa yang tak ternilai.

Wayang beber memiliki keunikan-keunikan tersendiri dibandingkan wayang kulit kebanyakan yang banyak kita temui di masyarakat. Dalam pertunjukan wayang beber hanya terdapat kurang lebih lima jenis alat musik yang mengiringi pertunjukkan wayang beber dan yang menjadi kunci kesuksesan dalam pertunjukan adalah suara dalang yang sangat mendominasi yang menjadikan pertunjukkan menjadi menarik. “Kalau mau pertunjukkan biasa dalang akan semedi dulu, minta petunjuk, agar benar-benar bisa menghayati pertunjukkan,” tandas Indra. Hal unik lain dari Wayang Beber adalah adanya gulungan cerita yang dirahasiakan dari publik, seperti cerita Joko Kembang Kuning yang berada di Pacitan, Jawa Timur. Cerita ini tersimpan dalam enam gulungan yang masing-masing gulungan mengandung empat episode. Episode terakhir dari kisah ini tidak boleh dibuka hingga sekarang yang mitosnya konon bisa menimbulkan bencana besar jika dilanggar.

Museum yang dirintis Indra merupakan buah kerja kerasnya dalam melestarikan Wayang Beber. Sekartaji yang merupakan nama museum ini menandakan sebuah sengkalan atau penanggalan. Hal ini bukan tanpa alasan. Menurut Indra, orang Jawa pada jaman dahulu selalu memberi nama sesuatu dengan  menggunakan penanggalan. Sekartaji dapat dijabarkan menjadi Semedi Cakra Jawata Aji yang mengandung arti 1591 dalam penanggalan Candra Sengkala (penanggalan bulan/Tahun Jawa) atau dapat juga diartikan 2017 dalam penanggalan Surya Sengkala (penanggalan matahari/Tahun Masehi) yang menandakan berdirinya museum ini pada tahun 2017. Sekartaji sendiri juga adalah nama dari Galuh Sekartaji atau Dewi Candra Kirono, yang merupakan tokoh wanita dalam legenda cerita Panji.

Museum yang terletak di Ganjuran, Bantul ini memamerkan hasil karya maestro Wayang Beber bernama Hermin Istiariningsih, yang biasa dikenal dengan Mbah Ning. Pria yang berasal dari Solo, Jawa Tengah itu merupakan mentor Indra dan beberapa penggiat wayang lain. Indra sendiri memiliki sebuah lukisan Wayang Beber sepanjang 10 meter yang mengisahkan perjalanan cinta Panji dan Dewi Candra Kirono yang masih berada pada tahap pengerjaan.

Lukisan wayang Beber. Cerita perjuangan cinta Panji dan Dewi Candra Kirono. (Irene Kanalasari)
Lukisan wayang Beber. Cerita perjuangan cinta Panji dan Dewi Candra Kirono. (Irene Kanalasari)

Dalam perkembangannya lukisan wayang Beber tidak hanya menggambarkan cerita Panji, namun juga cerita-cerita asli Nusantara yang lain, misalnya Timun Mas dan Ande-Ande Lumut, yang jika ditelaah muaranya juga adalah sosok dari Inu Kertapati dan Galuh Sekartaji.

Lukisan wayang beber sangat rumit sehingga memerlukan waktu-waktu khusus dalam pengerjaannya. Lukisan wayang beber tidak hanya soal seni, namun juga tentang pengahayatan dan pergumulan hingga menghasilkan sebuah karya yang mengisahkan kisah-kisah asli Nusantara, yang bagi pengrajin dan senimannya sendiri adalah pergolakan batin tersendiri sehingga mereka memerlukan ketenangan dan suasana yang tepat hingga bisa menciptakan satu karya lukisan wayang beber yang bisa dinikmati oleh orang lain.

Di tengah segala keterbatasan merintis museum Wayang Beber Sekartaji dari nol, Indra memiliki cita-cita yakni agar warisan luhur dan kekayaan asli bangsa Indonesia ini dapat dinikmati dan mudah diakses oleh umum dari kalangan manapun, agar eksistensi Wayang Beber tidak lekang oleh jaman yang semakin maju. Wayang Beber harusnya mengikuti namanya, senantiasa dibeberkan, digelarkan, dipertunjukan sebagai sarana penyampai pesan kepada orang lain tentang budaya dan tradisi bangsa yang harusnya dijaga.

Ketika ditanya tentang respons pemerintah akan keberadaan museum Sekartaji ini, Indra tersenyum kalem dan menjawab dengan rendah hati bahwa dia bersyukur menjadi orang Jogja, yang ramah budaya dan tidak apatis terhadap semangat warganya yang ingin melestarikan warisan bangsa. “Saya nggak nyangka kalau kecintaan saya pada Wayang Beber bisa dilirik pihak pemerintah, bahkan langsung ditawari untuk membuka museum sendiri.” Baginya, pemberian ijin mendirikan museum dan peresmian Museum Sekartaji oleh pemerintah saja sudah lebih dari cukup karena mempermudah langkahnya untuk mewujudkan cita-citanya mendirikan museum Wayang Beber yang dibuka untuk umum. Dukungan moril dari pemerintah jauh lebih berharga dibandingkan dukungan materiil.

Indra sebagai seorang seniman sekaligus pelestari wayang Beber berharap agar kita generasi jaman ini lebih peduli dan peka terhadap kebudayaan asli bangsa kita yang perlahan mulai dikikis pengaruh globalisasi. Ia mengatakan bahwa antara masa lalu dan masa yang akan datang harus ada jembatan, yang menghubungkan nilai-nilai dan kekayaan masa lalu agar terus hidup dan menjadi pegangan generasi berikutnya, yaitu lewat kepedulian terhadap warisan leluhur.

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *