Foto-foto jadul Warung Jampi Asli

Segenggam Ramuan Jampi

Cerita oleh Misericordias Domini & Leonardus Rama
Foto oleh Leonardus Rama

Belum sempat matahari muncul, salah satu rumah toko (ruko) di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta sudah ramai pengunjung. Kebanyakan dari mereka para orang tua yang membawa serta anak-anak mereka. Ruko tersebut tampak cukup sederhana, bangunannya berbentuk seperti lorong memanjang, banyak kursi kayu panjang berjejer yang menjadi tempat bagi para pengunjung untuk mengantri. Sebuah plang penanda nama ruko bertuliskan “Jampi Asli“ terpampang jelas di atas pintu. Dalam bahasa Jawa, ‘jampi asli’ berarti ‘jamu asli’. Tampak juga papan dengan tulisan “jamu cekok kulon kerkop lama” terpasang di daun pintu sebagai penanda lokasi. “Kulon” merupakan bahasa Jawa dari “barat”, sementara “kerkop” sendiri berasal dari bahasa Belanda, yakni kerkhof yang memiliki arti “makam orang Belanda”. Konon, warung jamu ini dahulu memang berposisi di sebelah barat makam Belanda dengan jamu cekok sebagai jamu andalan mereka. Kata “lama” sendiri digunakan karena warung ini telah berpindah tempat ke bangunan baru yang mungkin pelanggan lama banyak yang belum mengetahuinya.

Sudah sejak tahun 1875 warung jamu ini berdiri, menjadikannya warung jamu legendaris di kota gudeg. Beraneka ragam jamu dijajakan di warung ini, kira-kira terdapat sekitar 29 jenis jamu yang terdaftar di dalam menu. Warung jamu ini didirikan oleh Kerto Wiryo dan sekarang dikelola oleh generasi kelima, Joni Wijanarko.

Setiap lima hari sekali, Joni beserta ayahnya Zaelali membeli bahan baku jamu di Pasar Beringharjo. Pasar ini memang berjarak tak jauh dari warung jamu mereka. Joni dan ayahnya memilih sendiri setiap bahan jamu. Mereka tak mau lantas hanya memesan bahan tanpa mengetahui kualitas atau menyerahkannya begitu saja pada orang lain. “Saya ingin memastikan setiap bahan jamu yang dibeli itu berkualitas untuk menjaga mutu dan citarasa jamu yang dihasilkan nantinya,” kalimat tersebut terlontar dari Joni sembari menyuguhkan segelas jamu.

Joni Wijanarko, generasi kelima warung Jampi Asli. (Leonardus Rama)
Joni Wijanarko, generasi kelima warung Jampi Asli. (Leonardus Rama)
Zaelali, generasi keempat Warung Jampi Asli. (Leonardus Rama)
Zaelali, generasi keempat Warung Jampi Asli. (Leonardus Rama)

Satu persatu pengunjung mengajukan keluhannya pada si tukang jamu. Dengan cekatan si tukang jamu langsung meramu jamu pesanan pelanggannya. Pelanggan terus berdatangan mulai dari lansia hingga balita. Terkadang terdengar samar suara tangisan anak meronta tak mau diberi jamu cekok. Jamu cekok merupakan jamu penambah nafsu makan. Jamu ini paling populer di antara jamu lain yang ditawarkan di warung ini.

“Cekok”, atau dalam istilah orang Jawa “dionthel”, dilakukan dengan cara bahan-bahan jamu yang diramu seukuran genggaman orang dewasa dimasukkan ke dalam kain atau sapu tangan kemudian dipaksakan dicekokkan agar cairan jamu masuk ke dalam mulut. Jamu ini diperuntukan bagi anak-anak berusia delapan bulan hingga dua tahun, serta disajikan dua jam setelah makan atau sebelum makan. “Jamu cekok ini muncul karena adanya perasaan prihatin orang tua melihat anak-anaknya yang sulit makan. Melihat keprihatinan para orang tua tersebut membuat Eyang Kerto berinisiatif membuka usaha warung jamu. Rasa jamu yang pahit membuat anak-anak tidak menyukainya, sehingga munculah metode cekok ini,” ucap Joni.

Agustus tahun 2000 merupakan masa-masa sulit yang dihadapi warung jamu ini yang membuat usaha  jamu ini hampir mati. Masalah sengketa lahan antar anggota keluarga harus mengorbankan sebagian lahan tempat warung jamu ini berdiri untuk dijual. Tak mau usaha jamu legendaris ini mati begitu saja, munculah ide untuk membuat sebuah tenda di dekat rumah yang berlokasi tepat di belakang lahan yang telah dijual. Hujan lebat dan angin kencang tidak membuat Joni menyerah untuk berjualan jamu di dalam tenda yang kecil itu.  Perubahan tempat ini hampir membuat mereka kehilangan pelanggan. Banyak pelanggannya seperti tak percaya melihat transformasi drastis yang dialami warung jamu ini.

25 Desember 2000 merupakan titik di mana warung jamu ini mengalami sebuah kebangkitan. Sedikit demi sedikit pondasi dibangun kembali. Atap yang yang semula berupa terpal, sudah menjadi atap yang utuh kembali. Tenda yang dulunya menjadi tempat berjualan jamu, sudah menjadi bangunan yang utuh. Walaupun hanya berupa lorong kecil, tetapi setidaknya ada tempat untuk menetap. Perlahan-lahan para pelanggan yang hilang, akhirnya kembali lagi setelah mengetahui warung Jampi Asli telah merombak penampilan.

Suasana warung ketika ramai pengunjung. (Leonardus Rama)
Suasana warung ketika ramai pengunjung. (Leonardus Rama)
Proses pemberian cekok kepada anak. (Leonardus Rama)
Proses pemberian cekok kepada anak. (Leonardus Rama)

Masalah dapur dan penyajian jamu, Joni menyerahkan semuanya kepada karyawanya. Sejak dari generasi pertama, pemilik warung jamu memang tidak pernah terlibat langsung dalam proses pembuatan jamu. Karyawan warung jamu ini berasal dari satu keluarga, turun temurun. Mereka sudah sangat paham meramu beragam jamu. Ruangan kecil di sudut rumah pemilik warung menjadi tempat pengolahan bahan-bahan jamu.

Tampak dua orang pegawai sedang mengolah bahan-bahan jamu. Aroma bahan-bahan jamu menyeruak memenuhi ruangan dapur tersebut. Terlihat banyak peralatan tradisional lawas masih digunakan dalam pembuatan jamu. Arang digunakan sebagai pengganti bahan bakar kayu untuk cita rasa agar tetap terjaga. Resep turun temurun masih menjadi andalan, tak ada perubahan di dalamnya. Keotentikan masih begitu terjaga baik dari segi resep maupun peralatan pembuatan jamu.

Kami sempat bercengkrama dengan Denok, salah satu karyawan yang telah bekerja kurang lebih 29 tahun di warung jamu ini. Ia berbagi pengalamannya ketika “mencekok”. Ia dilatih melakukan cekok oleh ibunya yang merupakan generasi pertama karyawan di warung jamu ini. Awalnya ia merasa takut untuk “mencekok” karena perasaan tidak tega dan takut membuat anak tersedak dengan metode yang memang bisa dibilang memaksakan. Namun, makin lama ia makin terbiasa untuk “mencekok”. Perasaan ketakutan pun telah hilang. Ia juga berbagi mengenai beberapa strategi “mencekok”, dimulai dari tangan berisi jamu yang tidak boleh terlihat langsung oleh si anak dengan cara posisi awal tangan di belakang tubuh si anak lalu di arahkan ke mulut. Kemudian jika si anak tidak membuka mulut, maka dilakukanlah metode memencet hidung sehingga anak mau membuka mulutnya.

Denok, Pegawai Warung Jampi Asli. (Leonardus Rama)
Denok, Pegawai Warung Jampi Asli. (Leonardus Rama)
Proses pengukusan bahan jamu. (Leonardus Rama)
Proses pengukusan bahan jamu. (Leonardus Rama)
Proses penumbukan bahan jamu. (Leonardus Rama)
Proses penumbukan bahan jamu. (Leonardus Rama)

Di balik kepopuleran warung Jampi Asli, tak ada strategi pemasaran khusus yang digunakan untuk mempromosikan warung jamu ini. Dengan kekuataan cerita dari mulut ke mulut dan testimoni para pelanggannya yang merasakan khasiat dari jamu buatan warung ini, menjadikan warung jamu ini populer bukan hanya bagi orang-orang lokal Indonesia saja tetapi juga menyedot perhatian orang-orang mancanegara. Di kala hari libur, warung jamu ini tampak begitu ramai dibanding hari kerja. Antrian pun panjang hingga keluar warung. Terdapat banyak warung jamu lain yang menyuguhkan beragam jamu yang sama dengan jamu yang ditawarkan oleh warung Jampi Asli, namun khasiat yang dirasakan dari mengonsumsi jamu buatan warung ini membuat para pelanggannya tetap setia.

Sebuah penghargaan di dalam kotak kaca dengan tali hijau menyimpul rapih terpajang di atas lemari yang berada di ruang tamu sang pemilik warung jamu. “Penghargaan Anugerah Budaya Pelestari Adat dan Tradisi”, begitulah yang tertulis pada penghargaan tersebut atas nama Zaelali. Sebuah piagam berwarna kuning juga tertempel di dinding warung tersebut. Piagam tersebut dianugrahkan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta kepada Zaelali sebagai penghargaan atas upayanya untuk melestarikan adat dan tradisi di Yogyakarta. “Kami tak pernah diberitahu masuk nominasi mendapat penghargaan dari gubernur. Tiba-tiba suatu hari kami mendapat panggilan untuk menerima penghargaan,” ujar Joni sembari meyunggingkan senyum di wajahnya.

Piagam penghargaan dan beberapa foto lawas Warung Jampi Asli. (Leonardus Rama)
Piagam penghargaan dan beberapa foto lawas Warung Jampi Asli. (Leonardus Rama)

Bagi Joni sendiri, warung Jampi Asli ini memberikan banyak manfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Selain sebagai sumber penghasilan keluarga, warung Jampi Asli ini menyimpan banyak sekali kenangan yang begitu membekas dalam dirinya. Merupakan sebuah kepuasan tersendiri yang Joni rasakan ketika dapat membantu orang lain melalui warung jamu ini, serta menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bisa melestarikan warisan leluhur.

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *