DSCF0439-01

Mengajar dari Hati

Cerita oleh Nadia Putri & Marcelinus Justian
Foto oleh Nadia Putri

Senja mulai menyelimuti kota Yogyakarta diiringi rintik-rintik hujan yang saling sahut-menyahut tanpa henti. Suara para lansia melantunkan tembang pangkur. Tepatnya di Jalan Rotowijayan No. 3, hanya berjarak 200 meter dari  alun-alun Utara Kota Yogyakarta, berdirilah Pamulangan Sekar (Macapat) KHP Kridha Mardawa Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tidak banyak yang tahu tentang keberadaan bangunan tua yang berdiri sejak 1960 ini.

Di sekolah macapat ini, terdapat tiga orang pengajar. Mereka adalah KMT Projo Suwasono, Mas Riyo Dwija Cipta Wandawa dan Mas Ngabehi Jaya Atmaja. Selain menjadi staff pengajar, mereka diberi amanat sebagai Abdi Dalem Keraton.“Tugas  kami dalam sekolah macapat ini adalah mengajarkan siswa agar bisa nembang  satu naskah dengan harapan mereka bisa nembang naskah-naskah yang lain dan bisa mempraktekkannya diluar,” sahut Projo.

Sosok abdi dalem Kanjeng Mas Tumenggung Projosuwsono (67) sedang berlatih macapat sembari menunggu muridnya datang. (Nadia Putri)
Sosok abdi dalem Kanjeng Mas Tumenggung Projosuwsono (67) sedang berlatih macapat
sembari menunggu muridnya datang. (Nadia Putri)

Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa yang dinyanyikan. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra,  setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Tembang  biasanya dibagi menjadi tiga kategori: tembang cilik, tembang tengahan dan tembang gedhé. Di sekolah macapat ini diajarkan 11 tembang macapat diantaranya Mijil, Kinanthi, Sinom, Asmarandhana, Gambuh, Dhandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, Pocung dan Maskumambang.

“Orang setelah belajar macapat, mereka mengetahui bahwa di dalam tembang-tembang ini terdapat nasihat-nasihat, perintah, larangan,” kata Projo. Tidak bisa pungkiri bahwa di dalam  tembang macapat terkandung nilai-nilai luhur yang digambarkan dalam setiap perwatakan 11 tembang macapat. Menurutnya, tembang macapat mampu menggambarkan kehidupan manusia dari lahir sampai mati bahkan sebelum lahir dan setelah mati.

Beberapa murid terlihat sedang berlatih macapat untuk persiapan lomba bulan Mei mendatang. (Nadia Putri)
Beberapa murid terlihat sedang berlatih macapat untuk persiapan lomba bulan Mei
mendatang. (Nadia Putri)
Salah satu murid Rama Projo yang telah berusia senja namun terus belajar untuk melestarikan budaya Jawa. (Nadia Putri)
Salah satu murid Rama Projo yang telah berusia senja namun terus belajar untuk
melestarikan budaya Jawa. (Nadia Putri)

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah daerah yang sangat memperhatikan pelestarian kegiatan macapat. Hal itu terlihat dari serangkaian kegiatan macapat yang dilaksanakan dari tingkat provinsi hingga RT/RW. Tantangan yang dihadapi dari penyelenggaraan kegiatan macapat di Provinsi DIY adalah kurangnya peserta. Projo menyadari bahwa belajar macapat berasal dari kebutuhan diri sendiri. “Macapat itu bukan konsumsi anak-anak muda, tidak seperti menyanyi,” tambahnya.

Menurutnya ada dua cara agar anak  muda tertarik untuk mengikuti kegiatan macapat. Pertama, diadakan perlombaan macapat di berbagai tingkat provinsi hingga RT/RW. Kriteria penilaian perlombaan macapat sendiri adalah dasar suara, teknik pembawaan tembang dan penampilan (cara berpakaian, cara berjalan, dsb). Kedua, diadakan sarasehan  yang mengambil topik tentang pelestarian macapat.

Terdapat tiga kategori kelas yang berbeda di sekolah macapat ini. Kelas anak-anak (Senin dan Kamis), kelas dewasa (Selasa dan Jumat) dan kelas lansia (Rabu dan Sabtu). Waktu belajar dari ketiga kategori kelas ini sama yaitu jam 15.30-17.30 WIB. Alasan pembedaan kategori kelas adalah cara penyampaian pembelajaran menembang yang berbeda-beda untuk tiap umur. Sebagai lembaga resmi, sekolah macapat berada di bawah Kawedanan Ageng Punakawan Kridha Margawa yang dibina oleh GBPH Yudhanigrat. Kawedanan Ageng Punakawan merupakan lembaga keraton yang mengurusi hal-hal berbau kesenian di keraton.

Semua biaya operasional telah diatur oleh Keraton sehingga bersekolah disini tidak dipungut biaya. Para staff pengajar pun hanya bermodalkan rasa ikhlas dan kesabaran untuk berbagi ilmu. “Ini semata-mata ingin melestarikan dan mengembangkan macapat, tidak ada ambisi mendapatlan materi,” ungkap  Projo. Tujuannya hanya satu yaitu melestarikan macapat yang mulai luntur di jaman sekarang ini.

 

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *