Fadholi dan Suwiwati, pasangan suami istri yang berasal dari etnis yang berbeda. (Antonius Dian)

Merajut Toleransi, Sebuah Roman dari Tiongkok Kecil

Cerita oleh Laurensius Bagus
Foto oleh Antonius Dian

Minggu terakhir di bulan Januari, tepatnya tanggal 27 tahun 2017, kalimat itu terucap dari mulut Gus Zaim. Miwiti yang dalam Bahasa Indonesia berarti ‘memulai’ atau ‘mengawali’ adalah bukti bahwa toleransi di Lasem sudah berabad-abad lamanya. Menurut penuturan Gus Zaim, sejak tahun 1950 hingga sekarang ajaran tentang toleransi mulai dari perjuangan kaum Tionghoa, Muslim, dan pribumi tetap dijaga dan dilestarikan. “Semua pedoman kita pegang kokoh, melalui cerita turun-temurun, karena itu bagian dari kearifan lokal,” ujarnya. Salah satu kisah toleransi di Lasem adalah perkawinan silang yang telah terjadi sejak pedagang Tionghoa mendarat dan menginjakan kaki di kota kecil ini. “Dalam sejarah sudah disebut, Tionghoa yang datang ke Indonesia itu umumnya lelaki, otomatis kalau di Indonesia itu mereka beristrikan pribumi. Jadi generasi hari ini sebenarnya sudah campuran,” ujar Abdullah, salah satu pengurus pondok pesantren milik Gus Zaim.

Rumah yang terletak di Desa Ngemplak, Kecamatan Lasem itu terlihat cukup ramai. Di pelataran rumah bercat ungu dan berpagar besi itu, seorang wanita paruh baya sedang bermain bersama anak kecil. Di sisi lain, lelaki berkulit sawo matang dengan celana pendek dan kaos polo sedang menikmati sebatang rokok di dalam
rumah. Mereka adalah pasangan suami istri yang menikah sejak 7 April 1979. Tidak ada yang salah dengan keluarga ini, hanya saja rumpun kecil ini terbentuk dari dua etnis yang berbeda. Fadholi (60) adalah pria keturunan Jawa dan menetap di Lasem sejak kecil. Sedangkan istrinya, Suwiwati (48), adalah wanita keturunan Tionghoa, pendatang yang tinggal di Lasem untuk menuntut ilmu.

Fadholi dan Suwiwati, pasangan suami istri yang berasal dari etnis yang berbeda. (Antonius Dian)
Fadholi dan Suwiwati, pasangan suami istri yang berasal dari etnis yang berbeda. (Antonius Dian)

Saat itu tahun 1974, Fadholi yang berusia 17 tahun memulai pekerjaannya sebagai penjaga gedung film di tempat itu. Sejak kecil dia sudah kehilangan orang tuanya dan diangkat anak oleh salah satu ulama yang ada di Lasem. Di tempat lain, Suwiwati adalah wanita yang bersekolah dan memilih indekos. Hobinya adalah menonton film dan saat itu hanya ada satu gedung film yaitu tempat di mana Fadholi bekerja. “Saya sering nonton di gedung bioskop tempat bapak kerja, terus diincar mungkin ya saya,” ujar Suwiwati dengan sedikit tertawa malu. Fadholi memang sudah menaruh perhatian kepadanya sejak pertama kali bertemu, sejak Suwiwati datang dan menikmati film-film yang diputar di gedung film tersebut.

Fadholi mengaku, untuk memperkenalkan dirinya pada Suwiwati, dia harus menulis surat dan diberikan ketika Suwiwati datang lagi ke gedung tempatnya bekerja. “Nggih kebetulan kok dia mau lah, nggih sampun jodoh, padahal saya jelek lho mas, ning enome kula nggih ngganteng (tapi saat muda saya ganteng),” ujar Fadholi yang memicu tawa di tengah perbincangan. Surat berbalas surat dan waktu berjalan seiring film yang berubah-ubah, akhirnya dua manusia ini disatukan dalam perasaan yang sama.“Yang jelas bapak ini baik hati, sabar,” kata Suwiwati sambil mengingat masa lalunya. Sebelum menikah, mereka berpacaran selama tiga tahun lamanya dan tidak mudah dalam melalui tahun demi tahun.

Layaknya sebuah film, kisah mereka tidak lepas dari beberapa konflik yang tidak menyetujui hubungan dua orang ini. Saat berpacaran, Fadholi dan Suwiwati sempat sembunyi-sembunyi karena keluarga Suwiwati yang keturunan Tionghoa melarang hubungan mereka. “Yang jelas dari keluarga agak keberatan. Soalnya status sosialnya beda dan etnis juga,” ujar Suwiwati menerangkan. Sebelum menikah, Suwiwati adalah seorang Tionghoa non-Muslim, sedangkan Fadholi adalah lelaki yang dibesarkan di lingkungan pesantren. Tidak hanya saat berpacaran, bahkan hingga menikah ada pertentangan dari keluarga, puncaknya adalah ketika menikah, keluarga Suwiwati tidak menghadiri pernikahan anaknya tersebut. Mereka cukup kesulitan saat mengurus pernikahan. Saat itu Suwiwati sudah menganut muslim tetapi belum mendapat kartu tanda penduduk muslim sehingga dalam administrasi juga cukup sulit.

Walaupun demikian, Fadholi dan istrinya tetap melangsungkan pernikahan. Dibantu dengan ulama-ulama Lasem, salah satunya adalah ayah angkat Fadholi yang merupakan salah satu tokohnya. Fadholi dengan jelas mengingat siapa saja yang membantunya dalam melangsungkan peistiwa sakral itu. Pernikahan dengan adat nasional dan Jawa itu berlangsung lancar dengan adanya pihak-pihak yang membantu. “Itu namanya cinta sejati, penuh pengorbanan, pengorbanannya dengan cara sembunyi-sembunyi karena belum dapat lampu hijau, tapi alhamdulilah keteguhan cinta kami bisa bertahan,” tegas Suwiwati. Dulu sempat mengontrak dan pindah-pindah tempat tinggal di Lasem, mereka memulai dari nol untuk membangun semuanya.

Seiring waktu berlalu, sebuah film akan mencapai tahap di mana setiap masalah terselesaikan. Begitu pula dengan konflik yang menemani pasangan ini. “Sekarang sudah sangat baik dengan keluarga, walaupun mereka kurang merestui, saya tetap ke sana kalau ada acara penting, hingga saat ini tetap terjaga dengan baik,” ujar Suwiwati tenang. Berjalannya waktu hubungan keluarga ini semakin membaik. Jika Hari Raya Natal keluarga Fadholi mengunjungi rumah orang tua Suwiwati untuk menyapa. Begitu juga ketika Idul Fitri, orang tua Suwiwati mengunjungi rumah keluarga Fadholi, hingga hubungan mereka tidak terbatas tembok perbedaan lagi.

Hingga saat ini, keluarga Fadholi sudah dikaruniai enam orang anak. Peleburan budaya terjadi secara alami dalam keluarga ini. Ajaran tentang memahami perbedaan diwariskan dengan kegiatan sehari-hari. “Anak-anak tanpa diajari, dengan melihat kehidupan sehari-hari sudah mengerti tentang toleransi,” ujar Fadholi. Di lingkungan juga saling menghormati karena sudah adanya kebiasaan, begitu kata Suwiwati. Sejak pindah-pindah tempat tinggal mereka telah membaur dengan lingkungan sekitar dan melebur tanpa menghilangkan istilah perbedaan tersebut. Kembali dari kata-kata Gus Zaim bahwa toleransi itu sudah ada yang mengawali di Lasem, sejak berabad-abad lalu. Maka benar jika perbedaan tersebut adalah bukan tembok penghalang, dalam hal bermasyarakat atau kisah roman seperti keluarga kecil ini.

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *