yesnowave

Merangkai Musik Lewat Internet

Cerita oleh Karina Octavia & Marcelinus Justian

Mata yang sibuk menelusuri layar laptop sudah menjadi pemandangan biasa yang menggambarkan keseharian pendiri netlabel YesNoWave.  Ialah Woto Wibowo, atau yang kerap disapa Wowok, pendiri dari YesNoWave Music di Yogyakarta. Sebenarnya sudah banyak label musik di Indonesia yang merintis konsep internet seperti YesNoWave, beberapa berdomisili di Bandung, Surabaya, Jakarta, Bogor, dan Semarang. Tetapi, banyak orang menganggap bahwa YesNoWave  yang mengawali ide konsep netlabel musik pertama di Indonesia. Hal tersebut bukan tanpa alasan, YesNoWave pernah dimuat di majalah Rolling Stones dan langsung menarik minat jutaan pembaca.Sejak saat itu pula, nama Yes No Wave langsung muncul di permukaan dan akrab bagi para pecinta musik.

Perusahaan yang berdiri tahun 2007 ini hanya digawangi oleh Wowok. Beberapa rekannya juga sempat membantu, tetapi karena memiliki kesibukan juga, terkadang ia harus bekerja sendiri. “Pas baru berdiri udah bikin tujuh album supaya orang buka website sudah banyak pilihan dan tertarik”, jelasnya. Hingga saat ini YesNoWave Music sudah menghasilkan 87 album musik yang sebagian besarnya beraliran indie dan alternative.

Tampilan depan website YesNoWave Music.
Tampilan depan website YesNoWave Music.

Salah satu best seller dari label musik ini yaitu Frau dan Senyawa. Dan tak disangka bahwa album Senyawa sudah populer di Eropa. Alasan Wowok dibalik memilih nama ‘YesNoWave’ agar label musik ini terkesan tidak memiliki genre. “Namanya kira-kira yang tidak memiliki genre karena genrenya macam-macam,” katanya sembari menghisap rokok. Konsep berbagi via internet yang bebas biaya terlintas karena kepedulian mewadahi bakat musik di Yogyakarta dan gebrakan untuk merubah pendistribusian musik.

Banyak bakat musik yang terbuang sia-sia hanya karena tidak ada yang mau mewadahi. Ide YesNoWave juga muncul melihat banyaknya penikmat musik yang mendapatkan musik secara ilegal dan mengandalkan satu sama lain untuk memperbanyak melalui CD. Oleh karena itu, Wowok berpikiran untuk membuat sebuah tempat di mana orang-orang dapat mengunduh lagu secara gratis dengan izin yang legal dari pencipta musik. Pria berkulit sawo matang ini melihat dari sudut pandang berbagi, bukan menyebarkan barang ilegal. Untuk pendapatan YesNoWave sendiri didapat dari penjualan merchandise seperti kaos, gantungan kunci, poster, dan lainnya yang bisa didapatkan dengan mudah melalui instagram atau YesNoWave Shop.

Desain dari kaos YesNoWave, juga didesain sendiri oleh Wowok. Terkadang desain juga datang dari rekan-rekannya. Yang unik adalah ada beberapa desain kaos yang dibuat oleh anak kecil. Suatu kali ia pernah menggunakan gambar anak rekannya yang masih kecil untuk desain kaos YesNoWave dan hasilnya sangat unik mengingat itulah konsep awal YesNoWave. Untuk CD musik sendiri, YesNoWave sengaja tidak mengeluarkan karena masyarakat pada umumnya kurang tertarik dengan musik yang tekesan aneh-aneh. Melalui penjualan merchandise secara online, di toko, maupun secara on the spot ketika ada acara musik sudah lebih dari cukup untuk membayar biaya hosting dan untuk meningkatkan bandwidth.

Gambar terkait
Woto Wibowo, yang kerap disapa Wowok atau Wok The Rock, pendiri sekaligus pengelola netlabel YesNoWave Music. (Dokumentasi Whiteboard Journal)

Mandiri, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perjuangan Wowok membangun YesNoWave Music. Mulai dari merintis, promosi, pengelolaan hingga proses pembuatan album. Cara yang dilakukan sebagai bentuk  promosi yaitu melalui mailing list Death Rock Star. Alasannya cukup sederhana karena subscriber-nya banyak dan server-nya yang selalu ramai. Awalnya ia berpikir bahwa usaha ini hanya untuk mengisi waktu luang, namun ia tidak menyangka bahwa usahanya akan menjadi sebesar sekarang. Secara pribadi ia tidak punya ambisi untuk membuat YesNoWave menjadi lebih besar. “Ya jalan aja seadanya, lah wong ini cuma buat ngisi waktu luang,” jelasnya dengan tertawa. Respon positif yang terus berdatangan membuat Wowok makin semangat dalam mengembangkan YesNoWave. Cara mengakses musik yang lebih mudah dan tidak dipungut biaya menjadikan YesNoWave sangat digandrungi para pecinta musik.

Jika ada musisi yang ingin albumnya bergabung dengan YesNoWave label, cukup memberi contoh musik kepada Wowok, kemudian ia akan melakukan seleksi secara subjektif sehingga musisi harus mengikuti selera musik Wowok. Selera musik yang sangat ia sukai adalah musik dengan karakter yang kuat. “Kalau punya karakter kuat dan langsung terlihat beda, saya langsung setuju. Saya nggak suka musik yang bagus doang trus langsung hilang, nggak ada yang melekat gitu,’’ tambahnya sembari memantik api rokok. Waktu seleksi pun bergantung pada kesibukan Wowok, bisa cepat atau lama dan terkadang bisa sampai dua bulan. Ketika musik sudah disetujui oleh Wowok, ia akan memberikan beberapa saran untuk merevisi beberapa bagian agar lebih baik. Untuk menyiapkan kata pengantar yang akan diunggah di internet terkadang dilakukan oleh Wowok sendiri.

Perbedaan label ini dari yang lainnya yaitu lisensi musiknya. YesNoWave menggunakan lisensi creative commons untuk tulisan, gambar, musik dan video yang notabene lisensi terbuka sehingga apabila orang lain ingin menggunakan karya dari YesNoWave harus memakai nama asli. Dengan lisensi ini, karya dari pencipta dapat dibebaskan penyebarannya secara ilegal dan tentunya lebih mudah.

Menurutnya, tidak ada kesulitan yang signifikan dalam mengelola usaha ini, hanya beberapa masalah yang terbilang sepele. “Kadang itu hosting lupa diperpanjang atau kalau ada album yang banyak digemari sehingga bandwidth harus di-upgrade,’’ sahutnya. Seiring berjalannya waktu, YesNoWave Music mulai menyediakan layanan streaming karena melihat perkembangan zaman dimana orang-orang tidak lagi mengunduh.

Harapan Wowok ke depan adalah YesNoWave mengikuti perkembangan teknologi, khususnya internet. Zaman semakin maju dan tentu internet akan terus berkembang, sehingga YesNoWave juga harus terus berkembang agar dapat memenuhi permintaan pecinta musik. Dengan makin bervariasinya jenis musik di masyarakat, YesNoWave berharap dapat terus memenuhi permintaan tersebut.

YesNoWave tidak memandang musik sebagai sebuah industri, namun sebagai sebuah wadah untuk berekspresi. Mengingat anak-anak muda sekarang sudah mulai jarang berekpresi karena tenggelam dalam teknologi.  “Bermusik untuk tujuan kultural jangan cari duit dulu. Buat musik yang berkarakter kuat. Saya yakin kalau kamu punya musik yang berkarakter kuat, duit pasti akan datang,” imbuhnya.

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *