Author: PASTI

Cerita oleh Misericordias Domini & Anindita Rahardini
Foto oleh Leonardus Rama

Siang itu matahari bersinar cukup terik. Sebuah rumah sederhana di Jalan Somodaran, Banyuraden, Gamping, Sleman tampak telihat sepi dari luar. Tirai bambu yang menggantung digunakan sebagai penutup di depan teras yang pada akhirnya menutupi pintu utama rumah dan membuat rumah itu terlihat tertutup dari kejauhan. Rumah tersebut tampak sederhana, tidak banyak pepohonan di pekarangan rumahnya. Tampak seorang lelaki paruh baya sibuk di teras rumah tersebut dengan masih menggunakan celemek kotor yang tertimpa berbagai warna cat. Rumah tersebut adalah rumah milik pria paruh baya bernama Syahrizal Pahlevi atau yang kerap disapa Levi, salah satu seniman grafis yang ada di Yogyakarta.

Teras rumah sederhana yang tak terlalu luas menjadi tempat kerjanya. Suara lalu lalang kendaraan di depan rumahnya seolah menjadi musik pengiring baginya. Dari raut wajahnya tak ada ekspresi terganggu dengan suara-suara tersebut, seolah tak ada yang dapat memecahkan fokusnya. Ia lebih menyukai bekerja di siang hari dari pada malam hari, walaupun malam hari suasana relatif lebih sepi sehingga dapat lebih berkonsentrasi. Seni grafis yang Levi selami adalah  teknik cukil kayu atau woodcut. “Menurut saya, cukil kayu ini menarik karena kita tidak tahu hasil akhirnya, masih harus menebak-nebak, kadang hasilnya juga tak terduga,” katanya seraya menyunggingkan senyuman.

Read Full Article

Cerita oleh Leonardus Rama & Martha Widuri
Foto oleh Leonardus Rama

Bagi banyak orang, mesin scan merupakan barang yang cukup familiar. Dengan alat ini, kita dapat mengubah sebuah foto maupun dokumen menjadi sebuah file digital. Namun siapa sangka, dengan mesin scan ini dapat melahirkan sebuah karya seni yang unik dan menarik. Di tangan Angki Purbandono, mesin scan dapat disulap menjadi sebuah media dalam berkarya seni. Berkat kreativitasnya, membuat seniman asal Yogyakarta ini dikenal dari berbagai kalangan seniman maupun penikmat seni. Bahkan sekarang Angki dapat menggelar pameran seni di berbagai negara. Karya seni ini sering disebut sebagai seni scanography.

Kami berkesempatan bertemu dengan Angki Purbandono di sebuah studio seni miliknya yang bernama Rumah Kijang Mizuma di Prawirotaman, Yogyakarta. Di studio yang tampak asri inilah Angki menuangkan inspirasi-inspirasi dalam berkarya. Awalnya laki-laki berambut gondrong ini belajar berbagai macam seni, ada yang belajar di sanggar dan ada juga di studio milik temannya yang lebih dahulu berkuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia belajar seni mulai dari musik, seni rupa, performence, dan fotografi. “Jadi dari awal memang sudah campur belajarnya.” tutur Angki. Sampai akhirnya ia menambatkan hati di seni fotografi.

Read Full Article

Cerita oleh Karina Octavia & Marcelinus Justian

Mata yang sibuk menelusuri layar laptop sudah menjadi pemandangan biasa yang menggambarkan keseharian pendiri netlabel YesNoWave.  Ialah Woto Wibowo, atau yang kerap disapa Wowok, pendiri dari YesNoWave Music di Yogyakarta. Sebenarnya sudah banyak label musik di Indonesia yang merintis konsep internet seperti YesNoWave, beberapa berdomisili di Bandung, Surabaya, Jakarta, Bogor, dan Semarang. Tetapi, banyak orang menganggap bahwa YesNoWave  yang mengawali ide konsep netlabel musik pertama di Indonesia. Hal tersebut bukan tanpa alasan, YesNoWave pernah dimuat di majalah Rolling Stones dan langsung menarik minat jutaan pembaca.Sejak saat itu pula, nama Yes No Wave langsung muncul di permukaan dan akrab bagi para pecinta musik.

Perusahaan yang berdiri tahun 2007 ini hanya digawangi oleh Wowok. Beberapa rekannya juga sempat membantu, tetapi karena memiliki kesibukan juga, terkadang ia harus bekerja sendiri. “Pas baru berdiri udah bikin tujuh album supaya orang buka website sudah banyak pilihan dan tertarik”, jelasnya. Hingga saat ini YesNoWave Music sudah menghasilkan 87 album musik yang sebagian besarnya beraliran indie dan alternative.

Read Full Article

Cerita oleh Laurensius Bagus
Foto oleh Antonius Dian

Minggu terakhir di bulan Januari, tepatnya tanggal 27 tahun 2017, kalimat itu terucap dari mulut Gus Zaim. Miwiti yang dalam Bahasa Indonesia berarti ‘memulai’ atau ‘mengawali’ adalah bukti bahwa toleransi di Lasem sudah berabad-abad lamanya. Menurut penuturan Gus Zaim, sejak tahun 1950 hingga sekarang ajaran tentang toleransi mulai dari perjuangan kaum Tionghoa, Muslim, dan pribumi tetap dijaga dan dilestarikan. “Semua pedoman kita pegang kokoh, melalui cerita turun-temurun, karena itu bagian dari kearifan lokal,” ujarnya. Salah satu kisah toleransi di Lasem adalah perkawinan silang yang telah terjadi sejak pedagang Tionghoa mendarat dan menginjakan kaki di kota kecil ini. “Dalam sejarah sudah disebut, Tionghoa yang datang ke Indonesia itu umumnya lelaki, otomatis kalau di Indonesia itu mereka beristrikan pribumi. Jadi generasi hari ini sebenarnya sudah campuran,” ujar Abdullah, salah satu pengurus pondok pesantren milik Gus Zaim.

Read Full Article

Cerita & Foto oleh Shani Rasyid

Malam itu suasana meriah begitu terasa di halaman Kelenteng Gie Yong Bio, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Para warga dari berbagai kalangan, mulai dari ibu-ibu, anak-anak, muda-mudi, orang tua, sampai pejabat pemerintahan turut hadir dan menjadi bagian dari kemeriahan itu. Halaman kelenteng itu juga dipenuhi oleh kendaraan roda dua dan roda empat dari bermacam plat nomor. Tidak hanya warga Lasem saja, namun banyak warga dari luar kota juga ikut menjadi bagian dari kemeriahan itu.

Kemeriahan itu merupakan bagian dari malam perayaan tahun baru Imlek. Di Lasem, tak hanya warga keturunan Tionghoa saja yang menghadiri perayaan Imlek, namun elemen masyarakat dari golongan lain turut hadir. Kaum santri dan masyarakat Jawa yang populasinya cukup banyak juga ikut menyemarakkan pesta tahunan tersebut. Sesuatu yang saya saksikan sendiri itu menjadi bukti nyata mengenai toleransi antar golongan pada masyarakat Lasem, terutama antara masyarakat Jawa, kaum santri, dan keturunan Tionghoa, yang sebelumnya hanya saya ketahui dari buku-buku dan beberapa film dokumenter.

Read Full Article

Cerita oleh Anindita Rahardini & Arina Dewi
Foto oleh Anindita Rahardini

Pria paruh baya itu tampak sibuk dengan pisau-pisaunya. Kacamata yang membingkai kedua matanya terlihat sedikit turun dari tempat di mana seharusnya berada, namun hal itu sedikitpun tidak mengganggu konsentrasinya terhadap pisau-pisau hasil karyanya. Adalah Darmo Sudiman yang akrab disapa Diman, seorang pengrajin pisau batik yang berada di Dusun Krengseng, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.

“Selamat sore, Pak,” Diman mendongak saat mendengar sapaan kami sebelum akhirnya mengangguk seraya tersenyum. “Mari-mari silakan duduk,” katanya saat mempersilakan kami duduk di kursi yang terdapat di teras rumahnya, tetapi kami lebih memilih untuk duduk di lantai bersama dengan Diman dan pisau-pisau kerajinannya yang mendunia.

Read Full Article

Cerita oleh Nadia Putri & Marcelinus Justian
Foto oleh Nadia Putri

Senja mulai menyelimuti kota Yogyakarta diiringi rintik-rintik hujan yang saling sahut-menyahut tanpa henti. Suara para lansia melantunkan tembang pangkur. Tepatnya di Jalan Rotowijayan No. 3, hanya berjarak 200 meter dari  alun-alun Utara Kota Yogyakarta, berdirilah Pamulangan Sekar (Macapat) KHP Kridha Mardawa Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tidak banyak yang tahu tentang keberadaan bangunan tua yang berdiri sejak 1960 ini.

Di sekolah macapat ini, terdapat tiga orang pengajar. Mereka adalah KMT Projo Suwasono, Mas Riyo Dwija Cipta Wandawa dan Mas Ngabehi Jaya Atmaja. Selain menjadi staff pengajar, mereka diberi amanat sebagai Abdi Dalem Keraton.“Tugas  kami dalam sekolah macapat ini adalah mengajarkan siswa agar bisa nembang  satu naskah dengan harapan mereka bisa nembang naskah-naskah yang lain dan bisa mempraktekkannya diluar,” sahut Projo.

Read Full Article

Cerita oleh Misericordias Domini & Leonardus Rama
Foto oleh Leonardus Rama

Belum sempat matahari muncul, salah satu rumah toko (ruko) di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta sudah ramai pengunjung. Kebanyakan dari mereka para orang tua yang membawa serta anak-anak mereka. Ruko tersebut tampak cukup sederhana, bangunannya berbentuk seperti lorong memanjang, banyak kursi kayu panjang berjejer yang menjadi tempat bagi para pengunjung untuk mengantri. Sebuah plang penanda nama ruko bertuliskan “Jampi Asli“ terpampang jelas di atas pintu. Dalam bahasa Jawa, ‘jampi asli’ berarti ‘jamu asli’. Tampak juga papan dengan tulisan “jamu cekok kulon kerkop lama” terpasang di daun pintu sebagai penanda lokasi. “Kulon” merupakan bahasa Jawa dari “barat”, sementara “kerkop” sendiri berasal dari bahasa Belanda, yakni kerkhof yang memiliki arti “makam orang Belanda”. Konon, warung jamu ini dahulu memang berposisi di sebelah barat makam Belanda dengan jamu cekok sebagai jamu andalan mereka. Kata “lama” sendiri digunakan karena warung ini telah berpindah tempat ke bangunan baru yang mungkin pelanggan lama banyak yang belum mengetahuinya.

Read Full Article

Cerita oleh Karina Octavia & Irene Kanalasari
Foto oleh Irene Kanalasari

Kisah cinta Romeo dan Juliet karya Wiliam Shakespeare yang legendaris menjadi kisah cinta yang penuh perjuangan dan berujung tragis, sudah dikenal dan sangat populer di seluruh dunia. Indonesia sendiri mempunyai kisah cinta yang tak kalah menarik untuk dinikmati yaitu kisah cinta Panji Asmarabangun (Raden Inu Kertapati) dan Dewi Candra Kirono (Galuh Sekartaji), yang merupakan cerita asli milik bumi Nusantara, yang tidak hanya dinikmati lika-liku percintaannya, namun juga filosofi-filosifi yang dapat dipelajari.

Kisah cinta dua sejoli dari Kerajaan Jenggala dan Kediri inilah yang dituangkan secara apik dan menawan dalam lukisan Wayang Beber yang dipertunjukkan atau digelar. Sayangnya, wayang ini memiliki pamor yang kalah rendah dibandingkan dengan wayang-wayang yang lain karena berbagai faktor. Langkanya keberadaan wayang ini yang membuat seorang seniman Wayang Beber bernama Trias Indra Setiawan yang akrab dipanggil Indra mendirikan museum Wayang Beber yang diberi nama Museum Wayang Beber Sekartaji, yang terletak di Dusun Kanutan RT 08, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul. Museum ini didirikan pada tanggal 1 Oktober 2017.

Read Full Article

Tulisan oleh Giras Pasopati

Hari ini akan menjadi awal hari-hari yang berat di musim yang dapat membuat tulang-tulangmu terasa membeku seperti es batu. Setidak-tidaknya setiap orang akan berjalan lebih berat dan tampak menjadi dua kali lebih besar daripada biasanya karena jaket dan mantel musim dingin yang mereka pakai. Tapi hari-hari yang berat itulah yang malah membuat wajah kota Praha menjadi lebih indah. Bahkan dari kota manapun di dunia.

“Ah, lagi-lagi aku yang menjadi tumbal atas keindahan kota Bohemian ini. Seharusnya turis-turis itu tahu yang mereka nikmati memerlukan pengorbanan yang tidak mereka pikirkan,” gumam Rudolf dalam hati

Bagi Rudolf, hari-harinya mungkin menjadi lebih berat dibanding hari-hari siapapun di Praha. Setidaknya membuat segalanya lebih tidak menyenangkan. Jari-jarinya akan lebih kaku saat memencet senar-senar biola, siku tangannya akan lebih mudah kram saat menggesekkan bow atau busur biola. Kakinya akan terasa sangat berat dan lesu menopang tubuhnya di tengah butiran salju yang berjatuhan.

Read Full Article