Category: Buku

Tulisan oleh Henry Adrian

Penggunaan gagasan Indonesia dalam pengertian politis baru muncul pada abad kedua puluh. Dalam buku The Idea of Indonesia, R. E. Elson menyebut dua penyebab munculnya pengertian politis dalam gagasan Indonesia. Pertama, menyebarnya kekuasaan Belanda ke seluruh kepulauan Indonesia. Hampir selama abad kesembilan belas, daerah Hindia Timur Belanda tidak lebih dari pulau Jawa. Berbagai daerah di luar pulau Jawa baru masuk ke dalam kekuasaan kolonial Belanda pada peralihan menuju abad kedua puluh.

Oleh karena itu, “pandangan bahwa kepulauan Indonesia secara keseluruhan telah dijajah Belanda selama berabad-abad itu tidak benar pada akhir abad kesembilan belas. Bahkan pada awal abad kedua puluh, banyak orang Belanda di berbagai daerah masih menganggap diri mereka sebagai orang asing, dan mereka menganggap daerah-daerah di pulau-pulau luar sebagai wilayah asing yang merdeka,” ungkap G.K. Resink (Elson, 2009: 7).

Sedangkan penyebab kedua adalah meningkatnya kontak antar daerah-daerah di kepulauan Indonesia. Menurut R. E. Elson, kekuatan dalam gagasan Indonesia bukanlah kesatuan yang dibangun atas solidaritas etnis atau ras, keterikatan keagamaan, atau bahkan kedekatan geografis, melainkan rasa kesamaan pengalaman dan solidaritas khusus yang mengalir darinya. Kesamaan pengalaman ini adalah sama-sama ditindas oleh kekuasaan asing.

Sejak memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Republik Indonesia telah beberapa kali mengadakan perundingan dengan Belanda untuk menentukan luas wilayah negara Indonesia. Perundingan Linggarjati yang diadakan pada November 1946 memutuskan bahwa wilayah Republik Indonesia hanya melingkupi pulau Sumatra, Jawa, dan Madura. Dalam perundingan tersebut dicapai pula kesepakatan mengenai pendirian Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan sistem pemerintahan federalisme.

Belanda memiliki dua alasan untuk membentuk pemerintahan federalisme di Indonesia. Alasan pertama adalah untuk mencegah dominasi Jawa. Menurut H. J. van Mook, (Elson, 2009: 196) suatu negara kesatuan akan menyebabkan dominasi beberapa bagian Indonesia secara umum, yang bakal menyebabkan perpecahan internal dan membahayakan seluruh negara. Sedangkan alasan yang kedua adalah karena Belanda ingin kembali menguasai kepulauan Indonesia.

Setelah perundingan Linggarjati, proses federalisme pun berkembang pesat. Bahkan, salah satu koran di Denpasar mengatakan bahwa, “negara kesatuan… tidak pantas bagi tanah air kita, yang sangat luas dan sangat beragam penduduknya. Tiap golongan harus diberi kesempatan untuk bekerja menuju kemajuan masing-masing, dalam arena sosial, politik, dan ekonomi” (Elson, 2009: 202).

Meski begitu, pola pemerintahan federalisme Belanda pun akhirnya morat-marit. Negara-negara bagian yang diciptakan Belanda tidaklah kokoh. Tidak didasarkannya pembentukan negara bagian atas kesamaan etnisitas ataupun entitas geografis tertentu menjadi penyebab utama kegagalan Belanda. Selain itu, tekanan internasional, terutama dari Amerika Serikat, juga turut berperan dalam kegagalan ini.

Tekanan internasional akhirnya menyebabkan Belanda kembali membuka perundingan dengan Republik Indonesia pada April 1949. Dalam perundingan tersebut, dicapai kesepakatan bahwa kedua belah pihak akan mengadakan Konferensi Meja Bundar (KMB). Setelah perundingan April, Republik Indonesia dan negara-negara bagian ciptaan Belanda dalam RIS sepakat menjadi satu kubu dalam konferensi yang akan diadakan antara 23 Agustus sampai 2 November 1949 tersebut. Akhirnya, pada 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan RIS, namun tanpa Papua Barat.

Selang tiga minggu setelah Belanda mengakui kedaulatan RIS, pemerintahan Republik Indonesia mulai membubarkan negara-negara bagian ciptaan Belanda dan menggabungkannya dalam pemerintahan Republik Indonesia. Sedangkan negara-negara bagian yang menolak bergabung mendapat aksi militer dari pihak Republik Indonesia. Pada Agustus 1950, konsep federalisme RIS telah dihancurkan, diganti dengan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pembubaran paksa negara-negara bagian ini menunjukkan sikap Republik Indonesia yang merasa mewakili aspirasi politik seluruh rakyat Indonesia. Perlawanan-perlawanan di daerah pun bermunculan. Salah satu perlawanan sengit justru datang dari Aceh, sebuah daerah yang dulunya sangat setia dengan Republik Indonesia. Hal ini disebabkan karena menumpuknya perasaan marah terhadap pemerintahan yang berpusat pada Jawa, dijalankan orang Jawa demi kepentingan Jawa, serta mengabaikan kebutuhan dan kepentingan khusus daerah-daerah lain. Sutan Sjahrir pun mengungkapkan pendapatnya dengan tajam, “perlakuan terhadap daerah-daerah luar sebagai sekedar koloni yang memberi devisa bagi bos-bos politik yang berkuasa agar bisa jalan-jalan ke luar negeri, membeli mobil mahal dan vila di gunung” (Elson, 2009: 262).

Soekarno yang sangat membenci pembangkangan daerah menyebut pembangkang-pembangkang ini sebagai “sampah yang mengapung di atas gelombang revolusi.” Tentara pun dikerahkan untuk memberantas pembangkangan-pembangkangan ini dan menjaga legitimasi kekuasaan Republik Indonesia. Kegandrungan pada semangat negara kesatuan serta romantisme perjuangan kemerdekaan merupakan ciri tentara saat itu, bahkan hingga hari ini.

Sejak saat itu, berbagai usaha untuk memperjelas, menetapkan, dan menerapkan gagasan tentang Indonesia terus dilakukan. Tak jarang, usaha ini melibatkan berbagai bentuk kekerasan yang masif dan brutal, serta penuh dengan berbagai intrik politik. Lebih dari sepuluh dekade setelah Soeharto turun dari kursi kepresidenan, Indonesia kembali menapaki jalan panjang untuk mencari gagasan Indonesia. Sebuah proses pencarian yang sempat terhenti selama hampir setengah abad dan memakan korban jutaan orang.

 

Judul buku: The Idea of Indonesia, Sejarah Pemikiran dan Gagasan
Penulis: R. E. Elson
Penerbit: Serambi
Tahun terbit: Januari 2009
Halaman: xxxiii + 543

Read Full Article

Tulisan oleh Yustinus Satyagraha

Masih segar dalam ingatan peristiwa yang dialami oleh para buruh, khususnya buruh perempuan di Indonesia. Bagaimana hebatnya perjuangan para buruh perempuan di tahun 1980 hingga 1990-an. Masih lekat pula peristiwa kematian Marsinah. Buruh perempuan yang harus ‘pergi’ secara mengenaskan karena berani membela hak-hak kaumnya. Berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, mengalami keretakan rumah tangga, hingga ketidakcocokan dalam bekerja—yang membuat mereka sering gonta-ganti pekerjaan. Masalah-masalah itulah yang akan dijumpai dalam buku.

Lika-Liku Kehidupan Buruh Perempuan secara garis besar bercerita tentang para perempuan yang dengan begitu penuh perjuangan dan pengorbanan mengadu nasib bekerja buruh. Kisah ini tertuang dalam 10 bagian, ditulis oleh 10 penulis berbeda. Dalam buku ini, sebagian besar buruh perempuan merupakan anak sulung dalam keluarga. Oleh karena tuntutan kebudayaan pada jaman itu, di usia mereka yang relatif masih muda (sekitar usia 15-17 tahun) mereka sudah menikah. Tidak jarang si suami memperlakukan mereka layaknya babu (pembantu) serta meminta uang hasil pekerjaan.

Read Full Article

Tulisan oleh Henry Adrian

Catatan Sepuluh Tahun Pengasingan dan Pembuangan

Selama hampir seharian, ratusan tahanan politik itu dijemur di Pelabuhan Sodong, Nusa Kambangan. Mereka menunggu kapal yang akan membawa mereka ke Pulau Buru, Maluku. Sebuah pulau yang akan menjadi tempat pengasingan bagi mereka.

Selagi menunggu kapal, beberapa tahanan beramai-ramai memakan daun bluntas mentah yang terletak di sejalur pagar bluntas dekat tempat mereka berbaris. Daun yang dipenuhi oleh debu jalanan ini tak sempat dicuci, andaikata sempat pun, mereka akan kena pukul terlebih dulu sebelum sempat meninggalkan barisan. Salah satu tahanan pemakan daun bluntas tersebut bernama Pramoedya Ananta Toer.

Read Full Article

Tulisan oleh Henry Adrian

Kekerabatan yang Ditelan Sengketa Tak Berkesudahan

Malaysia merupakan negara yang asing bagi saya. Gambaran tentang Malaysia sebagian besar hanya saya dapatkan dari berbagai pemberitaan di media massa. Pemberitaan yang hampir semuanya berbicara tentang konflik antara Indonesia dan Malaysia. Mulai dari sengketa wilayah, kebudayaan, hingga penyiksaan TKI yang bekerja di Malaysia.

Ketika melihat berita-berita tersebut, banyak orang Indonesia yang marah. Mereka meneriakan pekik anti-Malaysia dalam berbagai bentuk. Hubungan antara Indonesia dengan Malaysia sebagai negara serumpun seolah terputus. Masing-masing pihak berdiri di garis kebangsaannya masing-masing dan sejarah pun dilupakan.

Read Full Article

Tulisan oleh Henry Adrian

Manusia-manusia yang secara buta menempatkan diri di dalam kolektif sudah …memadamkan diri mereka
sebagai makhluk yang menentukan diri. (T.W. Adorno)

Massa, teror, dan trauma adalah pengalaman-pengalaman negatif yang selalu membayangi Indonesia. Pembantaian etnis Cina di Batavia pada tahun 1740, pembantaian 1965, kerusuhan Mei 1998, hingga pembantaian etnis Madura di Sampit pada tahun 2001. Peristiwa tersebut telah dilalui oleh negara ini. Namun, ancaman akan terjadinya hal serupa di masa mendatang semakin besar seiring dengan proses globalisasi pasar. Proses ini siap mengorbankan mereka yang tersingkir menjadi massa dalam pertentangan-pertentangan ekonomis, politis, ideologis ataupun agama.

Massa tidak dipahami sebagai sekumpulan orang pada suatu tempat dan waktu semata. Namun massa dipahami sebagai aksi-aksi dari sekumpulan orang yang melampaui batas-batas institusional. Mereka dianggap sebagai massa ketika aksi-aksinya mengabaikan norma-norma sosial yang berlaku dalam situasi sehari-hari. Massa dalam arti ini selalu berkaitan dengan situasi khusus, yaitu keadaan yang abnormal.

Read Full Article