Category: Film

Tulisan oleh Gregorius Bramantyo

Film ini dibuka dengan pertandingan bulutangkis tunggal putri antara Indonesia melawan Cina. Pertandingan yang disiarkan di televisi itu begitu seru sehingga antiklimaksnya diucapkan oleh seorang bocah yang bertanya “Yang Indonesianya yang mana, ma?” Sebuah pertanyaan yang amat kritis, karena kebanyakan orang melihat Verawati—atlet bulutangkis Indonesia, yang diperankan oleh Elizabeth Maria—tak berbeda dengan atlet dari Cina daratan. Sebuah pertanyaan yang mempertanyakan nasionalisme orang Tionghoa Indonesia.

Sudah banyak kejuaraan yang diikuti oleh Verawati untuk mengharumkan nama Indonesia. Namun yang menjadi dilema serta masalah yang selalu dialami oleh Verawati bukanlah tentang lomba-lomba tersebut, namun tentang ras yang ia miliki karena ia adalah keturunan etnis Tionghoa. Hal tersebut sering kali membuat Verawati tersudut karena banyak orang yang mempertanyakan tentang nasionalismenya. Sesuatu yang ternyata tidak bisa digantikan meski dengan banyaknya piala yang sudah ia berikan untuk Indonesia.

Read Full Article

Tulisan oleh Giras Pasopati

Film ini dibuka dengan scene yang nyentrik dan sedikit absurd. Awalnya adalah pesawat baling-baling yang terbang di indahnya langit Puerto Rico siang hari dan kemudian berganti setting menjadi kamar hotel yang berantakan. Paul Kemp (Johnny Depp) muncul dengan mata merah, rambut acak-acakan, dengan hanya mengenakan celana boxer.

Puerto Rico tahun 1960. Paul Kemp, seorang novelis Amerika berniat mencari peruntungan untuk menjadi seorang jurnalis di sebuah surat kabar bikinan konglomerasi Amerika di Puerto Rico, bernama The San Juan Star. Ekspektasinya akan jurnalisme yang adil dan berimbang terlalu besar untuk realitas yang ia alami selanjutnya di kota yang indah ini. Dari judul film kita dapat melihat bagaimana alkohol dapat menjadi salah satu garis sambung dalam berbagai pembentukan emosi dan visualisasi dalam beberapa adegan. “Rum” adalah salah satu minuman beralkohol yang lazim digunakan sebagai salah satu bahan perasa pada kue tart Black Forrest dan makanan lainnya.

Read Full Article

Tulisan oleh Oge Tampubolon

Pada sebuah lorong yang tertutup tirai, Frederick Treves (Anthony Hopkins) berjalan masuk. Dokter dari London Hospital ini mendengar suara orang-orang yang terbangkit marah di ujung lorong sebuah arena pertunjukan. Ketika si dokter berhasil mendekati asal suara kericuhan tadi, ia melihat beberapa polisi muncul di muka kamar berjeruji yang gelap seperti sel isolasi. Percekcokan kemudian tak dapat dihindarkan. Mr. Bytes (Freddie Jones), yang mengklaim diri sebagai pemilik objek pertunjukkan itu, berkilah bahwa ia memiliki hak apa saja terhadap budaknya. Namun komandan polisi berkata bahwa pertunjukkan itu akan merendahkan harkat seorang manusia. Tanpa kesepakatan, Mr Bytes dipaksa menutup pertunjukkannya. ”Akhirnya pindah lagi…” bisik Mr. Bytes seraya menghela nafas pada sosok yang tersembunyi di balik tirai.

Kejadian ini benar-benar memiliki daya tarik bagi Treves, terlebih ia sendiri belum melihat objek pertunjukkan itu. Meski telah kembali pada rutinitasnya sebagai pekerja medis, Treves masih menyimpan misinya terhadap mahkluk itu. Ia pun lantas menyuruh seorang bocah untuk mencari keberadaan Mr. Bytes.

Setelah berhasil menemukan keberadaan Mr. Bytes, Treves pun mendatanginya. Treves menjelaskan bahwa ia ingin mendapatkan pertunjukkan pribadi. Meski sempat menolak, Mr. Bytes akhirnya bersedia memenuhi permintaan Treves setelah disodori sejumlah uang tepat di bawah hidungnya. Tak lama berselang, mereka berdua lantas berjalan melewati lorong-lorong gelap. Di sebuah kamar yang terletak di pojok ruangan mereka berhenti. Di dalam kamar ini sosok yang ingin dilihat oleh Treves berada. Sebuah lentera yang tergantung pada dinding pun dinyalakan. Treves duduk di kursi dan menyiapkan diri untuk apa yang akan ia saksikan.

Read Full Article

Tulisan oleh Mathias Wahyu Santosa

“Setengah juta orang tewas. Dunia memalingkan muka. Empat keluarga memecah kebisuan mereka.”

Film ini adalah sebuah film dokumenter yang mengisahkan tentang keluarga-keluarga tertuduh PKI. Film yang dibuat pada tahun 2002-2006 ini berhasil dirilis di Amerika Serikat pada tahun 2009 dan ditayangkan secara terbatas di Indonesia. Setelah 40 tahun berlalu, semua orang masih hinggap dalam keheningan tentang kejadian terse­but. Nasib yang begitu miris dialami oleh keluarga korban di masa pemerintahan Orde Baru dan bahkan ada yang masih mengalami hingga saat ini.

“Keluarga saya dianiaya, difitnah, dan diteror,” begitulah jawaban Budi ketika ditanyai oleh psikolog yang menangani dirinya. Budi adalah seorang anak yang sejak kecil dititipkan ke panti asuhan oleh kedua orang tuanya karena musibah yang di alami keluarganya. Ayahnya adalah korban terduga PKI yang dipenjara namun akhirnya dibe­baskan. Keluarganya mengalami tekanan dari lingkungan sekitar yang tidak menerima keberadaan ‘keluarga PKI’. Sama seperti Budi, Lanny juga mengalami kejadian yang sama yang dialami keluarganya setelah ayahnya ditangkap dan dimasukkan penjara lalu hilang entah ke mana. Lan­ny adalah seorang keturunan bangsa Tionghoa yang tinggal di Semarang dan harus bejuang bersama ibu dan beberapa saudara kandungnya untuk mampu bertahan hidup.

Read Full Article