Category: Reportase

Cerita oleh Tatang Guritno & Andreas Ricky
Foto oleh Giras Pasopati

Rumah berpagar hijau itu terletak di Jalan Bumijo Tengah nomor 16. Di atas pintu rumah terdapat jimat bertuliskan huruf Cina dengan perpaduan warna kuning dan merah yang bermakna kemakmuran dan kesejahteraan. Rumah ini milik Sutanto Sutandio, Ketua Perhimpunan Fu Qing Yogyakarta.

Fu Qing adalah salah satu suku dari Cina. Seperti halnya Indonesia yang memiliki berbagai suku seperti Jawa, Sunda, Batak, atau Papua, Cina pun memiliki banyak suku di dalamnya seperti suku Fu Qing, Haka, Kantonis, Tio Ciu, dan masih banyak lainnya. Terdapat sekitar 56 suku di Cina. Namun mayoritas suku yang datang atau merantau ke Indonesia adalah Fu Qing, Haka, dan Kantonis.

Setiap hari Minggu, komunitas Fu qing mengadakan pertemuan seperti makan, minum, saling bertukar pikiran, atau merapatkan agenda organisasi. Biasanya mereka membahas perayaan Imlek atau Cap Go Meh. Struktur organisasi Fu Qing juga dapat dikatakan terstruktur dan rapi.

Read Full Article

Cerita oleh Gregorius Bramantyo & Garis Senopati
Foto oleh Gregorius Bramantyo

“Jogja sekarang sudah berhenti nyaman, tidak lagi berhati nyaman”

Matahari sedang beranjak menuju puncak, sesaat setelah sholat Jumat pada 19 Februari 2016, ketika mas­sa yang mengatasnamakan diri sebagai Front Jihad Islam (FJI) mengokupasi Pondok Pesantren Waria (wanita pria) Al Faatah di Dusun Celenan, Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogya­karta. Waktu itu adalah masa di mana isu LGBT menjadi hits di seantero Indonesia. Sehari sebelumnya, beberapa anggota organisasi masyarakat (ormas-red) itu menyebar­kan broadcast di media sosial kepada koleganya untuk ber­jihad, menutup pondok pesantren waria.

Kedatangan mereka disambut oleh polisi yang su­dah bersiaga di tempat. Kemudian mereka melakukan propaganda kepada penduduk sekitar berbekal salah satu ayat Al-Quran yang berbunyi: “ketika di dalam suatu tem­pat terdapat kedzaliman dan penduduk sekitar diam saja, maka azab Tuhan akan turun di daerah itu” seraya diikuti dengan teriakan “Allahu Akbar!”. Tak ada satu pun warga yang menggubris mereka. Dirasa tak membuahkan hasil, kelompok jihad itu meninggalkan surat rekomendasi kepa­da perangkat desa yang secara garis besar, isinya meminta pondok pesantren waria untuk ditutup. Apabila tidak di­tutup, FJI akan menegakkan hukum dengan syariah Islam seperti yang tertera di dalam surat.

Read Full Article

Cerita oleh Bara Bagaskara & Laurensius Bagus
Foto oleh Gregorius Bramantyo

“Adaptasi itu perlu, menyesuaikan diri adalah salah satu jalan supaya diterima.”

Pagi itu, saat beberapa orang sedang sibuk bekerja, kami berkunjung untuk mencari informasi. Penyegelan GPDI (Gereja Pantekosta di Indonesia) dan keberadaan Pendeta gereja tersebut yaitu Nico Lomboan menjadi perhatian utama kami. Peristiwa ini sebenarnya sudah ramai sejak lima sampai enam tahun belakangan, namun hingga sekarang tidak ada tanda-tanda kejelasan dan gereja tetap dibiarkan tersegel tanpa ada tindak lanjutnya. Awal pencarian informasi ini bermula jauh dari wilayah gereja, di sebuah kantor pemerintahan tempat narasumber pertama kami bekerja.

Read Full Article

Cerita oleh Aditya Mardiastuti  & Henry Adrian
Foto oleh Henry Adrian

Minggu malam itu tak berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ramai dan penuh sesak pejalan kaki, begitulah Malioboro malam itu. Namun, keramaian ini segera berganti dengan kecemasan ketika api mulai melalap sebuah toko yang terletak di depan pasar Beringharjo, Yogyakarta. Puluhan pedagang kaki lima yang berada di dekat toko tersebut pontang-panting menyelamatkan barang dagangannya. Dalam kekacauan tersebut, beberapa orang justru menjarah barang-barang dagangan milik para pedagang kaki lima.

Kebakaran itu terjadi di toko Mirota Batik. Sekitar jam sembilan malam, api mulai tampak dari lantai dua toko tersebut. Setelah bergulat sekitar tiga jam, sebelas mobil pemadam kebakaran akhirnya berhasil memadamkan amarah si jago merah. Pemandangan yang tampak setelah itu cukup mengenaskan. Toko Mirota Batik yang beberapa jam lalu masih berdiri kokoh sekarang telah musnah. Peristiwa kebakaran tersebut terjadi pada tanggal 2 Mei 2004. Setahun kemudian, setelah melewati berbagai perjuangan, akhirnya toko Mirota Batik dapat berdiri lagi hingga saat ini.

Read Full Article

Cerita oleh Paulina Damayanti
Foto oleh Henry Adrian

Tubuhnya melenggak-lenggok mengikuti alunan musik. Baju dan dandanan khas yang mereka kenakan menggambarkan kegagahan dan keangkuhan, sekaligus keterpinggiran.

Di sinilah mereka berkarya, bukan di panggung pertunjukan yang megah dan ber-AC, namun hanya di perempatan jalan yang penuh polusi dan teramat panas. Tidak ada tepuk tangan riuh penonton yang mengelu-elukan mereka. Meski demikian, mereka akan terus menari, tak peduli peluh keringat yang terus mengalir, tak peduli perut yang sudah mulai keroncongan. Mereka merupakan kepala keluarga yang harus bertanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Mereka ingin turut melestarikan budaya. Mereka adalah para penari Jathilan.

Read Full Article

Cerita & Foto oleh Henry Adrian

Ketika Iman Dijadikan Alasan Kekerasan

Pagi itu kabut telah menghilang ketika sekelompok massa berkerumun di batas Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Omben, Sampang, Madura. Seiring naiknya matahari, massa yang berkerumun semakin banyak. Berbekal senjata tajam, sekitar jam sepuluh pagi mereka serempak berjalan menuju ke Madrasah Misbahul Huda yang terletak di dusun tersebut.

Tajul Muluk, pendiri dan pengasuh madrasah yang dianggap beraliran Syiah itu sedang berada di tempat pengasingannya di Malang ketika penyerangan terjadi. Sudah setahun Tajul Muluk tinggal di sana setelah ia diusir dari Madura pada 2011 lalu. Di lokasi kejadian hanya ada kakaknya, Iklil Al Milal, dan puluhan jamaah Syiah yang tak berdaya menghalau massa.

Read Full Article

Cerita oleh Henry Adrian

“Sebuah kasus kalau tidak dikawal wartawan bisa dibelokkan.”

Malam itu Heru Prasetya sedang bekerja di kantor Bernas. Suasana kantor tampak seperti biasanya. Sebagian besar wartawan telah pulang, sedangkan yang masih berada di kantor kebanyakan adalah redaktur.

Di tempat lain, seorang wartawan Bernas bernama Fuad Muhammad Syafruddin dianiaya oleh orang tak dikenal di beranda rumah kontrakannya. Akibatnya, pria yang akrab disapa Udin ini jatuh bersimbah darah tak sadarkan diri. Sejak saat itu Udin tidak pernah sadar. Koresponden Bernas untuk daerah liputan Bantul ini akhirnya meninggal tiga hari kemudian. 16 Agustus 1996 menjadi tanggal terakhir yang tertera di nisannya.

Read Full Article

Cerita & Foto oleh Henry Adrian

“The gold mining industry has come to stink in the nostrils of so many thousands of people.”
(J. H. Curle in The Goldmines of The World)

Saat itu waktu menunjukkan hampir jam 12 malam. Di depan sebuah hotel yang terletak di perbukitan gelap Samarinda, Kalimantan Timur, Bondan menunggu. Tepat jam 12 malam Bondan pun masuk ke hotel tersebut. “Kalau saya ngga turun dalam waktu satu jam, kamu segera lapor ke polisi, bilang bahwa saya hilang di situ,” ucap Bondan pada supir taksi yang mengantarnya.

Bondan tidak hendak mencicipi hidangan kuliner di sana. Waktu itu ia hendak mewawancarai Letnan Kolonel Edi Tursono, orang yang paling ditakuti oleh Bondan karena ia memiliki potensi untuk membunuhnya. Edi Tursono adalah saksi kunci kematian Michael Antonio Tuason de Guzman, Manajer Eksplorasi Bre-X Corp, sebelum ia dinyatakan bunuh diri dengan terjun dari helikopter yang dipiloti oleh Edi Tursono.

Read Full Article

Cerita & Foto oleh Henry Adrian

Gegap Gempita Pemain Keduabelas, dari Sepak Bola hingga Politik

Seorang pria melompat dari pagar yang memisahkan lapangan dengan bangku penonton. Setelah melompat, ia lantas meluncurkan dirinya di atas bendera Arema yang diikat miring menghadap lapangan layaknya aksi-aksi Jacky Chan di film yang ia tonton. Namun sial, bendera yang diikat tersebut tak mampu menahan berat badannya. Ia pun terjatuh ke dalam selokan yang terletak di bawah bendera tersebut. Kedalaman selokan itu sekitar dua meter. Pria yang hendak meredakan amarah suporter Arema yang terjadi di belakang gawang itu pun jatuh pingsan. Ketika sadar, ia sudah ditangani oleh seorang dokter yang lantas menanyainya.

Read Full Article

Cerita oleh Anzhello Lamabelawa

Saat gong berbunyi, seorang pria mengangkat sebuah kayu berukuran sebuah pendayung perahu. Lebar kayu itu bisa digenggam dengan kepalan tangan. Kayu yang bisa digenggam sudah lebih tinggi dari kepalanya. Para awak perahu duduk melingkar. Hadapan mereka tertuju kepada pria sang pemegang kayu itu. Mereka lantas berdoa.

Tubuh mereka bergoyang miring ke kanan, miring ke kiri, kadang ke depan, kadang ke belakang. Posisi duduk, posisi berdiri, dan arah gerakan tubuh mereka layaknya sedang berada di samudera luas di mana tubuh mereka asyik menahan terpaan deras badai dan terjangan ombak yang deras.

Usai doa, lamafa (juru tombak) berdiri kokoh di ujung perahu kecil tanpa mesin. Paledang nama perahu itu. Pandangan lamafa cenderung ke depan menikmati suasana penuh angin dan tahan dengan guncangan ombak yang silih berganti. Sesekali ia menoleh ke kiri dan ke kanan. “Baleo…baleo…baleo…” seruan itu keluar dari mulutnya yang kemudian diikuti asistennya, juru dayung dan juru mudi. Seruan itu muncul ketika melihat properti ikan paus di salah satu sisi ruang pentas malam itu.

Read Full Article