Category: Sastra

Tulisan oleh Giras Pasopati

Hari ini akan menjadi awal hari-hari yang berat di musim yang dapat membuat tulang-tulangmu terasa membeku seperti es batu. Setidak-tidaknya setiap orang akan berjalan lebih berat dan tampak menjadi dua kali lebih besar daripada biasanya karena jaket dan mantel musim dingin yang mereka pakai. Tapi hari-hari yang berat itulah yang malah membuat wajah kota Praha menjadi lebih indah. Bahkan dari kota manapun di dunia.

“Ah, lagi-lagi aku yang menjadi tumbal atas keindahan kota Bohemian ini. Seharusnya turis-turis itu tahu yang mereka nikmati memerlukan pengorbanan yang tidak mereka pikirkan,” gumam Rudolf dalam hati

Bagi Rudolf, hari-harinya mungkin menjadi lebih berat dibanding hari-hari siapapun di Praha. Setidaknya membuat segalanya lebih tidak menyenangkan. Jari-jarinya akan lebih kaku saat memencet senar-senar biola, siku tangannya akan lebih mudah kram saat menggesekkan bow atau busur biola. Kakinya akan terasa sangat berat dan lesu menopang tubuhnya di tengah butiran salju yang berjatuhan.

Read Full Article

Tulisan oleh Aloysius Brama

Malam menggigit sanubarinya.

“Ini apa bacanya?”

Petugas jaga malam itu menyodorkan selembar kartu tanda penduduk ke wajah lelaki paruh baya yang sedari tadi duduk berseberang wajah dengannya. Seraya menyodor, jari petugas itu menunjuk ke kolom nama yang tak dapat lagi dibaca karena luntur.

“Sudarman pak,” jelasnya.

Tangan petugas itu memohon diri dari hadapannya. Menggeletakkan kartu itu disebelah komputer yang ia hadap dan memijit keyboard di depannya sembari mengeja: “Su-dar-man”.

Mata lelaki yang memiliki kartu identitas bernama Darman itu,hanya mengikuti gerak-gerik si petugas sambil menghela nafas panjang. Darman hanya bisa pasrah. Kembali ia kepada perasaan dan nasib bahwa malam telah menggigit sanubarinya dan melepehnya di pinggir jalan. Bulan yang menggantung di luar jendela itu membangkitkan ingatan akan kegagalannya. Ia tertunduk pasi.

Read Full Article

Tulisan oleh Giras Pasopati

Suroto menghirup dalam-dalam rokok kretek yang baru saja dinyalakannya, segelas besar teh panas tanpa gula menemaninya, menjadikannya duet. Duet penghilang penat dan beban hidup. Di antara kumuhnya kehidupan pinggiran Jakarta yang diramaikan dengan bau gundukan sampah, bau selokan, teriakan anak-anak kumal dengan ingus menghiasi lubang hidung mereka. Dan ketika malam tiba akan tercipta “kehangatan” keluarga secara harafiah, di mana satu keluarga tidur berdempetan bagai ikan asin dalam satu kotak bambu.

“Pak e, sampean gak mandi po? Aku gek balik iki, mau aku tuku gorengan iki. Tak deleh piring yo? Aku arep langsung adus,” tiba-tiba suara istrinya memecah keheningan.

Gak ah, awakku ora kepenak. Mamak nek arep adus yo adus wae kono,” timpal Suroto sambil terus menghisap kreteknya.

Read Full Article

Tulisan oleh Giras Pasopati

Tak ada yang berubah di ruangan ini dalam setiap paginya. Sinar matahari yang masuk lewat jendela kayu di sisi timur ruangan ini, suara radio yang menyeruak dari sudut meja kabinet di sebelah meja makan, mug putih bergambar kerang yang berhiaskan jejak bibirmu yang berlipstik merah hati. Lipstik maroon itu. Kau yang selalu menyiapkan segala suasana pagi itu. Membuka jendela lebar-lebar, jendela yang dulunya berteralis yang kemudian membuatmu memaksaku untuk menghilangkan teralisnya. Kau membenci semua jendela berteralis, di saat semua orang modern berpikir tentang keamanan dan tetek bengeknya, kau merasa teralis hanya membikinmu merasa seperti burung dalam sangkar. Kau juga yang selalu menghidupkan radio keras-keras, stasiun radio yang sama tiap pagi, yang memutar lagu-lagu yang menurut sebagian orang sudah kuno. Menurutku asumsimu dan realitas yang terjadi setelah itu adalah selalu benar. Aku selalu terkaget bangun kemudian.

Pagi kita selalu sempit dalam hal waktu dan bagi atmosfer kita berdua. Waktu kita hanya sebatas berapa lama mengunyah roti tawar dan menyeruput habis kopi hitam. Setelah itu kita berpendar dan kembali terang bersama di malam hari. Kau selalu berangkat lebih dahulu, meninggalkanku yang selalu menepati deal kita tempo dulu, mencuci piring jika kau yang menyiapkan makanan. Selalu seperti itu.

Read Full Article

Tulisan oleh Elisabet Olymphia Selsyi
Ilustrasi oleh Silvester Wisnu

Sang Mesias memergokiku pada sebuah kamar pengakuan dosa

Mengamini doa para pendosa

mengecup kenajisan dengan air suci

mengganjar dengan doa-doa yang diajarkan-Nya

Ah rasanya aku ingin buru-buru berteduh di bawah lonceng Gereja

Bersembunyi dari tatapan tajam Maria Assumpta di dinding

Aku tahu Romo tidak akan menerapkan asas praduga tak bersalah

Ia menanti seorang diri di sana, sembari mengumpulkan pengakuan nista di atas jubahnya yang menengadah

Mungkin jubahnya menjadi semakin berat sehingga bahunya akan merunduk persis setelah aku keluar dari kamar itu

Read Full Article

Tulisan oleh Riski Mario
Ilustrasi oleh Silvester Wisnu

Aku.
Aku terpesona pada sepasang tangannya. Sepasang tangan, yang terlihat kokoh dalam bentangan sinar ranum yang dengan rayu mengintip dari balik jendelamu. Sentuhanmu berasa pelita. Tatapmu sekilas namun bias. Bagiku, kaulah Tuhan dan aku hamba. Menengadah dalam angkara, adalah satu-satunya cara agar kita dapat bersama.                                                                                                                                                   

Pada suatu malam berbalut indah purnama itulah, pertama kali aku melihat seorang lelaki misterius itu. Ia bertelanjang dada di bawah sinar rembulan yang membiaskan lekuk tubuhnya yang kurus dan masih berbau keringat. Rambutnya yang panjang terurai hingga menutupi dadanya pun masih basah, seperti baru saja mengerjakan sesuatu yang menguras tenaga. Sepasang tangannya yang terlihat kokoh memegang secangkir kopi yang baru saja ia seduh. Seekor cicak yang hinggap di atas tubuhku pun nyaris tergelincir jatuh saking terkejutnya aku menemukan sepasang tangan indah yang menari di bawah sinar rembulan. Dan, ya, tanpa sadar aku menaruh rindu pada ujung secangkir kopi yang bercampur manis dari bibirmu.

Read Full Article