Sastra September 16, 2019

Air Mata Batin Zulnaedi

Malam itu di Pulau Buru sangat sunyi. Suara hewan-hewan malam menemani para tapol yang tertidur pulas di barak setelah seharian bekerja di hutan. Para tentara berjaga di masing-masing unit, mengawasi para tapol yang diam-diam berniat kabur dari Pulau Buru.

Zulnaedi masih terjaga. Pikirannya masih mengawang-awang. Ia beberapa kali membalikkan badan agar bisa tidur.

Ia ingat ketika tentara menciduk dirinya untuk dibawa ke Nusakambangan. Waktu itu ia dan Marni, istrinya, sedang menonton televisi. Ia baru saja pulang dari kantornya. Anak perempuannya sedang belajar di kamar.

“Kepiye gaweane, Mas? Wes dirampungke to?” Marni bertanya kepada suaminya.

“Uwes, Ni.”

“Mas Edi kesel to? Tak gaweke wedang teh yo ben awake anget,” kata Marni seraya merayu Zulnaedi yang berada di sampingnya.

“Iyo rapopo, Ni.”

Marni lalu beranjak dari sofa dan menuju ke dapur. Zulnaedi masih menonton televisi. Hari itu ia bisa pulang cepat dari kantornya.

Tiba-tiba terdengar suara truk tentara datang mendekati rumah mereka. Lampu truk yang terang menyinari depan rumah Zulnaedi. Cahaya lampu utama truk itu sangat terang, seterang lampu sorot yang biasa untuk menyinari langit di malam hari.

Zulnaedi melihat cahaya yang menyilaukan dari ruang tamu. Ia segera beranjak dari sofa dan mengintip lewat jendela ruang tamu. Ia tampak kaget ada satu truk tentara beserta kawanan tentaranya yang sedang bersiap-siap menggerebek rumahnya.

Tentara-tentara itu langsung turun dari bak truk sesampainya di depan rumah Zulnaedi. Bunyi sepatu tentara berlari-lari mengganggu ketenangan malam itu. Zulnaedi bingung mengapa rumahnya digerebek oleh sekawanan tentara.

Gubrak! Tiba-tiba saja suara pintu rumahnya didobrak dari luar. Ia dengan sigap menahan pintu itu agar tidak bisa dilewati para tentara itu. Tenaganya ia curahkan untuk menahan beban pintu yang berusaha dimasuki paksa oleh sekawanan tentara.

Usahanya sia-sia. Pintu itu akhirnya bisa dibuka paksa. Zulnaedi langsung jatuh terjengkang. Dua tentara yang ada di situ langsung memegangi tubuh Zulnaedi.

“Apa-apaan ini?!” tanya Zulnaedi dengan nada keras.

“Apakah kamu Zulnaedi?” tanya pimpinan tentara yang ada di situ.

“Ya, saya sendiri!” jawab Zulnaedi buas.

“Enggak usah banyak omong. Kamu, ikut kami!”

Sikap berontak langsung ditunjukkan Zulnaedi kepada dua tentara yang memegangnya. Seketika itu juga istrinya berlari-lari dari dapur. Marni sungguh terkejut melihat suaminya ditahan dua tentara.

“Mas Edi, ono opo iki?!” tanya Marni dengan penuh cemas. Ia ikut mencegah agar suaminya tidak dibawa oleh tentara. Salah satu tentara berusaha memisahkan Zulnaedi dengan istrinya.

Dor! Nahas, tiba-tiba tembakan senapan tentara melayang ke arah dada istrinya. Zulnaedi langsung berlari ke arah istrinya. Tepat sebelum Marni jatuh, Zulnaedi langsung menadahi tubuh istrinya tepat di pangkuannya. Zulnaedi menangis tersedu-sedu, sambil mengelus-elus wajah Marni.

Salah satu tentara yang ada di situ kemudian memukul kepada Zulnaedi menggunakan popor senapan. Zulnaedi langsung tak sadarkan diri. Begitu sadar, tahu-tahu ia sudah mendekam di balik jeruji penjara Nusakambangan.

Sejak kejadian itu, ia selalu terbayang- bayang keluarganya. Anak perempuannya juga tidak diketahui keberadaannya. Kabar burung beredar di antara para tapol bahwa pimpinan tentara di Unit III Wanayasa baru saja membawa salah satu anak perempuan untuk dijadikan gundiknya. Zulnaedi benar-benar berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia yang biasanya rajin menunaikan salat lima waktu, kini hampir tidak pernah salat. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk makan dan tidur, di samping bekerja di hutan.

“Di, belum tidur kau?” Ramlan melihat Zulnaedi terus-menerus membalikkan badan.

“Belum, Lan. Aku enggak bisa tidur.”

“Lha lagi mikirin apa?” Ramlan yang tidur di samping kiri Zulnaedi membalikkan badan ke arah Zulnaedi.

“Aku kepikiran istriku. Ia tewas ketika berusaha mencegahku diciduk tentara. Aku memangkunya tepat ketika ia tewas.” Nada Zulnaedi mulai meninggi.

“Aku bisa memahami apa yang kau rasakan sekarang, Di,” kata Ramlan. Zulnaedi segera memalingkan wajahnya ke arah Ramlan.

“Istriku disiksa dan diperkosa oleh tentara sewaktu aku masih dipenjara di Nusakambangan. Mereka menelanjangi dan menyetubuhinya satu per satu. Setelah mereka selesai, mereka meninggalkan rumah kami dan membiarkan istriku terkulai lemas tak berdaya.” Air mata Ramlan mulai meleleh.

“Lalu apa yang terjadi?” Zulnaedi bertanya dengan penuh penasaran.

Ramlan menghela napas dalam-dalam sambil memandang ke atas. “Sehari kemudian aku mendengar kabar dari kakaknya kalau dia meninggal di rumah, dalam keadaan tergeletak di lantai dan telanjang bulat.”

Amarah Zulnaedi mulai memuncak mendengar cerita Ramlan. Ia tidak bisa membayangkan jika istrinya yang disiksa dan diperkosa. Baginya semua tentara sama biadabnya.

“Apakah kau masih memiliki dendam kepada tentara-tentara itu?” kata Zulnaedi.

“Jika ada orang melakukan kejahatan padamu, balaslah ia dengan kebaikan.” Ramlan masih memandang ke atas.

“Apa maksudmu?” Zulnaedi mengerutkan dahinya.

“Setelah peristiwa itu, aku sangat sedih. Aku sampai tidak makan dua hari. Aku bahkan bertanya kepada Tuhan, ‘Apa maksud semua ini, ya Tuhan?’ Sampai suatu ketika, entah mengapa, perlahan-lahan aku mulai bisa mengikhlaskan kepergian istriku. Tentara-tentara yang menyiksa dan memperkosa istriku sudah kuampuni. Aku bisa menikmati hidupku kembali. Aku tahu bahwa istriku tidak akan kembali. Paling tidak, beban yang aku pikul menjadi berkurang.”

Zulnaedi tidak mengerti apa yang dikatakan Ramlan. Ia masih diliputi rasa dendam dalam hidupnya. Bahkan, ia menghilangkan kata ‘kebaikan’ dalam kamusnya.

“Sudahlah, aku ingin tidur,” kata Ramlan. Ia lalu membalikkan badannya dalam posisi terlentang dan menaruh kedua tangannya dalam posisi sedekap di atas dadanya.

Zulnaedi tampak merenung. Ia masih memikirkan kata-kata Ramlan tadi. Apakah aku harus mengampuni, atau membalas mereka, tanya Zulnaedi dalam hati.

Suara mesin ketik tua Royal 440 berbunyi keras memenuhi barak itu. Zulnaedi yang sudah mulai terlelap, tiba-tiba kembali membuka matanya. Ia lalu menoleh ada salah satu tapol yang masih mengetik di salah satu sudut barak, sambil ditemani lampu minyak di samping mesin ketiknya.

Waktu berjalan cepat. Zulnaedi kemudian menoleh sekelilingnya. Suara mesin ketik tua itu sudah hilang. Sinar lampu minyak di meja ujung barak juga sudah mati. Semua orang sudah tidur, katanya dalam hati. Tanpa disadari, Zulnaedi memegangi luka sayatan di pelipisnya. Ia kembali teringat kejadian kemarin waktu di hutan. Waktu itu ia sedang mengayunkan kapaknya saat menebang pohon. Siang itu panas terik matahari menyengat tubuhnya. Tiba-tiba dari belakang, salah seorang tapol yang sedang melewatinya langsung menyayat pelipisnya dengan pecahan kaca. Ia jatuh sambil memegangi pelipisnya yang berlumuran darah. Para tapol langsung memadati lokasi kejadian. Ada yang berusaha menolong Zulnaedi, ada yang mencoba melerai, ada pula yang mencoba menghakimi tapol itu. Dua menit kemudian tentara yang mengawasi para tapol bekerja di hutan datang. Tapol yang tadi menyayat Zulnaedi langsung dibawa ke ruang interogasi. Zulnaedi lantas dibawa ke ruang pengobatan.

Pyarrr!!! Suara lampu petromaks di samping barak jatuh dan pecah. Zulnaedi tersadar dari lamunannya. Ia lantas beranjak dari tempat tidur dan mengintip ke luar barak.

Dua tentara yang sedang berjaga tampak berada di lokasi jatuhnya lampu petromaks itu. Zulnaedi melihat dari kejauhan. Rasa ingin tahunya muncul.

“Wah, untung langsung mati, kalau enggak bisa habis kebakar ini barak,” kata salah satu tentara yang membawa senapan. Ia tidak melihat percikan api dari dalam lampu petromaks.

“Iya benar juga,” jawab tentara lainnya yang memegang senter sambil memandangi barak yang terbuat dari kain terpal yang tebal itu.

Zulnaedi masih memandangi dua tentara itu. Dua tentara itu sibuk membereskan pecahan kaca dari lampu petromaks yang terjatuh. Suara pecahan kaca yang disapu dan dimasukkan ke serokan sampah terdengar sampai ke telinga Zulnaedi.

“Heh, siapa itu?” Tentara yang membawa senter melihat sosok hitam dari samping barak. Tentara itu hanya melihat bayangan samar-samar saja. Senter yang diarahkannya tadi diarahkan ke bayangan samar-samar itu. Usahanya sia-sia. Cahaya senter itu tidak cukup terang untuk menyelidiki siapakah sosok hitam di samping tenda itu. Semak belukar yang tumbuh liar di samping barak juga mengganggu cahaya senter.

Zulnaedi langsung masuk ke barak. Ia berlari kecil saking takutnya. Begitu sampai di tempat tidur, ia kemudian membalikkan badannya ke arah Ramlan yang sudah tertidur pulas.

Suara derap langkah sepatu tentara perlahan tapi pasti mendekati pintu barak. Tak butuh waktu lama bagi kedua tentara itu untuk mencapai pintu barak. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh Zulnaedi.
Suara itu makin lama makin dekat. Tahu-tahu kedua tentara itu sudah berada di depan Zulnaedi. Ia pasrah saja.

“Tampaknya semua tapol sudah tidur,” kata tentara yang membawa senter.

Tentara yang satunya melihat sekeliling di barak itu. Suara ngorok bersahut-sahutan disertai udara yang pengap menyelimuti barak yang penuh sesak oleh tapol. Semua tapol yang tidur di situ tampak seperti sekumpulan mayat sambil ngorok.

“Ya kau benar. Ayo kita keluar dari sini,” kata tentara lain yang membawa senapan sambil mengajak temannya keluar dari barak. Setelah memeriksa keadaan sekitar, kedua tentara itu akhirnya keluar, meninggalkan Zulnaedi seorang diri yang masih terjaga.

“Tadi malam aku mendengar suara mesin ketik tua di salah satu sudut barak.” Zulnaedi yang sedang mengayunkan parang ke arah kayu pohon yang mati, memulai pembicaraan dengan Ramlan di sampingnya.

Ramlan yang juga sama-sama sedang mengayunkan parang untuk membuka semak belukar di samping kayu-kayu pohon yang mati itu, lalu menghentikan aktivitasnya sebentar seraya menoleh ke arah Zulnaedi.

“Oh, mesin ketik tua itu milik Pram,” jelas Ramlan.

“Pram? Pramoedya Ananta Toer aktivis Lekra itu?” tanya Zulnaedi.

“Ya. Dia juga ditahan bersama kita di sini,” kenang Ramlan. Ramlan diam sejenak. Lalu ia melanjutkan pembicaraannya.

“Ia juga sempat ditahan di Nusakambangan, bersama denganku. Ia ditahan di sana selama 3 tahun 8 bulan. Kami berangkat bersama menggunakan Kapal ADRI XV dari Pelabuhan Sodong.”

“Oh begitu…” ujar Zulnaedi.

Mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Sekitar 15 menit kemudian, ada dua orang tentara datang menghampiri mereka berdua. Tentu saja Zulnaedi dan Ramlan menoleh ke arah dua tentara dengan pandangan heran.

“Kamu Zulnaedi?” kata salah satu tentara itu.

“Iya,” jawab Zulnaedi dengan penuh
penasaran.

“Ikut kami ke barak khusus. Tenagamu dibutuhkan di sana,” kata tentara itu lagi.

Zulnaedi hanya diam saja. Ia berjalan sambil diapit dua tentara di sampingnya. Baru kali ini ia diminta bekerja di barak khusus.

Kurang lebih 10 menit kemudian mereka sampai di area barak khusus. Pasir beterbangan di mana-mana. Zulnaedi sempat mengucek-ucek
matanya karena kelilipan.

“Sekarang mulailah bekerja,” perintah tentara tadi kepada Zulnaedi.
Zulnaedi langsung menjalankan perintah tentara itu. Tiba-tiba dari barak keluarlah seorang anak perempuan. Anak perempuan itu sungguh manis. Wajahnya terkesan polos. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Anak perempuan itu melihat ke arah Zulnaedi. Zulnaedi bingung. Siapakah dia?

Zulnaedi terdiam memandangi anak perempuan itu. Salah seorang tentara tiba-tiba keluar dari balik barak. Rupanya tentara itu adalah pimpinan tentara yang pernah menciduk dan membunuh istrinya. Pimpinan tentara itu kemudian menggandeng tangan seorang anak perempuan yang Zulnaedi lihat tadi lalu dibawa menuju kantornya.

Zulnaedi masih menatapi anak perempuan itu sampai masuk ke kantor pimpinan tentara. Tatapan anak perempuan tadi seakan-akan seperti tatapan seorang anak kepada ayahnya. “Mungkin benar, dia memang anakku,” pikir Zulnaedi.