Reportase November 1, 2016

All That Glitters Are Not Gold

“The gold mining industry has come to stink in the nostrils of so many thousands of people.”
(J. H. Curle in The Goldmines of The World)

Saat itu waktu menunjukkan hampir jam 12 malam. Di depan sebuah hotel yang terletak di perbukitan gelap Samarinda, Kalimantan Timur, Bondan menunggu. Tepat jam 12 malam Bondan pun masuk ke hotel tersebut. “Kalau saya ngga turun dalam waktu satu jam, kamu segera lapor ke polisi, bilang bahwa saya hilang di situ,” ucap Bondan pada supir taksi yang mengantarnya.

Bondan tidak hendak mencicipi hidangan kuliner di sana. Waktu itu ia hendak mewawancarai Letnan Kolonel Edi Tursono, orang yang paling ditakuti oleh Bondan karena ia memiliki potensi untuk membunuhnya. Edi Tursono adalah saksi kunci kematian Michael Antonio Tuason de Guzman, Manajer Eksplorasi Bre-X Corp, sebelum ia dinyatakan bunuh diri dengan terjun dari helikopter yang dipiloti oleh Edi Tursono.

Sepanjang wawancara, Edi Tursono selalu menjawab pertanyaan Bondan dengan mengatakan tidak. “Jadi ya sudah, tapi saya sudah ketemu dia, dan saya sudah tahu dari wajah dan cara dia menjawab, saya tahu bahwa sebetulnya orang ini yang seharusnya ditangkap oleh pemerintah Indonesia. Jadi kalau dia ngga ditangkap dan masih bebas, itu adalah ketololan polisi, ketololan pemerintah Indonesia. Dia pegang peran, dia pegang kunci,” jelas Bondan.

***

Cerita di atas merupakan sebagian dari kisah Bondan dalam melakukan reportase investigasi terhadap kasus Bre-X yang sempat mengguncang Indonesia dan dunia pada tahun 1997. Sebuah kasus yang menurut Bondan merupakan kasus penipuan terbesar yang pernah terjadi di bidang perburuan emas.

Hasil dari reportase ini lantas dicetak dalam sebuah buku setebal 288 halaman yang terbit pada Juli 1997. “Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi“, menjadi judul yang dipilih Bondan untuk bukunya. Dalam buku tersebut, pria bernama lengkap Bondan Haryo Winarno ini melakukan investigasi terhadap sebuah perusahaan yang melakukan penambangan emas di Busang, Kalimantan Timur. Perusahaan tersebut adalah Bre X Minerals Ltd, sebuah perusahaan tambang yang berpusat di Calgary, Kanada. David Walsh mendirikan perusahaan ini pada awal tahun 1988.

Pertemuan David Walsh dengan John Felderhof menjadi awal dari kisah penipuan ini. Pada Maret 1993, dalam suatu pertemuan di Jakarta, Felderhof berhasil membujuk Walsh untuk mendanai eksplorasi emas di Busang, Kalimantan Timur. Felderhof menyarankan agar Walsh mengakuisisi properti milik Montague Gold NL yang telah dieksplorasi antara tahun 1987-1989. Namun karena tidak memiliki dana untuk mengakuisisi properti tersebut, Walsh pun kembali ke Kanada. Di sana ia segera meniup terompet Bre-X dan menawarkan sahamnya di Alberta Stock Exchange bermodalkan potongan-potongan artikel dari koran.

Dalam waktu singkat, David Walsh segera memperoleh dana yang ia butuhkan berkat kepiawaiannya menjual saham. Pada Juli tahun 1993, Bre X akhirnya membeli properti milik Montague Gold NL tersebut. Dua bulan kemudian, perusahaan ini telah mulai melakukan pengeboran di Busang. Dalam pengeboran pertama ini, John Felderhof yang kemudian menjadi Senior Vice President Bre-X, mengatakan bahwa ia telah menemukan adanya potensi emas sejumlah 1,5 hingga 2 juta ons disana.

Setelah pengeboran pertama tersebut, klaim jumlah potensi emas yang ditemukan oleh Bre-X semakin meningkat. Hingga Februari 1997, Bre-X mengatakan potensi emas di Busang mencapai 70,95 juta ons emas. “The biggest thing in the world! It’s so big. It’s scarry. It’s so fucking big!”  kelakar Felderhof waktu itu.

Harga saham Bre-X yang pada tahun 1989-1992 berkisar antara 27 sen dollar Canada, bahkan pernah mencapai 2 sen saja, akhirnya meningkat setelah penemuan ini. Pada Mei 1996, harga saham Bre-X yang tercatat di Toronto Stock Exchange bahkan sempat mencapai tingkat 201,75 dollar Canada.

Namun, ledakan saham Bre-X ini tak berlangsung lama. Sekitar sepuluh bulan kemudian, tepatnya pada Maret 1997, Freeport-McMoRan menyatakan bahwa jumlah potensi emas di Busang tidaklah besar. Bahkan, Strathcona Mineral Services, sebuah perusahaan penguji yang diminta Bre-X untuk menguji potensi emas di Busang mengatakan, “there appears to be a strong possibility that the potential gold resources has been overstated, because of invalid samples and assaying of those samples.”

Harga saham Bre-X pun lantas jatuh. Sangat jatuh. Pada Mei 1997, harga saham Bre-X terpuruk hingga seharga 8 sen.

***

To: Mr. John B. Felderhof + All My Friends

Sorry I have to leave.

I cannot think of myself a carrier of hepatitis “B”.

I cannot jeopardise your lifes, same w/ my loved ones.

God bless you all.

No more stomach pains!

No more back pains!

Surat di atas ditulis oleh De Guzman sebelum ia mengakhiri hidupnya. Tak seorang pun mengira bahwa geolog berkewarganegaraan Filipina ini akan bunuh diri. Malam sebelum ia bunuh diri, tepatnya pada 18 Maret 1997, ia bahkan sempat bersenang-senang di sebuah tempat minum di Balikpapan bersama teman-temannya. Rudy Vega, seorang ahli metalurgi dari Filipina yang juga teman De Guzman yang ikut dalam kemeriahan malam itu mengatakan, “pesta itu saya rasa bahkan lebih meriah daripada semua pesta ulang tahun Michael sebelumnya. He behaved like he was on the top of the world.”

He was on the top of the world! Kesimpulan ini juga dimiliki Bondan sewaktu mendengar berita kematian De Guzman. Hal inilah yang menyebabkan Bondan berpikir bahwa kematian De Guzman dirasanya tidak biasa. Awal ketertarikan Bondan dalam meliput kasus Bre-X bermula dari kematian De Guzman yang dinyatakan bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari helikopter yang sedang terbang di atas hutan Kalimantan. “Di situ saya mengatakan ini ngga mungkin. Seorang wartawan investigatif itu punya sesuatu yang namanya professional skepticism, dia udah ngumpulin duit begitu banyak kok tiba-tiba sekarang bunuh diri,” jelas Bondan.

Empat hari kemudian kecurigaan Bondan pun semakin menemukan alasannya. Mayat De Guzman ditemukan oleh Martinus, seorang karyawan Bre-X yang turut membantu tim SAR mencari mayat De Guzman. “Perasaan saya bicara lain ketika disuruh mengikuti rombongan pencari, karena itu, saya ajak Tahir menyisir hutan yang sulit dilalui manusia,” ungkap Martinus pada Kompas waktu itu.

Akhirnya setelah bersusah payah menyusuri rawa, Martinus dan Tahir pun menemukan mayat De Guzman. Ketika pertama kali ditemukan, mayat itu berada dalam posisi tertelungkup di pinggir pohon yang besar.

Ketika melihat foto mayat De Guzman kemudian, Bondan mengatakan bahwa hal ini tidak mungkin. “Saya pernah lihat orang yang jatuh dari 1.500 kaki itu sudah ngga berbentuk manusia, tapi sudah setumpuk daging sama tulang, jadi kalau 800 kaki, ya hancur, ngga akan seperti itu,” ucap Bondan. Kesimpulan Bondan ini kemudian diperkuat oleh seorang dokter di bagian otopsi National Bureau of Investigation (NBI) di Filipina. Dokter tersebut mengatakan bahwa ciri-ciri trauma pada mayat yang ditemukan tersebut tak tampak seperti jatuh dari ketinggian 800 kaki. Namun lebih tampak jatuh dari ketinggian sebuah pohon kelapa.

Saat itu Bondan memutuskan bahwa kejadian ini tidaklah benar. Pria kelahiran Surabaya, 29 April 1950 ini menganggap ada kejadian besar di belakang peristiwa ini. Oleh karena itu, beberapa hari kemudian dimulailah reportase Bondan di lapangan. Dalam waktu sebulan, ia melakukan reportase di Kalimantan, Filipina, hingga Kanada.

Sebelum kematian De Guzman, Bondan sebenarnya telah mengamati kasus Bre-X. Artikelnya tentang penambangan yang dilakukan oleh Bre-X bahkan sempat dimuat oleh The Wall Street Journal pada 24 Januari 1997. Artikel itu dimuat dengan judul All That Glitters: The Indonesian Gold Crush. Setelah pemuatan itulah Bondan dianggap sebagai ahli tambang. “Jadi tiba-tiba pak Kuntoro mengundang saya untuk diskusi di kantornya di Dirjen Pertambangan Umum dengan para Geolog. Itu mereka memanggil saya prof, saya kaget,” ujar Bondan seraya tertawa.

“Pak, saya bukan geolog, justru dalam pertemuan ini saya ingin dengar dari bapak-bapak yang memang ahli-ahli di bidang geologi,” jawab Bondan waktu itu. Pada akhir diskusi tersebut, mereka semua sepakat dengan Bondan bahwa secara geologis Kalimantan tidak memiliki potensi emas yang besar. Kuntoro yang dimaksud oleh Bondan adalah Kuntoro Mangkusubroto, Direktur Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi waktu itu.

Meski tidak memiliki kartu pers, Bondan tetap terus melakukan reportase. Dulu ia memang sempat bekerja di dunia pers, mulai dari kameramen di Departemen Pertahanan dan Keamanan, hingga menjadi pemimpin redaksi majalah SWA. Namun, ia akhirnya memutuskan keluar dari dunia pers untuk sementara waktu dan menjadi pengusaha agar dapat membiayai pendidikan anak perempuannya yang bernama Gwendoline di Amerika.

Sopan santun adalah modal Bondan dalam menemui narasumber. Hal ini pula yang menyebabkan Yohanes, seorang penjaga gudang Bre-X di Loa Duri, sebuah desa di pinggir sungai dekat Samarinda, bersedia menerimanya. Padahal sebelumnya, semua wartawan yang datang ke sana diusir oleh Yohanes.

Bermodalkan sopan santun, Bondan pun datang kesana. Pintu gudang diketuknya. Tak lama kemudian, Yohanes pun muncul dari balik pintu.

“Selamat sore pak, nama saya Bondan Winarno, saya dari Jakarta, saya mau menulis buku tentang Bre-X.”

“Anda bukan dari wartawan koran?”

“Bukan, saya mau nulis buku, tapi anda boleh juga menyebut saya wartawan untuk menulis buku itu.”

“Bukan dari Kompas?”

“Bukan.”

“Bukan dari TEMPO?”

“Bukan.”

“Ya sudah, masuk.”

Seperti kebiasaannya, dalam beberapa peliputan Bondan selalu membawa rokok meskipun ia sendiri tidak merokok. Ditawarkannya rokok itu pada Yohanes. Setelah beberapa hisapan, meluaplah kemarahan Yohanes.

“Wartawan Kompas itu bohong pak, saya sudah ngomong gini-gini dia nulisnya lain, apalagi itu yang dari The Wall Street Journal, sampai saya diuber-uber orang, disangkanya peracunannya di sini,” ungkap Yohanes kesal.

Pada waktu itu, beberapa pemberitaan di media massa mengatakan bahwa gudang Bre-X di Loa Duri dijadikan sebagai tempat peracunan inti bor. Dalam istilah geologi, peracunan inti bor itu dikenal sebagai salting. Dalam kasus Bre-X, peracunan ini bertujuan untuk membuat daerah pengeboran tampak memiliki kandungan emas yang tinggi.

Yohanes pun lantas mengemukakan alasannya dan menunjukkan bukti-bukti pada Bondan kenapa gudang di Loa Duri tidak mungkin menjadi tempat peracunan inti bor. Reportase Bondan kemudian juga membuktikan ketidakmungkinan terjadinya peracunan inti bor di Loa Duri.

Dalam melakukan reportase, Bondan kerapkali mengalami kesulitan. Namun, kesulitan yang sangat dirasakan Bondan waktu itu disebabkan karena ia sudah berangkat dengan suatu kesimpulan. Kesimpulan itu ialah bahwa De Guzman belum mati. “Kesimpulan itu adalah hasil deduksi dan tidak ada orang yang percaya kecuali saya sendiri,” ucap Bondan.

“Deduksi itu adalah mengumpulkan semua informasi sekecil apapun kemudian merangkainya dan melihat kaitannya dengan ini, kaitannya dengan ini, kaitannya dengan ini, berarti kesimpulannya seperti ini,” jelasnya kemudian.

Saat mengemukakan teorinya tentang De Guzman yang melakukan cheating death, Bondan mengatakan ia dimusuhi oleh wartawan-wartawan The Wall Street Journal. “Wartawan-wartawan mereka itu tiba-tiba memusuhi saya karena saya mengatakan bahwa The Wall Street Journal salah dengan teori gudang Loa Duri itu sebagai tempat salting, mereka malu di situ,” kenang Bondan.

Bondan merupakan orang pertama yang mengemukakan teori bahwa kematian De Guzman merupakan sebuah penipuan. Wartawan The Wall Street Journal tidak percaya pada teori ini awalnya. Namun sepuluh tahun kemudian, di tahun 2007 kemarin, wartawan The Wall Street Journal ini menelepon Bondan.

“Bondan kamu benar.”

“Benar apa?”

“Ya, sekarang kita mendapat informasi bahwa De Guzman ada di Brazil, dan istrinya, Genie yang ada di Palangkaraya, masih tetap dapat kiriman uang.”

“Ok, tapi saya sudah malas untuk mengejar lagi.”

Bondan Winarno. (Henry Adrian)
Bondan Winarno. (Henry Adrian)

***

Setelah merugikan para investornya lebih dari 6 miliar dollar Kanada, Bre-X akhirnya bangkrut pada tahun 2002. John Felderhof dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan Kanada pada 31 Juli 1997. Koran Canadian Bussines menyebut peristiwa itu sebagai kekalahan Kanada dalam perang melawan penjahat kerah putih.

Dalam pengadilan itu, Felderhof disidangkan dengan tuduhan menyebarkan isu yang menyesatkan dalam perdagangan saham dan melakukan insider trading. Insider trading adalah istilah yang merujuk pada perdagangan saham atau sekuritas suatu perusahaan yang dilakukan oleh orang-orang dalam perusahaan tersebut. Dalam beberapa kasus, praktik ini legal di depan hukum. Meski begitu, praktik ini dapat menjadi ilegal ketika perdagangan saham dilakukan berdasarkan informasi internal perusahaan yang tidak disediakan untuk umum. Selain tidak adil, hal ini akan menghancurkan bursa efek karena merusak kepercayaan investor.

Pada awal Juni 1998, David Walsh meninggal dunia karena serangan jantung di Nassau Bahama. Saat harga saham Bre-X sedang tinggi, ia membeli rumah mewah di pulau ini. Dalam lembar tambahan yang disisipkan di bukunya, Bondan mengatakan bahwa Walsh adalah seorang perokok dan peminum berat, serta memiliki masalah kelebihan berat badan.

De Guzman belum ditemukan hingga saat ini. Meski begitu, pada 26 Mei 2007 koran Calgary Herald mengabarkan De Guzman sempat mengirim uang pada Genie, istri keduanya yang bernama asli Sugini Karnasih yang tinggal di Indonesia. Dalam artikel berjudul The Mystery of Michael de Guzman tersebut, De Guzman dikabarkan menelepon rumah Genie enam pekan setelah ia dikabarkan tewas. Telepon itu diangkat oleh pembantu Genie. Dalam percakapan di telepon itu, De Guzman meminta Genie memeriksa rekeningnya. Setelah diperiksa, ternyata Genie memperoleh kiriman uang sebesar 200 ribu dollar Amerika.

Pada tahun 2005, Genie menerima fax dari Brazil. Dalam fax tersebut, Genie mendapat pemberitahuan bahwa ia menerima kiriman uang sebesar 25 ribu dollar Amerika. Kiriman itu ia terima pada hari Valentine, yang bertepatan dengan hari ulang tahun De Guzman.

***

“Sepanjang sejarah, kalau sudah soal emas orang jadi kehilangan akal, akal sehatnya ngga jalan. Seolah-olah di kaki pelangi itu akan ada emas yang berbukit-bukit,” ungkap Bondan menjelaskan maksud dari judul buku Bre-X: Sebungkah Emas Di Kaki Pelangi, yang ditulisnya. Buku ini banyak disebut sebagai the best investigative report yang ditulis oleh orang Indonesia.

Namun ironisnya, pengakuan itu baru datang beberapa tahun setelah buku ini pertama kali diterbitkan. “Pertama kali muncul pengakuan itu saya kira sekitar tahun 2003 oleh ISAI (Institut Studi Arus Informasi). Andreas Harsono memakai buku itu sebagai suatu contoh dalam pelatihan di bidang jurnalisme investigasi,” ungkap Bondan. Andreas Harsono adalah anggota International Consortium for Investigative Journalists (ICIJ) di Indonesia selain Goenawan Mohamad, salah satu pendiri majalah TEMPO. “Sekarang kan buku saya dianggap oleh ISAI sebagai buku jurnalisme investigasi terbaik, saya bilang, ya, ok, terlambatlah,” lanjut pria yang sejak kecil sudah bercita-cita menjadi wartawan ini seraya tertawa.

Beberapa waktu setelah buku ini beredar, Bondan akhirnya menarik buku ini dari pasaran karena adanya tuntutan dari Ida Bagus Sudjana, Menteri Pertambangan dan Energi waktu itu. Sudjana menuntut Bondan atas dasar pencemaran nama baik dan meminta ganti rugi sebesar 1 triliun rupiah serta pemasangan iklan permohonan maaf di sepuluh media cetak di Jakarta dan dua media cetak di Bali.

Salah satu penyebab tuntutan Sudjana ini disebabkan karena Bondan menulis tentang inkompetensinya dalam hal kebijakan tambang. Namun, tulisan Bondan mengenai hal ini bukanlah tanpa dasar. Pers asing seperti Canadian Bussines menguatkan inkompetensi Sudjana ini. Brian Hutchinson, seorang wartawan Canadian Bussines mengatakan dalam salah satu artikelnya, “The tall, stiff Sudjana has no grasp of the technicalities of mining. He is completely incompetent, he leaves everything to his advisers.” Bahkan, mantan anak buah Sudjana menelepon Bondan dan mengatakan, “pak Bondan, dia sekarang sudah bukan bos saya, jadi kalau bapak mau, saya bersedia menjadi saksi, karena semua pidato dia di luar negeri saya yang bikin,” ujar Bondan menirukan ucapan mantan anak buah Sudjana.

Menurut Bondan, latar belakang tuntutan Sudjana itu sebenarnya adalah tuduhan bahwa ia dibayar oleh Kuntoro Mangkusubroto untuk menulis buku tersebut. Tuduhan inilah yang menjadi salah satu hal paling menyakitkan yang diterima Bondan setelah menulis buku ini. “Itu untuk saya sangat memalukan. Dia menyangka saya itu seorang wartawan kere (miskin) yang ngga punya duit. Jadi dia heran kok ini orang bisa ke mana-mana. Tapi dia lupa, sebelum melakukan itu kan saya sudah pernah jadi presiden dari Ocean Beauty di Amerika. Lihat saja gaji saya berapa, ngga usah susah-susah. Itu untuk menunjukkan bahwa saya a man of resources. Saya mampu mendanai semua itu dari uang saya sendiri. Itu bukan untuk menyombongkan diri, tapi kenyataannya memang begitu,” ungkap Bondan kesal.

Di pengadilan, terdapat informasi bahwa Bondan dibayar oleh Kuntoro. Menurut Bondan, kalau seseorang menulis atas pesanan seseorang, maka nama orang yang memesan itu akan ditulis paling banyak. Padahal ketika dihitung, nama Ida Bagus Sudjana lebih banyak disebutkan oleh Bondan daripada nama Kuntoro Mangkusubroto. “Lha kalau dilihat dari sini yang paling pantas membayar saya malah bapak,” jelas Bondan pada Ida Bagus Sudjana waktu itu.

Bondan pun menolak jika dikatakan dalam bukunya ia terlalu memuji Kuntoro. “Kalau mengagung-agungkan menurut saya ngga, karena saya tulis apa adanya, memang dia bener kok di situ. Coba aja, ada ngga kalimat yang ngga perlu yang saya tulis mengenai Kuntoro, yang ngga ada kaitannya dengan ini, ya ngga ada. Saya memang kenal sama pak Kuntoro, itu bukan rahasia. Tapi itu bukan berarti saya dibayar dia, yang bener aja,” ungkap Bondan sedikit emosi.

Hal lain yang menyakitkan Bondan adalah karena tidak adanya dukungan dari sesama wartawan atas tuntutan yang diterima Bondan. “Karena saya memang tidak mewakili siapa-siapa, saya tidak mewakili lembaga, saya kan atas nama diri sendiri dan mereka tidak melihat itu. Mungkin kalau saya mati baru mereka membela. Tapi karena saya ngga mati ya sudahlah, it’s your own, itu salib kamu sendiri, pikul sendirilah,” ujar Bondan mengemukakan alasan kenapa tidak ada wartawan yang mendukungnya saat itu. “Padahal waktu TEMPO disikat sama Tomy Winata, saya jadi ketua untuk Gerakan Anti Premanisme. Waktu itu, yang mau membela saya justru World Bank,” tambahnya.

Saat tuntutan Sudjana ini bergulir ke meja hijau, Bondan bekerja sebagai konsultan di World Bank. Suatu ketika, Bondan mengantar Dennis de Tray, Country Director World Bank untuk bertemu dengan Hartarto, Menteri Koordinator dan Distribusi waktu itu. Setelah Bondan memperkenalkan diri, Hartarto pun membentak Bondan dengan suara tinggi, “Oo..kamu ya yang namanya Bondan Winarno!” Bondan pun menjawab, “iya pak.” Namun, Hartarto pun segera memelankan suaranya setelah tersadar bahwa Dennis de Tray juga berada di sana bersama Bondan.

Setelah pertemuan itu, Dennis pun bertanya pada Bondan.

“Kenapa kamu dibentak sama Hartarto?”

“O iya, dalam kasus Bre-X itu saya mempersoalkan keterlibatan Airlangga Hartarto, anak dia di Bre-X.”

“Lho ada masalah apa?”

Bondan pun lantas menceritakan perihal tuntutan Sudjana itu kepada Dennis.

“Bondan, kamu jangan sampai takut ya menghadapi ini, kita bantu ongkos perkaranya.”

“Ngga mau”

“Ini bukan dari World Bank, tapi dari teman-teman kamu di World Bank.”

“Ngga mau, karena begitu ketahuan saya terima uang dari kamu dan teman-teman, nanti akan ada cerita lain. Please, saya terima kasih kamu kasih dukungan moral, ini berat untuk saya tapi biar saya bayar sendiri,” ucap Bondan waktu itu.

Dukungan dari World Bank ini sangat berarti bagi Bondan. Saat terjerat kasus ini, Bondan menyampaikan pengunduran dirinya pada World Bank. Peraturan World Bank tentang pegawainya yang terlibat dalam masalah hukum sangat tegas. Apalagi Bondan saat itu dituntut secara pidana dan perdata. Namun World Bank justru tidak menerima pengunduran diri Bondan ini. “Ngga, kamu ngga mengundurkan diri, kamu tetep, kita tahu bahwa masalah kamu adalah masalah yang justru menegakkan anti korupsi,” ucap Bondan menirukan penjelasan World Bank waktu itu.

Sebelum tuntutan Sudjana ini bergulir ke meja hijau, Bondan sebenarnya sudah akan menerbitkan buku ini dalam bahasa Inggris. Dalam waktu cepat, Bondan telah menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Inggris, bahkan ia telah membayar seorang editor Kanada bernama Wendy Thomas.

“Tadinya itu pertimbangannya betul-betul bisnis waktu saya mau setengah mati membuat buku itu selesai dalam satu bulan dan menerbitkannya sendiri. Saya pikir buku ini bakal laris, yang dalam bahasa Inggris juga laris, bahkan bisa jadi film di Hollywood sana, saya akan meraup keuntungan lah. Tapi semuanya gagal hanya karena tuduhan yang kemudian menyulitkan saya,” ungkap Bondan. Bondan pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk menerbitkan buku ini dalam edisi bahasa Inggris. Sebuah keputusan yang lantas disesali oleh Bondan kemudian.

Teror merupakan hal yang ditakuti Bondan saat itu. Suatu ketika, istri Bondan yang bernama Yvonne Raket ketakutan karena ditelepon oleh seseorang yang mengaku sebagai tentara. Orang itu mengatakan akan menyita rumah Bondan. Saat itu Bondan berkata pada istrinya, “ya sudahlah, kalau kita memang akan kehilangan semuanya apa boleh buat, karena kita berhadapan dengan penguasa.”

Meski akhirnya Bondan kalah di pengadilan, namun tuntutan Sudjana itu tidak pernah dipenuhi Bondan. Hal ini disebabkan karena Sudjana telah meninggal dunia terlebih dahulu. “Untuk dia poinnya cuma satu, dia sudah bisa menyatakan bahwa dia menang di pengadilan. Pengadilan yang dia bayar tentunya,” ucap Bondan.

***

Meski sempat menuai hasil pahit dari jerih payahnya menulis kasus Bre-X, Bondan tidak kapok untuk melakukan reportase investigasi lagi. Menurut Bondan, selama ada burning issue yang membakarnya seperti kematian De Guzman, ia tak akan ragu untuk turun lagi ke lapangan.

Sebenarnya saat ini ada sebuah burning issue yang membuat Bondan ingin kembali melakukan investigasi, yaitu masalah impor beras. Namun menurut Bondan, hal ini berada di luar kemampuannya.

Dalam masalah ini, Bondan mempertanyakan kebijakan impor beras yang dilakukan oleh pemerintah. “Jangan-jangan ini semua adalah isu-isu yang dibuat sedemikian rupa sehingga kita percaya. Jangan-jangan sebetulnya kita cukup beras. Saya ngoyo (bekerja keras) untuk mencari tahu jawaban-jawabannya karena beras adalah komoditas politik. Beras adalah komoditas korupsi. Di situ ada kepentingan-kepentingan yang mempertahankan tetap berlangsungnya impor beras,” jelas Bondan.

Bagi Bondan, terdapat dua modal utama yang harus dimiliki oleh seorang wartawan investigasi. Kedua bekal itu adalah otak dan nurani. “Kalau tanpa otak, ngga ketemu itu, tapi kalau ngga ada nurani, ini semua ngga bisa dirangkai,” tegas pria yang berpendapat bahwa tantangan menjadi seorang wartawan adalah harus berani miskin.

Jiwa investigasi Bondan tidak dapat dilepaskan dari sosok Lord Baden Powell, seorang Letnan Jenderal kelahiran Inggris yang menjadi idolanya sejak kecil. Baden Powell adalah seorang intelijen yang menjadi pendiri gerakan kepanduan dunia. “Saya berpikir ini orang cerdas betul, berarti intelijen itu bukan kayak spion-spion melayu saja, tapi betul-betul orang yang dengan otaknya mencari segala macam informasi untuk mengambil suatu kesimpulan. Nah, semangat itu yang ada di diri saya sejak kecil,” ungkap pria yang pernah menerima Baden Powell Adventure Award pada tahun 1967 ini ketika mengikuti Jambore Dunia yang ke 12 di Idaho, Amerika.

Sebelum menerbitkan buku tentang kasus Bre-X, Bondan juga pernah menerbitkan buku tentang kasus Tampomas. Dalam buku berjudul Neraka Di Laut Jawa tersebut, Bondan melakukan investigasi atas kecelakaan kapal Tampomas II di laut Masalembo. Saat itu Bondan mengatakan letak kesalahan yang menyebabkan ratusan korban meninggal dunia adalah Junus Efendi Habibie, atau yang lebih dikenal dengan nama Fanny Habibie, adik kandung B.J. Habibie yang waktu itu menjabat sebagai Dirjen Perhubungan Laut.

Malam ketika kapal Tampomas II sedang terbakar di laut Masalembo, Fanny Habibie berbicara di TVRI dan mengatakan bahwa keadaan sudah terkendali. Akibatnya, kapal dari Angkatan Laut Surabaya yang sudah berangkat untuk menarik kapal Tampomas II justru kembali lagi. Padahal keesokan paginya, kapal Tampomas II tersebut masih terbakar. Ketika kapal dari Angkatan Laut Surabaya hendak berangkat kembali menuju lokasi terbakarnya kapal Tampomas II, mesin kapal ini justru tidak mau jalan. “Itu sebabnya sampai sekarang pak Fanny Habibie itu memusuhi saya, karena saya menunjuk kesalahannya kamu! Kenapa sih pakai gengsi-gengsian, wong kapal terbakar kok dibilang sudah terkendali,” ungkap Bondan kesal.

***

“Ketika saya berumur 48 tahun, saya takut akan mati di usia muda,” ucap Bondan sedikit menerawang. Oleh karena itu, pada usia 50 tahun Bondan memutuskan untuk pensiun. Ketakutan ini disebabkan karena ayah Bondan, Imam Soepangat, meninggal di usia 55 tahun, sedang kakak lelakinya, Harso Widodo, meninggal di usia 52 tahun. “Jadi saya pikir, umur saya barangkali cuma 55,” lanjut anak ketiga dari delapan bersaudara ini.

Bondan akhirnya sempat pensiun, namun hal ini tak berlangsung lama. Pada tahun 2001, ia diminta untuk menjadi Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan. “Waktu itu saya diminta untuk membantu, ya saya hanya setuju untuk tiga tahun saja,” ujar Bondan.

Ketertarikan Bondan pada liputan kuliner bermula pada tahun 2004 ketika ia telah menyelesaikan pekerjaannya di Suara Pembaruan dan memutuskan untuk pensiun. Meski telah pensiun, Bondan tidak ingin berhenti menulis. Saat itulah, Ninok Leksono dari Kompas menawarinya untuk menjadi penulis kolom di Kompas Cyber Media.

“Mas, nulis sing gampang-gampang wae, sing enteng-enteng.”

Opo?

“Ya pariwisata, travel, jalan-jalan, kan mas Bondan suka jalan-jalan.”

“O iya to, boleh.”

Akhirnya Bondan pun mulai menulis tentang pariwisata di kolom Jalansutra. Jalansutra berarti pengetahuan tentang jalan-jalan. Semula, Bondan menulis tentang jalan-jalannya, tapi lambat laun ia pun mulai menulis tentang kuliner. “Jadi as simple as that, mencari bidang yang belum digeluti sama orang,” jawab Bondan perihal awal mula ketertarikannya meliput di bidang kuliner.

Menurut Bondan, dunia kuliner bisa menjadi sebuah kekuatan ekonomi. “Orang yang dalam kategori pengusaha di Indonesia ada 52 juta. Dari 52 juta ini, yang kelasnya di atas sepuluh milyar itu kurang dari dua juta. Jadi selebihnya, yang 50 juta ini pedagang-pedagang kecil. Nah, dari 50 juta ini, yang terbanyak bergerak di bidang makanan. Baik yang mulai berkebun, ke pasar, sampai makanan jadi. Sudah pasti. Kalau ngga percaya itung aja,” ujar penggemar makanan Manado ini seraya tertawa.

Oleh karena itu, Bondan tidak menganggap sebelah mata dunia kuliner. Jutaan pengusaha yang bekerja di bidang kuliner adalah pengusaha gurem, sehingga menurutnya, isu kuliner ini harus diperbaiki. “Masa depan anak-anak itu tergantung pada makanan, kalau makanannya ngga bener, ngga bener juga nanti masa depannya,” jelas Bondan.

“Saya itu sedang mencari makanan apa sih yang sebetulnya bisa menjadi makanan bangsa Indonesia yang baik, akhirnya saya temukan itu. Namanya dalam bahasa Jepang adalah Konyaku,” ungkap Bondan. Konyaku terbuat dari umbi yang di Jawa dikenal dengan nama iles-iles. Iles-iles ini banyak terdapat di Indonesia, Cina, dan India. Dilihat dari segi kesehatan, kelebihan Konyaku adalah nol kalori. Sedangkan dari segi pertanian, kelebihan Konyaku adalah ia tidak membutuhkan banyak air seperti padi. “Dan ternyata proses produksinya juga simpel, jadi secara teknis kita sudah bisa membuatnya,” tambah Bondan yang mulai tahun 2010 ini tidak pernah makan nasi di rumah karena ingin mengurangi tingkat konsumsi beras.

Ketika ditanya tentang hal apa yang ingin dilakukan namun belum kesampaian hingga saat ini, dengan bergurau Bondan menjawab, “saya pengen jadi Duta Besar tapi ngga tau ngelamarnya ke mana,” katanya seraya tertawa. Namun, gurauan ini segera tergantikan oleh jawaban serius Bondan selanjutnya, ia ingin jadi motivator. “Sekarang itu kan banyak motivator, tapi kalau anda perhatikan, semua motivator ini honornya besar sekali. Sekali ngomong bisa 50 juta, paling murah itu katanya 20 juta. Lha, lalu yang dimotivasi itu siapa kalau honornya segitu. Anda ngga kuat bayar, ngga bisa ikut seminar mereka,” ungkapnya.

Suatu ketika, karena penasaran Bondan datang ke suatu acara motivasi. Baginya, acara motivasi yang dihadirinya waktu itu hanya omong kosong. Hal inilah yang mendorongnya untuk menjadi motivator. “Saya ngga perlu dibayar, saya ngga mau dibayar, tapi saya kepingin dikasih tempatnya, dikasih panggungnya untuk ngomong,” ujar Bondan.

Buruknya Sumber Daya Manusia di Indonesia menjadi alasan Bondan ingin menjadi seorang motivator. Ia menjelaskan hal ini dengan mengacu pada rendahnya tingkat Human Development Index (HDI) di Indonesia yang diterbitkan setiap tahun oleh United Nations Development Programme (UNDP). “Kalau saya lihat angka ini saya malu. Tapi apakah calon-calon presiden kemarin memakai angka-angka itu sebagai suatu janji kampanye mereka. Ngga ada. Jangan-jangan mereka juga ngga tahu bahwa kondisi kita itu begitu terpuruk,” ungkap pria yang pernah kuliah di jurusan arsitektur Universitas Diponegoro namun akhirnya tidak diselesaikan karena masalah ekonomi ini.

“Jadi kita harus mengubah itu. Mengubah dengan apa, ya sudahlah, anda akan menjawab sistem persekolahan yang jelek segala macam, tapi jangan percaya sama sekolah dong kalau gitu, percaya sama diri sendiri. Ambil nasib kamu ke tangan kamu sendiri sekarang! Jangan nunggu siapa-siapa. Perbaiki dirimu sekarang!” tegas Bondan dengan nada serius.