Resensi Film September 14, 2017

Babi Buta yang Ingin Terbang

Film ini dibuka dengan pertandingan bulutangkis nomor tunggal putri antara Indonesia melawan Cina. Pertandingan yang disiarkan di televisi itu begitu seru sehingga antiklimaksnya diucapkan oleh seorang bocah yang bertanya, “Yang Indonesianya yang mana, Ma?” Sebuah pertanyaan yang amat kritis, karena kebanyakan orang melihat Verawati—atlet bulutangkis Indonesia, yang diperankan oleh Elizabeth Maria—tak berbeda dengan atlet dari Cina daratan. Sebuah pertanyaan yang mempertanyakan nasionalisme orang Tionghoa Indonesia.

Sudah banyak kejuaraan yang diikuti oleh Verawati untuk mengharumkan nama Indonesia. Namun yang menjadi dilema serta masalah yang selalu dialami oleh Verawati bukanlah tentang lomba-lomba tersebut, namun tentang ras yang ia miliki karena ia adalah keturunan etnis Tionghoa. Hal tersebut sering kali membuat Verawati tersudut karena banyak orang yang mempertanyakan tentang nasionalismenya. Sesuatu yang ternyata tidak bisa digantikan meski dengan banyaknya piala yang sudah ia berikan untuk Indonesia.

Cerita film ini kemudian bercabang terhadap kehidupan Linda (Ladya Cheryl) yang mempunyai sahabat seorang lelaki bernama Cahyono (Carlo Genta) yang merupakan keturunan Manado. Persahabatan mereka berlanjut sampai mereka beranjak dewasa yang disajikan dengan alur yang maju-mundur tak beraturan antara masa sekarang dan masa lalu. Cahyono yang berteman baik dengan Linda, seorang keturunan Tionghoa, membuat Cahyono harus menahan beberapa komentar pedas terhadapnya. Banyak yang menduga bahwa Cahyono juga bukan orang Indonesia namun orang Cina karena ia dekat dengan Linda. Hal tersebut ternyata membuat orang tua Cahyono sudah tidak tahan lagi. Mereka memutuskan untuk memisahkan Cahyono dengan Linda.

Halim (Pong Hardjatmo) adalah seorang dokter gigi yang cukup sukses dengan usianya yang masih muda. Pencapaiannya yang sering kali membuat Halim menerima banyak pujian. Ia merupakan suami Verawati dan ayah Linda. Namun Halim ternyata selama ini menyembunyikan sesuatu dari banyak orang. Ia menyembunyikan kenyataan bahwa ia adalah keturunan etnis Tionghoa. Untuk menyembunyikan hal tersebut, sering kali Halim menggunakan kacamata hitam.

Kacamata hitam tersebut berguna untuk menutupi matanya yang sipit sehingga tidak diketahui oleh orang lain. Ada satu keinginan besar dari Halim yaitu ia tidak ingin memiliki mata yang sipit. Ia ingin sekali memiliki mata bulat yang besar seperti milik kebanyakan orang lain. Halim seakan ingin membuang segala sesuatu yang menghubungkannya dengan keturunan aslinya tersebut.

Karakter-karakter dalam film ini menjalani hidup keseharian mereka secara fundamental dalam perbedaan antara mereka dengan masyarakat sekitar. Pencarian jati diri dilakukan “mostly” dalam kebingungan mereka untuk lebih diterima masyarakat sekitar, walau masyarakat tersebut tidak menyuruh mereka langsung untuk berubah secara fisik. Halim memakai benda sejenis selotip yang dapat membuat matanya terlihat mempunyai lipatan layaknya masyarakat pribumi Indonesia pada umumnya, dan Cahyono yang lebih baik mendandani dirinya seperti orang Jepang karena cita-citanya sedari kecil adalah menjadi apa saja kecuali menjadi orang Cina. Hanya Linda yang terlihat tenang dan sabar menyaksikan tingkah ayah dan sahabatnya itu sembari menunggu waktu tepat kapan waktunya dia bisa “terbang”, dengan memendam rasa penasaran karena tidak tahu sebab pasti perceraian kedua orang tuanya, dan selalu ada untuk menghibur sahabatnya yang masih menerima perlakuan “bully” hingga saat dewasa karena berdandan ala orang Jepang.

Film yang memiliki judul internasional Blind Pig Who Wants To Fly ini merupakan komedi yang sarkastis, sinis, dan gelap. Minim dialog, awas dan sensitif dengan problematika sosial di sekitarnya, berani mengambil resiko, penuh metafora, tetapi juga masih terasa takut untuk blak-blakan pada saat yang bersamaan.

Kebanyakan idenya direalisasikan pada adegan-adegan yang terasa layaknya sebuah film bisu komedi dan pada saat karakternya berbicara. Bahkan ketika adegan petasan mereka akan mengatakan sesuatu seperti layaknya membaca “cue card”. Kedewasaan Linda ditampilkan dengan keberhasilannya untuk melempar lampu neon yang terasa susah digapai saat dia kecil, atau petasan yang secara tidak langsung merefleksikan masalah rasisme yang mudah meledak apabila disulut sumbunya, dan lama-kelamaan akan menimbulkan bekas luka yang mendalam.

Frame demi frame disusun menjadi benar-benar bermakna. Dari Halim yang berbicara kepada Verawati tentang keinginannya untuk masuk Islam dan kawin lagi, namun Verawati hanya terdiam dalam kesendiriannya. Karakter Verawati sepertinya dibuat pasrah dan selalu terdiam dalam kesendiriannya. Tak banyak adegan Verawati di sini kecuali ketika dia membuat pangsit, representatif seorang Tionghoa yang hanya menjalani kehidupan sehari-hari baik dengan berdagang maupun berjuang demi negara secara diam-diam.

Edwin, sang sutradara, juga menganalogikan secara satir karakter Romi dan Yahya. Romi yang dimainkan oleh Joko Anwar begitu hidup, sehingga membuat keintiman antara tentara dan pengusaha yang diibaratkan sebagai sepasang gay yang begitu mesra, sehingga ada satu kalimat yang diucapkan oleh Romi kepada Yahya yang membuat saya sedikit “mual”.

“Kenapa kamu takut masuk ke dalam diriku? Kenapa kamu bilang kamu takut harga diriku hilang?”

I just want to feel you inside me.”

Mungkin orang awam yang mendengar dialog ini seakan mendengar dialog dua orang homo. Namun bagi saya, ini adalah kalimat yang mewakili “kemesraan” pengusaha dan militer dahulu, ketika dwifungsi ABRI belum dihapuskan. Siapa pun tahu kolusi yang diwakili oleh mereka.

Kolusi itu semakin menjadi ketika Halim yang meminta Romi untuk menggunakan kekuasaanya agar Salma (Andhara Early) bisa mengikuti kontes menyanyi. Namun, Romi tidak serta merta melakukan ini secara gratis, tetapi ada imbalannya, yaitu Romi dan Yahya bisa “memerkosa” harga diri Halim yang di dalam adegannya dilakukan secara vulgar.

Sampai pada satu ketika, peristiwa Mei 1998 terjadi, dan mereka berkumpul, namun hanya Halim dan keluarganya saja yang mengepak koper mencari keselamatan diri. Mengapa? Karena peristiwa ini memang berpengaruh pada semua pihak, tetapi hanya golongan Tionghoa menengah dan bawah saja yang paling parah terkena dampaknya.

Semua plot dibuat sedemikian rupa menarik sehingga menyerupai kaleidoskop kehidupan Tionghoa di Indonesia sebelum dan sesudah peristiwa Mei 1998, dan seperti apa permasalahan yang dihadapi oleh kaum muda Tionghoa yang di perankan oleh Linda.

Linda di sini mempunyai kegemaran memakan petasan. Petasan bagi budaya Tionghoa digunakan untuk mengusir setan. Setan di dalam film ini digambarkan sebagai identitas diri kaum muda Tionghoa yang malu mengakui bahwa dia adalah Tionghoa. Ada salah satu scene ketika Linda kecil terpaksa harus memanggil Kung-Kung-nya dengan sebutan “opa”, sebuah cara untuk meninggalkan identitas dan budaya Tionghoa dalam kehidupan mereka.

Adegan ditutup dengan seekor babi yang lepas dari ikatannya di tengah padang rumput yang luas. Sebelumnya, adegan babi ini sering dimunculkan di awal, tengah dan akhir film, di mana babi ini diikat dan memberontak untuk lepas ke alam luas. Pada akhirnya babi ini lepas dan dapat berlari bebas. Bagi saya, ini seperti identitas diri seorang Tionghoa yang bebas di masa sekarang, bisa menemukan kebebasan menjadi diri sendiri.

Babi Buta Yang Ingin Terbang adalah sebuah film yang ingin mengangkat tema yang cukup tabu, yaitu tentang jarak perbedaan antara ras pribumi dan ras keturunan, terutama ras Tionghoa di Indonesia. Film ini seakan ingin memberitahu bahwa meski orang-orang keturunan tersebut sudah memberikan yang terbaik untuk negeri ini, tapi tetap saja sumbangsih mereka dianggap hanya sebelah mata. Seperti tak ubahnya babi buta yang berharap bisa terbang.

Judul: Babi Buta Yang Ingin Terbang
Sutradara: Edwin
Pemain: Ladya Cheryl, Pong Hardjatmo, Carlo Genta, Joko Anwar, Elizabeth Maria, Andhara Early
Rilis: 3 Oktober 2008
Durasi: 77 menit
Genre: Drama