Reportase May 1, 2020

Bakmi Pentil: Kuliner Tradisional yang Melegenda dari Bantul

Warnanya yang kuning, teksturnya yang kenyal, rasanya yang gurih, dan bentuknya yang menyerupai pentil sepeda membuat makanan ini disebut bakmi pentil. Pemberian nama yang unik membuat orang penasaran untuk mencoba bakmi ini.

Bakmi pentil salah satu makanan tradisionanal legendaris di daerah Pundong, Bantul. Daerah ini memang terkenal dengan berbagai kuliner tradisionalnya yang tidak kalah nikmat dari kuliner-kuliner Yogya yang lainnya.

“Bakmi pentil ini, sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.” ungkap Wardani salah satu pembuat dan penjual bakmi  saat di temui di Pundong Srihardono, Bantul.   

Potret Wardani pengusaha bakmi pentil. ( Yosef Prabaswara Tisna Jati )

Wardani merupakan generasi kedua yang meneruskan usaha orang tuanya yang menekuni usaha ini kurang lebih 50 tahun. Ia menceritakan bahwa daerah Pundong memang terkenal dengan hasil alamnya yakni palawijaya, hal ini yang melatar belakangi mengapa singkong sebagai bahan baku utama dari mi pentil. Selain singkong, tepung tapioka menjadi bahan pelengkap dalam pembuatan mi pentil.

“Keunikannya terlihat mulai dari namanya ‘bakmi pentil’ dinamakan pentil karena bentuknya yang menyerupai pentil sepeda, mungkin sedikit aneh ya,” jelas Wardani sambil tertawa.

“Proses pembuatan bakmi pentil juga unik, dengan menginjak-injak adonan mi dengan kaki sebelum dimasukkan ke dalam alat penggiling. Bentuknya yang menyerupai pentil serta teksturnya yang kenyal didapat dari proses menginjak-injak adonan mi yang kemudian digiling menggunakan mesin giling,” imbuhnya sembari memperagakan proses menginjak-injak adonan mi.

Proses penggilingan mi. ( Yosef Prabaswara Tisna Jati )

Bakmi pentil biasanya disajikan dalam dua warna, yakni kuning dan original putih, hal ini juga semakin membuat mi pentil berbeda dengan bakmi-bakmi yang lainnya. Wardani menceritakan warna kuning itu bisa didapatkan menggunakan kunyit dan pewarna makanan. Sebetulnya bakmi ini bisa dibuat dengan berbagai macam varian warna tergantung permintaan dan selera konsumen.

Bakmi Pentil. ( Yosef Prabaswara Tisna Jati )

Penyajian bakmi pentil juga istimewa, mi yang sebelumnya dibumbui bawang putih halus dihidangkan dengan menggunakan daun jati. Memang benar, bakmi yang satu ini tidak kalah dengan bakmi yang lain, rasa gurihnya sangat terasa nikmat apalagi ditambah perpaduan racikan sambal serta terdapat aroma khas dari daun jati yang menjadi bungkusnya.

Dalam sehari Wardani berhasil memproduksi kurang lebih 80 kg yang kemudian di antarkan ke pasar-pasar tradisional di Bantul. Selain itu, ia juga menjual produksi Bakmi Pentilnya kepada pedagang-pedang keliling di daerah rumahnya. Penikmat bakmi pentil sebagian bukan hanya masyarakat bantul tetapi juga luar kota.

“Dalam sehari itu harus habis terjual, kalau tidak bakminya akan basi karena bakmi pentil ini tidak memakai pengawet, berbeda dengan bakmi-bakmi yang lainnya,” ujar Wardani.

Harga Bakmi Pentil juga terbilang murah per-kilo dibanderol dengan harga Rp. 17.000. Sedangkan untuk perbungkusnya bisa dibeli dengan harga mulai Rp.1000 atau bisa juga sesuai keinginan dari konsumen. Untuk dapat menikmati bakmi pentil, bisa diperoleh di daerah Pundong Srihardono, Bantul, serta di berbagai pasar-pasar tradisional di Bantul serta Imogiri.