Reportase September 21, 2019

Bintang Daud di Utara Celebes

Bangunan itu tampak menarik perhatian. Memiliki bentuk segi enam dengan atap genteng berwarna merah yang menutupi seluruh sisi terluarnya. Di halamannya terdapat pagar teralis berornamen Bintang Daud. Persis di atas pintu berkelir biru muda, terpampang sebuah plang yang memuat informasi dalam aksara Latin dan Ibrani. Tulisannya: Shaar Hashamayim Synagogue.

Itu adalah sinagoge berukuran 8 kali 16 meter di Kelurahan Wawalintouan, Kecamatan Tondano Barat, Minahasa, Sulawesi Utara. Ia menjadi pusat peribadatan penganut Yahudi di Sulawesi Utara. Jaraknya sekitar 35 kilometer dari Manado, ibu kota Sulawesi Utara.

Lewat tengah hari, bangunan itu terlihat sepi. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil jenis sport berwarna hitam berhenti di bahu jalan depan sinagoge. Seorang pria berpostur tinggi, mengenakan jas dan topi fedora berwarna hitam keluar dan melangkahkan kaki ke sinagoge. Pria itu dikenal sebagai Rabi Yaakov Baruch, pengelola sinagoge Shaar Hashamayim.

Yaakov Baruch merupakan nama Ibrani. Semula, pria berusia 35 tahun itu punya nama Toar Palilingan Jr.

Ketertarikan Yaakov pada Yahudi, bermula saat dirinya berusia 20-an. Saat itu, ia mulai menelusuri silsilah keluarga dan menemukan garis keturunan Yahudi dari seorang Belanda, Elias van Beugen—kakek buyut dari pihak ibu.

Pada pameran bertajuk Selamat Shabbat, The Unknown History of Jews in the Dutch East Indies yang diselenggarakan Museum Sejarah Yahudi di Amsterdam, van Beugen disebut lahir di Den Haag dari sebuah keluarga Yahudi ortodoks. “Orangtua ayah nenek saya itu tidak menandatangani akte kelahiran karena saat itu hari sabat,” kata Yaakov.

Dalam Yudaisme, sabat merupakan hari istirahat. Sabat dimulai sebelum matahari terbenam pada Jumat sore dan berakhir ketika bulan muncul di Sabtu malam.

Di Hindia Belanda, van Beugen bekerja sebagai anggota angkatan bersenjata pemerintah kolonial. 27 Juni 1935, ia meninggal. Batu nisannya yang beraksara Ibrani dan bersimbol Bintang Daud kini berada di pinggir jalan raya Pineleng, akses utama yang menghubungkan Manado dan Tomohon.

Bintang Daud adalah lambang berbentuk sebuah heksagram, gabungan dua gambar segitiga sama sisi yang sudah sangat lumrah digunakan sebagai tanda jati diri Yahudi.

Sinagoge Shaar Hashamayim di Tondano, Sulawesi Utara.

Yaakov lantas memutuskan menelusuri garis keluarganya serta mempelajari Yudaisme hingga ke Belanda dan Israel.

Ia diberitahu neneknya bahwa ia merupakan keturunan Yahudi ketika ia mulai beranjak dewasa. Orang-orang Yahudi dahulu melarang anak-anaknya untuk memberitahu pada orang lain jika mereka seorang Yahudi untuk alasan keamanan. Di Indonesia belakangan ini beberapa keturunan Yahudi mulai keluar dari balik tirai dan menunjukkan kehadiran mereka di tengah keberagaman Indonesia. “Kami juga banyak yang mulai menceritakan tentang siapa leluhur kami sehingga banyak yang sudah mulai tahu. Di akhir 90-an hingga awal 2000-an sudah mulai banyak yang berani mengklaim sebagai keturunan Yahudi. Ada yang terbukti iya, ada yang buat cari sensasi,” tutur Yaakov.

Proses Yaakov untuk mendalami sejarah latar belakangnya terbilang simpel. Ia melakukan yang dinamakan Teshuvah. “Teshuvah itu istilahnya become religious atau back to the roots. Jadi orang Yahudi yang tadinya sekuler, yang nggak tahu tentang agama, kembali ke identitas aslinya,” jelasnya. Hal itu ia lakukan dan belakangan mulai banyak keturunan Yahudi di Indonesia yang melakukan hal serupa. Yaakov mendalami sejarah keluarganya terlebih dahulu, bagaimana mereka bisa tiba di Indonesia.

Sejak kecil ia tahu bahwa keluarganya adalah keturunan Belanda. Namun keluarganya tidak menunjukkan identitas Yahudi sama sekali. Setelah keluarganya memberitahu dan menunjukkan dokumen dari Belanda tentang status keyahudiaannya, Yaakov pun percaya. “Saya melakukan riset, mencari tahu keberadaan keluarga saya itu dari mana dan ke mana. Sampai akhirnya saya menemukan beberapa informasi ketika saya ada di Belanda dan Israel. Sejak itu saya mulai belajar lebih jauh tentang ajaran Yudaisme”.

Yaakov Baruch adalah satu-satunya rabi di sinagoge Shaar Hashamayim. Dalam prosesnya menjadi rabi, ia belajar di sebuah Yeshiva atau lembaga pendidikan kitab taurat di Yerusalem. Dengan bekal itu, ia mengklaim dapat memimpin ibadah dan mengajar Yudaisme. Tiap kali ke Israel, ia selalu menyempatkan diri ke Yeshiva untuk belajar. Proses itu memakan waktu cukup lama dan rumit. Ia belum sempat menyelesaikannya karena membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menuntaskannya.

Yaakov memang hanya dua bulan belajar di Yeshiva, namun sudah cukup baginya agar terkualifikasi untuk dapat memimpin ibadah Yahudi di sinagoge. “Yang namanya menjadi rabi harus lewat Yeshiva itu. Nggak mungkin mau jadi pastor nggak masuk seminari, kan. Kita harus belajar teori dan sejarah, lalu kita akan memasuki masa spiritual kita sendiri yang membuat kita dapat panggilan. Itu yang buat saya memutuskan untuk jadi rabi,” jelasnya.

Di komunitasnya memang baru Yaakov yang menjadi rabi untuk sementara. Pun begitu di Indonesia, hanya Yaakov seorang. “Kalaupun ada (rabi lain), paling ya rabi tamu tapi WNA. Kalau yang ngaku-ngaku rabi sih banyak ya,” tambahnya.

Plang sinagoge yang beraksara Latin dan Ibrani.

Di Indonesia terkhusus Sulawesi Utara, kata Yaakov, harus dibedakan antara para “penganut Yahudi” dengan “keturunan Yahudi”. Penganut Yahudi bisa saja bukan keturunan Yahudi. Pun, tak sedikit keturunan Yahudi yang memeluk agama lain.

Saat ini, ada 33 kepala keluarga di wilayah Sulawesi Utara yang menjadi jemaat sinagoge Shaar Hashamayim.

Meski demikian, angka persis penganut Yahudi di Sulawesi Utara sulit ditaksir. Provinsi itu memang punya jejak keturunan Yahudi, sehingga besar kemungkinan banyak pemeluk ajaran Yudaisme di sana.

Namun, data kependudukan belum mengakomodir agama ini. Penganut Yahudi di Sulawesi Utara, masih menulis agama Kristen atau Islam di Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Yaakov pun masih menulis Kristen Protestan pada kolom agama di KTP-nya. Ia sendiri sempat mengadakan survei kecil-kecilan dan ia menemukan bahwa hampir tiap agama dicantumkan di KTP mereka karena memang tidak ada pilihan. Mau tidak mau, mereka harus memilih salah satu agama yang diakui pemerintah Indonesia.

“Sampai sekarang kolom agama di KTP tidak bisa dikosongkan. Banyak wacana untuk pengosongan tapi itu tidak benar. Beberapa kali saya coba mengosongkan tidak bisa. Jadi mau gimana lagi, saya tulis aja Kristen,” tutur pria yang berdomisili di Manado itu.

Sejak pemerintah setempat merenovasi sinagoge Shaar Hashamayim, Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama datang berkunjung dan meninjau langsung dengan para penganut Yahudi. Mereka banyak bertukar pikiran soal pengakuan agama di Indonesia.

“Jadi di Indonesia itu salah kalau bilang hanya mengakui enam agama. Yang diakui itu hari rayanya, sementara agama lain diakui keberadaanya, seperti Yahudi,” jelas Yaakov.

Pemerintah memang mengakui keberadaan agama Yahudi atau Yudaisme di Indonesia. Namun, pemeluk agama itu tidak akan mendapatkan pelayanan dari negara, seperti yang diperoleh penganut Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Hal itu ditegaskan di dalam Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.

Beleid yang diteken Presiden Soekarno itu menyebut enam agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia. Konghucu, pada era Orde Baru, sempat dijalankan secara sembunyi-sembunyi oleh para pemeluknya seiring kebijakan anti-Cina.

Pengakuan pemerintah tidak berhenti di situ. Bagian penjelasan pada penetapan presiden itu juga memberikan jaminan hak dan kewajiban serupa bagi penganut agama dan aliran kepercayaan lain.

“Tidak berarti bahwa agama-agama lain, misalnya Yahudi, Zarasustrian, Shinto, Taoisme dilarang di Indonesia. Mereka mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh pasal 29 ayat 2 UUD 1945,” tulis aturan itu.

Yaakov menyebut, perbedaan perlakuan terhadap Yahudi dan enam agama yang diakui lainnya merujuk pada faktor jumlah pengikutnya yang banyak. “Makanya mereka diberikan keistimewaan hari raya dan diberikan subsidi, tempat ibadah, dikasih uang. Yang lain nggak dapat fasilitas itu, sehingga dianggap nggak diakui, padahal sebenarnya diakui. Kita harus luruskan soal itu,” tegasnya.

Manfred Hutter, penulis buku Between Mumbai and Manila: Judaism in Asia since The Founding of the State of Israel, menyebut keturunan Yahudi dan penganut Yudaisme mudah diterima di lingkungan sosial Sulawesi Utara
karena sejumlah faktor.

Komunitas Kristiani yang mengakar di wilayah itu memiliki berbagai denominasi, salah satunya berorientasi pada kepercayaan mesianik. Orientasi denominasi itu, kata Hutter, mirip dengan apa yang diyakini penganut Yudaisme. Selain itu, menurut Hutter, Sulawesi Utara mempunyai sejarah panjang dalam hubungan dagang dengan saudagar asal Israel. “Daerah itu menyediakan tempat yang aman di sebuah negara yang ‘bermusuhan’ dengan Yahudi,” ucapnya.

Di perbukitan Gunung Klabat, Airmadidi, Minahasa Utara, pemerintah kabupaten setempat mendirikan kaki dian (menorah) raksasa setinggi 19 meter. Kaki dian merupakan simbol penting Yudaisme. Meskipun pemerintah setempat membangun monumen yang berdiri sejak 2009 itu sebagai titik turisme, kaki dian itu tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan beragama di Sulawesi Utara.

Di perbukitan Gunung Klabat, Airmadidi, Minahasa Utara, pemerintah kabupaten setempat mendirikan kaki dian (menorah) setinggi 19 meter. Kaki dian merupakan simbol penting dalam Yudaisme.

Pada masa silam, sempat ada sinagoge yang berdiri di Manado. Lokasinya ada di wilayah yang kini dikenal sebagai area wisata kuliner, Jalan Wakeke. Namun, saat pendudukan Jepang, rabi di sinagoge itu dibunuh dan aktivitas keagamaan akhirnya berhenti.

Pada 2004, komunitas Yahudi di Sulawesi Utara mulai merintis pembangunan Shaar Hashamayim Synagogue. Mulanya, sinagoge itu sekadar rumah dua lantai milik Leo Van Beugen, yang tak lain adalah paman Yaakov Baruch. Lantaran punya nuansa arsitektur Yahudi, bangunan itu disulap jadi sinagoge pada medio 2004. Pembangunannya didanai J. P. Van Der Stoop, seorang Yahudi asal Belanda, yang memberikan donasi kepada Yaakov.

Pemerintah Kabupaten Minahasa—masa kepemimpinan Steven Vreeke Runtu—juga memberi izin ibadah. Belakangan, lokasi ini mulai jadi salah satu situs pariwisata di Sulawesi Utara.

Pada awalnya tidak ada yang tahu bahwa bangunan itu adalah sebuah sinagoge. Hingga akhirnya tamu-tamu penting dari kedutaan dan konsulat jenderal yang datang membuat masyarakat mulai terbuka dengan tempat tersebut. Awalnya masyarakat sekitar mengira bangunan tersebut adalah sebuah kantor yayasan. “Bukannya kami ingin menyembunyikan, tapi kami tidak mau mencari sensasi. Kami bergerak yang penting ada badan hukum, kami tidak mau jadi masalah,” papar Yaakov.

April 2017 lalu, secara mengejutkan, Deputi Luar Negeri Amerika Serikat, Anthony John Blinken, merayakan paskah yang diselenggarakan komunitas penganut Yudaisme di Jakarta.

Blinken kala itu tengah melakukan perjalanan dinas di Indonesia. Sebelum hadir di pusat perayaan paskah Yahudi di Jakarta Barat, Blinken bertemu dengan pejabat tinggi Indonesia seperti Luhut Binsar Pandjaitan yang ketika itu menjabat Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan. “Perayaan paskah Yahudi di negara yang mayoritas warganya beragama Islam sangat langka. Semuanya bersatu dalam toleransi,” ucap Blinken.

Berita Blinken dan paskah Yahudi beredar luas. Namun jangkauannya tetap tidak masif. Komunitas Yahudi di Indonesia masih hidup dalam bayang-bayang.

Dengan adanya tamu-tamu dan pejabat negara penting yang berkunjung ke sinagoge, masyarakat menjadi tahu dan mencoba untuk mencari tahu.

Dalam prosesnya, banyak yang sempat mengaggap bangunan itu adalah tempat yang negatif. “Kebetulan masyarakat sekitar mayoritas Kristen. Jadi waktu mereka bilang ini tempat ibadah sesat, saya bilang ‘di dalam Alkitab kalian, Yesus pergi ke sinagoge pada hari sabat. Dengan mengatakan tempat ini sesat berarti kalian menghina kitab suci kalian sendiri’. Akhirnya dengan pola pikir seperti ini mereka jadi terbuka dan tertantang karena mungkin di mindset mereka Yesus pergi ke gereja waktu itu,” terang Yaakov.

Hal itulah yang akhirnya membuat banyak mahasiswa dari seminari Katolik, sekolah tinggi teologi, bahkan sekolah tinggi agama Islam yang datang berkunjung untuk belajar dan mencari informasi tentang ajaran Yahudi.

Itu menjadi hal positif bagi masyarakat yang ingin mencari tahu mengenai agama Yahudi. “Karena selama ini agama Yahudi itu kalau di internet jadi korban fitnah nomor satu sepanjang sejarah. Karena nggak ada akses untuk mencari tahu, orang akan terima bulat-bulat segala yang jelek tentang Yahudi. Saya nggak menyalahkan mereka karena mereka memang belum pernah lihat orang Yahudi,” Yaakov menambahkan.

Menjadi minoritas, ujar Yaakov, bukan perkara mudah. Pada mulanya, banyak masyarakat sekitar sinagoge yang bertanya-tanya tentang agama Yahudi. Perlahan, lewat komunikasi, warga mulai mengerti perihal Yahudi dan bisa berdampingan dengan sinagoge.

Tilda Roring, yang rumahnya berhadapan dengan sinagoge, mengaku tak keberatan dengan aktivitas penganut Yahudi di lingkungannya. Menurut Tilda, rabi dan beberapa jemaatnya kerap singgah di rumahnya untuk silaturahmi. “Saya turut menjaga rumah ibadah itu. Kalau ada anak-anak memanjat pagar dan main bola di halaman sinagoge, saya suruh keluar.”

Sinagoge Shaar Hashamayim sempat mengalami gangguan seperti vandalisme pencoretan pada dinding dan pencurian artefak. “Coretannya belum saya hapus, itu masih ada di luar. Saya sengaja nggak mau hapus supaya jadi bukti aja gitu kalau ada orang gila yang kurang kerjaan,” jelas Yaakov.

Yaakov pun mengungkapkan bagaimana ia diintimidasi di sebuah mal yang ramai di Jakarta, saat ia sedang berjalan bersama istrinya yang sedang hamil. “Dari beberapa lantai, mereka meneriaki saya ‘Crazy Jew’,” katanya dan menambahkan, ada sekelompok pria lalu berlari mendatanginya dan meminta dia melepaskan kippahnya (penutup kepala Yahudi). “Mereka berkata kepada saya, ‘Kami tidak ingin Anda menggunakan kippah di negara ini. Jika Anda terus menggunakannya, kami akan membunuh Anda’.”

Yaakov menganggap bahwa oknum-oknum yang intimidatif seperti itu tidak mewakili agama yang mereka tunjukkan. Ia tetap menghargai orang-orang dari agama yang tertuduh sebagai anti-Yahudi. “Saya tahu mereka ini hanya korban mainstream media yang membuat propaganda anti-Israel, anti-Yahudi. Kalau mereka benar-benar melakukan ajaran agamanya, nggak akan seperti itu. Semua agama kan membawa kedamaian”.

Menurutnya, kebanyakan masyarakat melihat Yahudi dari dua sisi. Yang pertama, masa pra kemerdekaan bahwa Yahudi itu penjajah karena kedatangannya bersamaan dengan orang-orang Belanda yang memang ada yang Yahudi maupun yang bukan.

Yang kedua, era pasca kemerdekaan ketika terjadi perang antara Israel dengan negara-negara Arab. “Jadi memang stigma Yahudi tidak pernah postitf di negara ini, selalu negatif karena dua hal itu tadi,” ucapnya. Yaakov tidak pernah menyalahkan masyarakat Indonesia yang anti Yahudi. Ia hanya mencoba sejauh yang ia bisa untuk meluruskan beberapa informasi yang keliru tentang Yahudi.

Rabi Yaakov Baruch sedang menunaikan ibadah pagi atau schacharit.

Kehadiran orang Yahudi ke Indonesia memiliki sejarah panjang dan mereka datang dalam tiga gelombang menurut Romi Zarman, peneliti sejarah Yahudi di Indonesia dan penulis buku Di Bawah Kuasa Antisemitisme.

Pada awal abad 10, Ishaaq Yehuda seorang Yahudi Oman berdagang di Sumatra dan tewas dirampok di wilayah kerajaan Sriwijaya. Tiga abad kemudian, lewat dokumen Geniza, diketahui bahwa seorang Yahudi Mesir berlabuh dan berdagang di Barus, Pesisir Barat Sumatra.

“Kehadiran orang Yahudi di negeri ini pertama-tama tampak didorong motivasi ekonomi berdagang, namun pada abad ke-16, dalam era Portugis, kehadiran Yahudi juga dilengkapi aspek lain di mana Politik Inkuisisi di Spanyol telah membuat Yahudi terusir,” jelas Romi.

Kelompok ini, menurut Romi, bermigrasi di antaranya ke Asia. Kelompok ini ditemukan berdiam di Malaka. Gelombang kedua kedatangan orang Yahudi ke Indonesia terjadi pada 1602 sampai masa kolonial Belanda pada 1819.

Menurut Romi, sebagian besar mereka merupakan Yahudi Sephardic, yang memiliki kemampuan berbahasa Arab dan menjadi penerjemah bagi perusahaan dagang Vereenigde Oost-Indsich Compagnie (VOC) dan British East India Company (EIC), terutama di Aceh dan Banten.

“Sementara, Yahudi Ashkenazi (Eropa Timur) kebanyakan bekerja sebagai administrator dan ada yang tergabung dalam barisan serdadu VOC, adapun Yahudi Mizrahi (Timur Tengah) giat dalam bisnis dan menjalin kerjasama dengan siapa saja,” kata Romi.

Orang Yahudi yang datang ke Indonesia bukan hanya penganut Yudaisme, namun juga terdiri dari Yahudi Arab beragama Islam yang bermigrasi bersama-sama dengan rombongan Arab.

Dalam penelitiannya, Romi bertemu dengan salah seorang keturunan Yahudi Arab dan menemukan mereka berkontribusi dalam penyebaran agama Islam di Nusantara.

Dalam catatan Romi, pada awal 1920-an, orang-orang Yahudi ini antara lain tersebar di Kutaraja, Padang, Medan, Deli, Batavia, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya. Catatan awal tentang keberadaan komunitas Yahudi di Indonesia itu terbukti dengan penemuan sejumlah batu nisan yang memuat lambang Bintang Daud dan aksara Ibrani. Di Banda Aceh, seperti ditulis Teuku Cut Mahmud Aziz dalam penelitian berjudul Tracing Jewish History in Kuta Radja, lambang-lambang itu ditemukan di kompleks pemakaman Kerkoff.

Simbol-simbol khas Yahudi itu juga terdapat pada sejumlah nisan di pemakaman Kembang Kuning, Surabaya, Jawa Timur. Dua nisan bersimbol Bintang Daud dan beraksara Ibrani juga ditemukan di Pineleng, Kabupaten Minahasa dan Matungkas, Kabupaten Minahasa Utara. Dua daerah itu berada di Sulawesi Utara.

Sinagoge Shaar Hashamayim tampak dari dalam.

Rotem Kowner, seorang profesor di Departemen Studi Asia pada Universitas Haifa, Israel, mengidentifikasi latar belakang orang Yahudi mula-mula di Hindia Belanda. Menurut Kowner, komunitas Yahudi di Hindia Belanda beranggotakan para pegawai pemerintah kolonial dan saudagar.

Kelompok masyarakat Yahudi itu menjalankan tradisi Sephardic yang berasal dari kawasan Timur Tengah. Kelompok ini disebut berakar Baghdadi dan mayoritas dari mereka tinggal di Surabaya.

Sebagian dari anggota komunitas Yahudi yang lain berstatus sebagai imigran yang melestarikan tradisi Askhenazi. Kebanyakan dari mereka lari dari penindasan Nazi di Jerman, Austria dan negara Eropa Timur lain. Mereka berhasil mencapai Hindia Belanda atas bantuan sanak saudara yang telah lebih dulu tiba.

Menurut Fuad Mahbub Siraj, Ketua Program Studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, ketidaktahuan sejarah yang dialami sebagian masyarakat Indonesia mempengaruhi eksistensi keturunan Yahudi dan penganut Yudaisme di Indonesia pada era kekinian. Menurutnya, komunitas itu berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.

Dengan situasi dan kondisi seperti itu, mereka berjalan secara di bawah tanah atau senyap. “Mereka jadi enggan mengekspos diri. Ada ketakutan terkait keselamatan mereka,” ucap Fuad.

Mengutip pernyataan Ibnu Burdah dalam tulisan berjudul Indonesian Muslims’ Perceptions of Jew and Israel, Manfred Hutter menyebut fenomena yang terjadi di Indonesia adalah ‘anti-semit tanpa Yahudi’. Ia menilai, masyarakat Indonesia garis keras menjadikan Yahudi sebagai simbol negatif atas sekularisme, globalisasi dan modernitas pada umumnya. “Karena mereka tidak pernah berkomunikasi dengan keturunan Yahudi, stigma negatif itu tumbuh subur,” kata Hutter.

“Saya hidup di negara yang konsep Yahudi dipandang secara negatif, dicurigai dan dibenci. Saya harus menjelaskan ke orang-orang di lingkungan pergaulan saya, bahwa Yahudi tidak seperti yang ditulis media ekstrem,” jelas Yaakov Baruch.

Yaakov juga memberi penekanan soal perbedaan Yudaisme dan Zionis. “Penganut Yahudi (atau Yudaisme) dan Zionisme kerap kali disamakan. Padahal keduanya berbeda,” kata dia. Menurutnya, Yahudi sering diartikan sebagai ras dan sebagai agama. Sebagai agama, selain kata Yahudi bisa pula menggunakan kata “Yudaisme”. Catatan lain, sebagai ras, tidak sedikit orang Yahudi yang memeluk agama lain macam Islam atau Kristen.

Sedangkan zionisme, dalam kacamata Yaakov, adalah kata yang kontroversial. Pada mulanya adalah kata “sion” yang merujuk pada sebuah bukit di Yerusalem. Namun, zionisme berubah jadi identitas politik dengan tujuan menciptakan tanah air Yahudi di wilayah yang kini dikenal sebagai Israel.

Perlu dicatat, ada pula tarik ulur dalam wacana negara Israel itu. Ada yang ingin tanah Israel jadi sekuler. Di sisi lain, kelompok konservatif menginginkan keluhuran Yahudi.

Menurut Fuad Mahbub Siraj, persoalan muncul ketika Yahudi diidentikkan dengan negara Israel dan zionisme. Padahal, kata dia, Yahudi tidak berkaitan dengan zionisme yang disebutnya sebagai gerakan politik. “Yahudi itu sebetulnya tidak ada hubungan dengan zionisme. Itu kan gerakan yang berkaitan dengan invasi Israel sebagai negara terhadap Palestina,” kata dia.

Fuad menyebut zionisme sudah ada sejak Indonesia berada di bawah koloni Belanda. Ideologi itu, kata dia, tidak serta merta diterima oleh imigran berlatar belakang Yahudi yang menetap di Hindia Belanda.

Pernyataan tersebut serupa dengan apa yang dipaparkan Jeffery Hadler, peneliti Studi Asia Tenggara dari Universitas Berkeley, Amerika Serikat. Pada penelitiannya yang berjudul Translations of Antisemitsm: Jews, The Chinese and Violence in Colonial and Post-Colonial Indonesia, Hadler menyebut organisasi zionis yang didirikan di Hindia Belanda tidak mendapatkan sambutan hangat dari komunitas Yahudi.

Hadler mengutip kata sambutan pada perayaan pendirian Association for Jewish Interest in the Netherlands Indies di Batavia, Juli 1927. Dokumen itu ditemukannya di Arsip Nasional Indonesia.

“Dua belas tahun lalu di Batavia, sebuah asosiasi Yahudi didirikan. Keberadaannya sangat singkat. Beberapa tahun kemudian, organisasi zionis coba didirikan di Batavia. Lembaga itu memang berhasil dibentuk, tapi eksistensinya bahkan lebih singkat,” tulis dokumen itu.

Januari 2009, 21 organisasi masyarakat keagamaan menyerang sinagoge Beth Shalom di Surabaya. Aksi itu dipicu protes mereka atas serangan Israel ke Palestina.

Satu kutipan dari rilis Wahid Institute bisa membantu memahami konteks salah kaprah soal Yahudi dan zionis yang kerap terjadi di Indonesia.

“Mereka (orang-orang yang salah kaprah) tidak bisa membedakan tentara Israel yang menyerang Palestina dan pemeluk agama Yahudi. Dalam demonstrasi itu terlihat sentimen anti-Yahudi daripada komitmen atas HAM.” tulis lembaga yang berfokus pada isu-isu multikultural dan toleransi itu.