Foto Cerita September 21, 2019

Kartu Pos dari Seberang Istana

Puluhan hingga ratusan orang memadati sudut barat Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat. Panasnya terik matahari tak membuat semangat massa yang berkumpul di depan Istana Merdeka memudar. Kamis sore itu, 17 Mei 2018, ratusan pegiat hak asasi manusia (HAM) dan simpatisan menggelar Aksi Kamisan yang ke-538. Mereka tetap berdiri menjalankan Aksi Kamisan demi menanti adanya keadilan HAM di Indonesia.

Seperti Kamis-kamis lainnya, Maria Katarina Sumarsih kembali melangkahkan kaki ke depan Istana Merdeka. Seperti biasa pula, pakaian serba hitam ia kenakan. Tak lupa, sebuah payung hitam ia tenteng. Sumarsih adalah salah satu pejuang HAM yang setia sejak Aksi Kamisan pertama kali digelar pada 2007 silam.

Ia rutin saban Kamis berdiri mengenakan pakaian serba hitam di depan Istana Merdeka, menanti sikap Presiden RI yang sejak 1998 telah berganti-ganti, mencari keadilan bagi almarhum Benardinus Realino “Wawan” Norma Irmawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya Jakarta yang tewas dalam peristiwa Semanggi I pada 1998 silam.

Ketika itu, Wawan merupakan bagian dari jutaan mahasiswa yang turun ke jalan menuntut pergantian rezim. Wawan menjadi korban tewas dalam aksi demonstrasi dan kerusuhan besar pada 11-13 November 1998 yang dikenal dengan sebutan Tragedi Semanggi I. Wawan menyusul empat rekan mahasiswa yang telah lebih dahulu gugur dalam Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998.

Meskipun namanya masuk dalam jajaran pahlawan reformasi, pembunuh Wawan tidak pernah diadili. Pada akhir 2006, para orang tua korban Tragedi Semanggi I, Tragedi Semanggi II dan Tragedi Trisakti kemudian menyepakati menggelar aksi diam di depan Istana Merdeka sebagai bentuk protes. Pada 18 Januari 2007, Kamisan pertama digelar. Payung hitam menjadi simbol Kamisan.

Aksi Kamisan kini sudah meluas. Bukan hanya di Ibu Kota saja, aksi Kamisan juga digelar di berbagai kota besar lainnya di Indonesia. Khusus di Jakarta, kini anak-anak muda pun ikut terlibat menggantikan peran para orang tua korban yang telah meninggal dunia dan telah lelah memperjuangkan keadilan bagi putra-putri mereka.

“Saya bangga. Sejak dari generasi ke generasi ada Kamisan dan ada regenerasi. Anak-anak muda ikut terlibat, bikin skripsi, tesis bahkan disertasi tentang Kamisan. Artinya ini terdokumentasi dengan baik. Dan mereka juga ikut. Tidak seperti di pemerintahan yang pejabat strategisnya masih itu-itu saja,” cetus Sumarsih.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Kamisan kali itu memang dipenuhi anak muda. Hanya sedikit terlihat peserta aksi yang sudah berusia lanjut. Selain para aktivis dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat seperti KontraS, LBH Jakarta dan Amnesti Internasional Indonesia, sejumlah mahasiswa juga tampak di jajaran peserta aksi.

Kini, sudah 11 tahun Sumarsih berdiri di depan Istana setiap Kamis. Sumarsih mengatakan, ‘hilal’ keadilan bagi Wawan dan rekan-rekan mahasiswa lainnya yang gugur ketika membuka jalan bagi era reformasi belum juga terlihat.

Sumarsih berharap agar Presiden Joko Widodo segera menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Menurutnya, seluruh keluarga korban pelanggaran HAM tidak akan pernah melupakan kejahatan yang melanggar hak asasi manusia seperti Tragedi Semanggi 1 dan 2 hingga Tragedi Trisakti. “Kami berjuang melawan lupa dan berjuang melawan impunitas, agar hukum di negara kita tidak melindungi penjahat,” tegas Sumarsih.