Resensi Buku September 2, 2019

Memberi Suara Pada yang Bisu

Indonesia pada masa lampau adalah Indonesia yang tak banyak dipikirkan orang-orang zaman sekarang. Itulah yang ditulis mendiang Benedict Anderson dalam pen­gantar buku ini. Ketika pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1962, ilmuwan asal Irlandia itu sering melihat fenomena homoseksualitas di mana sesama lelaki berjalan sambil bergandengan tangan satu sama lain, seorang bapak muda menyusui anaknya, dan seorang lelaki dewasa me­mainkan alat kelamin seorang anak lelaki. Menurut Ander­son, fenomena seperti itu “mustahil” ditemukan di Ameri­ka Serikat dan Eropa pada waktu itu.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa homoseksu­alitas sudah hadir sejak lama di Indonesia. Fenomena tersebut dapat ditemukan pada berbagai macam bu­daya yang tersebar di seluruh Nusantara: mulai dari Aceh, Minangkabau, Jawa, Madura, Bali, Sulawesi, sam­pai Papua. Berdasarkan laporan seorang sarjana ahli Aceh asal Belanda, Snouck Hurgronye, laki-laki Aceh sangat menggemari budak laki-laki dari Nias. Pada budaya Minangkabau, ada hubungan antara laki-laki yang lebih tua dengan remaja laki-laki. Pada lingkungan pesantren di Jawa, terdapat hubungan kasih sayang semacam ka­kak-adik antar-santri yang biasanya disertai persetubuhan. Hal inilah yang menurut orang-orang kolonial Belanda pada waktu itu merupakan sesuatu yang kolot dan menjijikkan.

Kini memasuki abad ke-20, kondisi seakan berba­lik. Homoseksualitas menjadi hal yang tabu di Indonesia, sementara di Belanda, pernikahan sesama jenis dilegalkan. Ironisnya, beberapa orang masih mengatakan bahwa homo­seksualitas adalah warisan budaya barat yang “bukan asli” Indonesia. Pemberitaan di media massa pun banyak yang tak memihak para homoseks terutama kaum gay dan lesbi­an. Media massa, walau tidak semua, dewasa ini menggam­barkan homoseksual sebagai suatu kelainan jiwa yang harus “disembuhkan”. Hal ini tentu berdampak pada kehidupan sosial kaum homoseksual yang semakin mendapat stigma negatif dari masyarakat.

Dede Oetomo, yang juga seorang gay, menuang­kan gagasan-gagasan mengenai kehidupan kaum homosek­sual di Indonesial dalam buku ini. Buku yang terdiri dari enam bagian ini berisi kumpulan tulisan Oetomo yang pernah dimuat di beberapa media cetak. Namun di luar gagasan-gagasan itu, Oetomo mengawali buku ini dengan riwayat hidup tentang masa kecilnya yang pilu saat ia mu­lai menyadari orientasi seksualnya di tengah prasangka an­ti-homoseksualitas masyarakat yang, menurut Anderson, dipengaruhi kebudayaan borjuis Barat.

Pada bagian pertama buku ini, Oetomo memapar­kan bagaimana homoseksualitas dapat ditemui pada banyak kebudayaan di Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk setidaknya membuktikan bahwa fenomena itu ter­jadi pada seluruh suku bangsa besar di Indonesia sejak dahulu kala. Jadi, hal itu bukanlah sesuatu yang dibawa oleh penjajah Belanda apalagi kebudayaan barat. Namun sayangnya Oetomo tidak menjelaskan fenomena itu secara lebih detail karena keterbatasan penjelasan dari referensi yang ada. Sehingga informasi mengenai sejarah homosek­sualitas di Indonesia dirasa belum memuaskan.

Beranjak ke bagian kedua, Oetomo mempersoalkan pendapat masyarakat luas di mana homoseksual dianggap sebagai kelainan atau penyakit jiwa. Pada bagian ini, Oeto­mo berpendapat bahwa homoseksual terjadi secara ala­miah. Oetomo bahkan memberi contoh eksperimen yang dilakukan pada sebuah taman ria di Amerika Serikat. Di taman itu, dua ekor lumba-lumba jantan yang kelihatan akrab dipisahkan selama beberapa waktu. Setelah diper­temukan kembali, mereka langsung bercumbu selama ber­jam-jam tanpa mempedulikan sang pelatih. Pada bagian ini pula Oetomo memberikan beberapa contoh kasus bagaima­na seorang yang homoseks bisa “jatuh cinta” dengan seseorang yang dikisahkan seperti kisah romantis pada umumnya. Kisah cinta tersebut, yang tentunya jauh dari kesan indikasi adanya penyakit jiwa, seolah menjadi pen­jelasan gamblang Oetomo bahwa homoseksual bisa terjadi pada siapa saja tanpa pandang status dan latar belakang.

Di bagian ketiga, tulisan lebih membahas tentang perjuangan politik kaum homoseksual di tengah rezim Orde Baru. Salah satu isu yang diperjuangkan oleh kaum homo­seksual waktu itu adalah penerimaan di tengah masyarakat. Nyatanya hal itu sulit dilakukan. Ini dikarenakan ideologi dominan negara amat terganggu dengan representasi reali­tas yang mengarah pada hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat kebanyakan, di antaranya homosek­sual. Namun bukannya memadamkan api semangat per­juangan, organisasi kaum homoseksual justru makin banyak bermunculan pada tahun 1992. Selain itu perjuangan kaum homoseksual mendapat dukungan politis dari Partai Rakyat Demokratik (PRD). Hal inilah yang, menurut Oetomo, ha­rus dimanfaatkan para kaum homoseksual dalam mengubah pandangan masyarakat walaupun sebenarnya banyak dari mereka yang belum terdorong untuk berpolitik.

Pada bagian keempat, Oetomo berusaha memu­tarbalikkan berbagai mitos seputar HIV/AIDS yang pada awal 1980-an sering dihubungkan dengan kaum homosek­sual. Pemikiran bahwa virus HIV disebarkan oleh kelom­pok homoseksual, khususnya gay, tentu merupakan sebuah kekeliruan. Menurut Oetomo, resiko tertular virus HIV lebih disebabkan karena perilaku seseorang, bukan kare­na kelompoknya. Pada bagian ini, Oetomo menekankan hubungan seks sebagai perilaku yang berpotensi menu­larkan virus HIV. Sehingga penularan virus tersebut bisa terkena pada siapa saja, baik homoseks maupun hetero­seks, khususnya yang berhubungan seks secara intens.

Tulisan-tulisan Oetomo di bagian kelima berangkat dari keprihatinannya terhadap kehidupan kaum homosek­sual di Indonesia pada waktu itu. Tulisan-tulisannya pada bagian ini banyak ditujukan kepada kaum homoseksual. Oetomo banyak memberikan nasihat kepada mereka agar terbuka kepada lingkungan dan menghindari hidup dalam kepura-puraan Oetomo mengajak pula kepada mereka un­tuk melawan stigma buruk masyarakat mengenai kehidupan homoseksual. Dalam hal ini Oetomo banyak merujuk pada pergerakan emansipasi di Barat. Selain itu Oetomo mengkri­tik lembaga keluarga yang sering tidak menerima bila ada anggotanya yang homoseks. Hal ini, menurut Oetomo, jus­tru malah membuat anggotanya yang homoseks itu men­galami tekanan psikologis yang terkadang berujung pada tindakan nekat seperti bunuh diri.

Pada bagian terakhir, Oetomo menjelaskan kon­gres-kongres yang pernah diadakan kaum homoseksual, salah satunya adalah Kongres Lesbian Gay Indonesia (KLGI). KLGI pertama kali diselenggarakan pada 10-12 Desember 1993 di Yogyakarta. Tujuan dari kongres ini adalah untuk menyatukan banyaknya kelompok gay/lesbian yang berdiri terpisah. Dari kongres ini, diharapkan kelompok-kelompok itu berjuang bersama dalam mengajak masyarakat agar dapat hidup berdampingan dengan mereka. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 29-31 Desember 1995, diseleng­garakan KLGI kedua. Pembahasan pada kongres ini lebih menekankan pentingnya pemberdayaan kaum homoseksu­al khususnya para gay dan lesbian di tengah meningkatnya homophobia pemerintah.

Dari enam bagian yang sudah ditulisnya, Oetomo ingin pembaca dari kalangan kaum homoseksual sadar atas cita-cita pembebasan mereka, dan berharap jumlah aktivis lama-lama akan bertambah besar. Namun pembaca lain sebenarnya juga diajak untuk ikut memikirkan dan membicarakan masalah homoseksualitas di Indonesia, yang selama ini jarang diuraikan secara simpatik, jujur, dan ma­nusiawi. Terlepas dari penulisnya yang berada di sisi kaum homoseksual, namun Oetomo mengakui bahwa kumpulan tulisannya ini bukanlah rujukan yang final, namun tawaran gagasan yang masih harus diperdebatkan.


Judul buku : Memberi Suara Pada Yang Bisu
Penulis : Dede Oetomo
Penerbit : Galang Press
Tahun terbit : 2001
Halaman : xi + 332