Reportase September 21, 2019

Menapak Jejak Tradisi Budaya Kejawen

Hari itu matahari belum bersinar terlalu terik saat kami mengunjungi salah satu kios penjual bunga yang terletak di daerah Wirobrajan, tepatnya di jalan R.E. Martadinata, Yogyakarta. Kios itu berukuran tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil, cukup untuk memuat dagangan mereka dan beberapa karyawannya. Keranjang-keranjang berisi bunga mawar merah-putih berjajar rapi di depan kios. Seorang wanita berkacamata yang sedang meronce bunga melati tersenyum saat kami menyapa.

“Tunggu sebentar ya, duduk dulu sini,” kata sang istri pemilik warung itu.

Kami pun duduk pada bangku yang memang disediakan untuk pelanggan ketika menunggu pesanan. Tak selang beberapa lama, seorang pria keluar dari dalam kios dan menyapa kami dengan senyum lebar. Dia adalah Bambang Siswanto, pemilik Warung Makan Roh Halus, yang dikenal menjual bunga untuk keperluan ziarah atau kegiatan spiritual tertentu.

Sudah 7 tahun lamanya Bambang menjalankan bisnis berjualan bunga yang merupakan peninggalan ibunya sejak tahun 1980an. Semenjak ibunya mulai sakit, Bambang bersama sang istri, Tri Wuryanti (48), mulai mengelola toko kembang itu, bahkan beberapa saudaranya ikut berjualan. Namun pada akhirnya, muncul salah paham di kalangan pembeli yang mengira bahwa setiap penjual bunga di situ adalah anak ibunya. Saat itulah muncul ide untuk memberi nama pada toko bunga mereka.

“Jadi saya punya ide gimana caranya orang tanpa ingat muka tapi ingat terus, jadi saya kasih nama itu, nggak keliru lagi,” ujar Bambang, panggilan akrabnya.

Bambang juga memberikan kartu nama pada pembelinya agar Warung Makan Roh Halus semakin dikenal dan tidak keliru lagi. Wajah ibunya sempat dipasang pada kartu nama, namun akhirnya tidak jadi karena tidak banyak yang kenal.

“Mungkin pertama memang asing, terus jadi ingat sampai viral kan sekarang. Anak kecil jadi ingat, nanti kalau mau beli bunga, di Warung Makanan Roh Halus ya,” kisah Bambang sambil terkikik.

Pada mulanya, sang ibu hanya menjual berbagai jenis bunga, seperti bunga mawar, melati, kenanga, dan bunga kantil. Karena kebutuhan pembeli semakin banyak, maka mereka pun kini juga ikut menjual minyak wewangian, dupa, dan syarat keperluan ritual lain, hingga bahkan jamu godhog.

Warung Makan Roh Halus milik Bambang ini sebenarnya telah menjual bunga-bunga tersebut dalam paket komplit Kembang Setaman, yang terdiri dari bunga mawar, melati, kenanga, kantil, dan kembang telon. Ada pula yang dirangkai dalam bentuk keranjang berukuran kecil hingga besar. Bunga-bunga tersebut didatangkan dari daerah Klaten, Boyolali, dan Pakis,

“Kalau dari Pakis itu bunganya besar-besar, tapi kalau dari arah Boyolali sampai Klaten itu agak kecil-kecil,” sambung pria berpotongan cepak itu.

Bunga-bunga yang telah dirangkai dalam bentuk keranjang maupun dalam paket komplit, dijual dengan kisaran harga Rp15 ribu hingga Rp40 ribu rupiah. Bambang menambahkan, harga tersebut juga dapat berubah, tergantung pada hari. Contohnya, harga bunga pada hari Selasa lebih mahal, karena memang terdapat pantangan tertentu dari petani pemetik bunga. Di samping itu, Warung Makan Roh Halus juga dapat menerima pesanan dari pembeli.

“Pembeli juga dapat pesan sendiri, misalnya nggak pakai kantil,” cerita Bambang.

Warung yang buka dari jam 5 pagi hingga jam 12 malam itu, juga biasa ramai dikunjungi pada hari-hari besar, seperti pada hari tradisi ziarah tahunan budaya Cina (Ceng Beng), hari raya Idul Fitri, Jumat Kliwon, Selasa Kliwon, adapula saat menjelang pilpres. Omset yang diperoleh pada hari-hari besar tersebut dapat mencapai 1 juta hingga 2 juta rupiah.

“Kalo per hari bisa 500 ribu sampai 700 ribu. Hari-hari besar bisa 1 juta, Jumat Kliwon juga bisa 2 juta,” terangnya sambil meminum segelas jamu kencur.

Pria berusia 53 tahun ini juga mengatakan, bunga-bunga yang biasa ia jual dari pagi hingga malam hari selalu ia ganti. Hal tersebut dilakukan agar bunga-bunga yang dipajang dapat selalu segar dan siap untuk dibawa oleh pembeli.

“Kalau tempat saya kan pagi ganti, siang ganti, sore juga ganti bunganya, jadi orang enak gitu waktu beli,” katanya sambil tersenyum ramah.

Pelanggan yang sering membeli bunga di Warung Makanan Roh Halus biasanya sebagian besar berasal dari kalangan orang-orang Jawa, seperti orang-orang Keraton atau abdi dalem, yang memang banyak melakukan kegiatan ziarah atau kegiatan spiritual. Adapula warga negara asing yang ingin mempelajari budaya kejawen.

“Banyak juga orang Jawa, orang indonesia yang masih nyekar. Ada juga kemaren orang-orang luar yang mau belajar budaya kejawen, juga ikut,” kisah Bambang.

Sebagai seorang penjual bunga yang masih memegang dan melestarikan penuh kebudayaan kejawen, Bambang meyakini jika ritual tersebut merupakan salah satu cara untuk merawat dan mendekatkan diri pada alam agar lebih peka. Bagi Bambang, orang Jawa penuh dengan filosofi untuk mengingatkan secara halus, misalnya ritual nyekar.

Nyekar adalah cara untuk menghormati orang yang sudah meninggal atau istilahnya memberi makan, bukannya berdoa atau meminta sesuatu, karena berdoa hanya kepada Tuhan. 

“Sekarang banyak yang salah kaprah, apalagi kalau kita kaitkan dengan Tuhan, bisa jadi sensitif. Padahal kita udah punya budaya,” imbuhnya.

Pria bermata sayu tersebut juga mengatakan, masih banyak masyarakat yang menganggap nyekar merupakan kegiatan musrik, haram, atau bertentangan dengan ajaran agama.

 “Kemarin-kemarin kan banyak papan-papan tulisan musrik, haram. Itu kan secara tidak langsung mengadu domba,” lanjutnya.

Padahal menurut Bambang, tradisi kegiatan nyekar hanya merupakan tanda simbolis bagi orang yang telah meninggal, bagian dari kebudayaan yang muncul dalam masyarakat Jawa, dan bukanlah suatu bentuk kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Tuhan.

“Orang-orang Jawa itu kan udah punya kepercayaannya sendiri, bukan karena menyembah berhala, tapi budaya yang sudah ada dipelihara,” tegas Bambang serius.

Bambang menambahkan, tradisi nyekar memang merupakan bagian dari kebudayaan Jawa yang sudah ada sejak dahulu dan saat ini sudah perlahan mulai bergeser, namun belum benar-benar menghilang. Menurut Bambang, hal itu harus tetap dijaga agar keutuhan dengan alam tetap ada dikarenakan nasib manusia berkaitan erat dengan alam.

“Nasib kita kan erat sama alam, jadi semua serba alam. Nah, sekarang kenapa kok sering ada bencana alam, karena manusia udah lupa sama alamnya,” tegasya.

Pria yang telah terbiasa melihat hal-hal gaib sejak kecil ini percaya, bahwa dengan menjaga dan melestarikan tradisi kegiatan nyekar sebagai bagian dari budaya Jawa, sama halnya dengan menjaga warisan nenek moyang atau warisan budaya Indonesia. Hal tersebut juga berlaku untuk tradisi atau budaya pada agama-agama lainnya. 

“Hal-hal seperti itu kan sebenernya secara nggak sadar udah membangkitkan lagi budaya kita,” ucapnya.

Dalam melakukan tradisi nyekar atau ritual lainnya, sarana yang diperlukan berbeda-beda, tergantung pada kebutuhan dan syarat khusus pada masing-masing kegiatan. Setiap jenis bunga yang digunakan tidak memiliki makna khusus tertentu, karena memang terbuat untuk rangkaian ritual yang membangun makna utama.