Reportase September 17, 2019

Menapaki Jalan Lengang Sinema Dokumenter

‘Oi bencong, sini beli tempe’, ‘Dasar orang aneh!’, ‘Enggak berguna, dipotong saja pakai parang! (menunjuk arah kelamin)’. Begitulah kira-kira seruan warga sekitar ketika “menyapa” beberapa kaum transgender dalam film dokumenter Bulu Mata karya Tonny Trimarsanto.

Film dokumenter dengan tema kaum minoritas dan Tonny adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bermula ketika menjadi penata artistik, periset materi visual, dan penulis skenario untuk film-film Garin Nugroho selama 10 tahun sejak film Bulan Tertusuk Ilalang. Ia pernah memenangi kategori Best Art Director untuk film Daun di Atas Bantal di beberapa festival film internasional.

Namun ternyata gemerlap industri film layar lebar tidak serta merta membuat Tonny betah. Salah satu alasannya, tidak ada tantangan dalam membuat film fiksi. Dengan puluhan kru, peralatan lengkap, dan dukungan teknologi Computer Generated Imagery (CGI), proses pembuatan film layar lebar bisa diatur dengan mudah.

Sebaliknya, film dokumenter yang memotret realitas di masyarakat lebih banyak menangkap peristiwa spontan, penuturan cerita, dan tak jarang mengambil risiko jika bersentuhan dengan isu yang kontroversial dan sensitif, seperti yang pernah ia alami di Sampit, Ambon, Timor Leste, dan Papua.

Namun justru itu yang membuat Tonny tertarik. Ia sejak awal tahu bahwa film dokumenter adalah kasta terendah dalam dunia bisnis audio visual di bawah industri periklanan, layar lebar, dan sinetron. Pasar film dokumenter hanyalah festival, dunia akademis, dan komunitas terbatas. Apalagi sejarah yang lekat dengan propaganda, dari zaman Hitler hingga Soeharto, yang membuat film dokumenter kurang diminati.

“Dokumenter itu sepi, tak menjanjikan uang. Tetapi itu minat saya, membuat film sebagai media untuk mengekspresikan sikap saya terhadap sebuah persoalan,” kata Tonny.

Meski dengan modal pas-pasan, Tonny cukup produktif menghasilkan film dengan berbagai tema sosial, di antaranya Gerabah Plastik, The Last Prayer, It’s a Beautiful Day, Laki-laki dengan Dua Belas Istri, Tikus yang Kawin dengan Wereng, dan Egg, Chicken and Where’s Mr Kelly—film pendek tentang cerita kekerasan di Papua.

Daun di Atas Bantal, Bulan Tertusuk Ilalang, dan beberapa film layar lebar lainnya membuat namanya melambung di tahun 1997 ketika mendapatkan penghargaan sebagai Best Art Director di Indonesia Cine Club Film Festival untuk film Daun di Atas Bantal.

Tahun 2002 Tonny kembali memenangkan penghargaan Film Terbaik dalam Festival Film Dokumenter Indonesia untuk filmnya yang berjudul Gerabah Plastik. Di tahun 2010, Tonny kembali mendapat penghargaan di kategori Film Terbaik dalam Festival Film di India.

Sejak tahun 2000, Tonny mulai fokus berkarir dalam dunia film dokumenter. Selain menggarap film dokumenter, Tonny juga sempat menjelajahi dunia kepenulisan hingga menerbitkan beberapa buku seperti, Membaca Film Garin, Renita Renita, dan Membuat Dokumenter Gampang-Gampang Susah.

Tonny lebih senang dalam dunia dokumenter ketimbang fiksi, walaupun film fiksi juga pernah mengharumkan namanya dengan masuknya beberapa film karya Tonny ke festival film di berbagai belahan dunia. “Contohnya, film saya yang berjudul Serambi, sudah masuk festival film di Cannes, Prancis. Tapi dokumenter lebih menarik untuk saya,” begitu ungkapnya.

Tonny Trimarsanto di rumahnya, Klaten, Jawa Tengah, yang juga berfungsi sebagai basecamp rumah produksi Rumah Dokumenter.

Dokumenter sendiri menurut Tonny lebih menantang dan lebih membuat dirinya terpacu dalam belajar. Cara kerja yang simpel dan tidak membutuhkan banyak pekerja maupun aktor yang membuat Tonny semakin nyaman dalam dunia film dokumenter.

Film dokumenter menurutnya lebih personal dalam proses pembuatannya dan juga tidak membutuhkan banyak biaya. “Di film dokumenter pun saya lebih bisa mengatakan langsung, misalnya tentang pelecehan, tentang kemiskinan, dapat saya sampaikan secara langsung. Tidak perlu banyak aspek artistik, pemeran dan lain-lain. Dan saya juga lebih menikmati proses dalam pembuatan film dokumenter,” begitu kata Tonny ketika ditanya alasan lebih menggarap dokumenter dibandingkan film fiksi.

Kami bertemu Tonny di basecamp “Rumah Dokumenter” di Belangwetan, Klaten, Jawa Tengah—yang juga sekaligus kediaman Tonny sekeluarga. Rumah berasitektur Jawa dengan sedikit sentuhan Bali tersebut terkesan paling “teduh” di antara rumah-rumah sekitarnya. Obrolan kami berlanjut membahas alasan Tonny memilih minoritas dan transgender sebagai tema yang kerap diangkat dalam film-filmnya. “Karena menurut saya ketika membuat film, kita belum mencapai titik equality (kesetaraan). Apapunlah dan kesetaraan itu tidak pernah terjadi bagi kaum minoritas. Nah, ketika kesetaraan tidak pernah terjadi, maka saya mencoba untuk membuka ruang dialog yang lebih luas guna menyampaikan bagaimana kesetaraan dapat terjadi,” begitu katanya.

Tonny terbilang konsisten membuat film dokumenter selama 20 tahun terakhir ini. Menurut Tonny sendiri, dokumenter mempunyai pangsa pasar yang berbeda dengan film fiksi. Banyak orang menganggap dokumenter tidak dapat menghidupi dan tidak banyak diekspos.

Namun pasar film dokumenter karya Tonny lebih banyak di luar negeri, seperti Amerika Serikat, dan Eropa. Beberapa filmnya juga pernah dikontrak untuk ditayangkan di televisi Taiwan. Tonny sendiri menyayangkan dengan sutradara yang bisa terhitung banyak jumlahnya dalam ranah film dokumenter, namun hanya sedikit yang mampu bertahan.

Di dunia film dokumenter, kerap kali permasalahan biaya menjadi momok bagi para sutradara yang akan berkecimpung di dalamnya. Tetapi Tonny punya cara tersendiri dalam menghadapi ketakutan tersebut. Ia tidak terlalu memikirkan bagaimana uang yang akan diterima ataupun pembiayaan filmnya. Tonny lebih sering menggarap filmnya setengah jadi lalu memutar otak untuk melakukan fundraising. Seperti film Asu Gancet yang berceritakan tentang pertanian organik. Asu Gancet sendiri adalah komposisi musik lama dan lesung.

Film ini sudah digarap olehnya sejak tahun 2013 dan sampai sekarang belum mendapat fundraising. Namun menurutnya, ada atau tidaknya fundraising tidaklah penting. Tonny lebih bergantung kepada modal sosial dan juga jaringan yang dimiliki olehnya. Kapital berupa uang menurutnya tidak terlalu penting dibandingkan dengan modal sosial dan jaringan yang dimiliki olehnya. Pola yang dilakukan oleh Tonny adalah tidak mendapatkan uang terlebih dahulu, namun uang bisa didapatkan kemudian.

Modal sosial yang dimiliki Tony pun bekerja dengan baik. Ia bercerita ketika memproduksi film Laki-laki dengan Dua Belas Istri yang idenya bermula sejak 2012 ketika Tonny menyutradarai syuting iklan Djarum “My Life My Adventure” yang lokasinya berada di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Ketika syuting di Sumba, salah satu kru Tonny bercerita, “Mas, di sini ada bapak-bapak yang punya istri dua belas lho”. Dari situ Tonny mendapatkan ide untuk film tersebut. Tidak lama setelah itu, ia mengumpulkan tim dan berangkat ke lokasi untuk memulai syuting. Selama perjalanan sampai lokasi, untuk masalah akomodasi Tonny mengandalkan jaringan yang ia punya. Ia menumpang tidur di biara, dengan feedback memberikan workshop untuk orang muda Katolik sekitar.

Sejak film Renita Renita dan The Mangoes, Tonny lebih banyak dikenal sebagai sineas dokumenter yang punya spesialisasi isu transgender. Bahkan, beberapa penyelenggara festival film international sering bertanya apakah dirinya memiliki film serupa untuk diputar dan diapresiasi.

Ketertarikan Tonny dalam memotret dunia transgender didorong oleh keinginannya untuk membuat film-film advokatif yang membela hak kelompok minoritas di Indonesia. Transgender ada di tengah-tengah masyarakat tetapi sering luput dari perhatian publik.

“Saya merasa berkepentingan dengan isu minoritas, karena mereka layak untuk dilihat dan dimanusiakan. Dan film-film saya tentang transgender adalah dialog yang tak pernah selesai,” kata Tonny.

Secara umum, orang-orang memandang kelompok waria dengan stigma negatif dan memperlakukannya secara diskriminatif. Sementara, saat itu belum ada film dengan teknik pengambilan gambar tak berjarak yang mengungkap sisi kehidupan transgender secara gamblang.

“Kalaupun ada, ambil gambarnya memakai lensa tele, diam-diam mencuri, dan sudut pandangnya sebagai pihak luar. Saya membuat film dengan kamera yang sangat dekat dengan mereka, dan membuat mereka berani bercerita ke arah kamera,” kata Tonny.

Renita Renita menjadi film dokumenter pertama tentang transgender yang memiliki intimasi dengan subyek. Sejak awal, Tonny memposisikan dirinya berada di pihak mereka dan berupaya membangun kedekatan secara personal sehingga tokoh yang difilmkan tak merasa risih dibuntuti kamera.

Tonny lebih banyak menggunakan pendekatan empati terhadap kelompok transgender, sehingga mereka merasa sang sutradara seperti sahabat yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita dan kehidupannya yang sangat pribadi.

“Untuk cara pendekatan, saya lebih mengedepankan empati, misalkan bagaimana saya tidak berjarak, saya berdiri di pihak mereka, bagaimana saya di antara mereka dan bagaimana saya meyakinkan mereka bahwa saya ada di pihak mereka. Saya mencoba jujur dengan mereka, mencoba jujur tentang apa maksud saya dan bahwa saya peduli dengan mereka,” jelasnya.

Ia menambahkan, “Dulu kita mengenal transgender dengan panggilan ‘wadam’ (wanita adam), ataupun ‘waria’ (wanita pria). Lalu beberapa tahun terakhir dunia internasional mengenal kata LGBT (Lesbian Guy Bisexual Transgender)”. Menurut Tonny sendiri, masyarakat Indonesia sejak lama mengalami fobia dengan segala sesuatu yang bersifat asing.

Kisah itu terjadi di pesantren waria, ketika Tonny sedang nongkrong wedangan di sekitaran Kotagede. Sang penjual wedangan bercerita, “Mas, tahu nggak? Pesantren itu kemarin habis digrebek kelompok radikal dan kelompok intel lho”.

Lalu Tonny pun bertanya “Lha memang kenapa pak?”

“Mereka kan LGBT,” sang penjual masih bersikukuh.

“Tapi mereka sudah lama toh, Pak?” Tony menimpali, lalu dijawab kembali oleh sang penjual, “Tiga tahunan lah”.

“Pernah ada masalah?” Tony kembali bertanya.

Sang penjual mengaku, “Nggak pernah”. “Terus kenapa digrebek?” tanya Tony kembali.

“Ya karena mereka LGBT,” pungkas sang penjual.

Menurut Tonny, kejadian tadi disebabkan karena ketakutan sebagian besar masyarakat Indonesia akan segala sesuatu yang berbau impor yang harus dilawan, harus ditolak dan semacamnya.

Lantai atas rumah Tonny yang sekaligus menjadi ruang kerja Tony, kerap didatangi oleh siswa SMK jurusan multimedia. Tonny kerap mengadakan program magang untuk siapapun yang tertarik dalam film dokumenter. Di ruang kerja dengan tembok batu bata merah yang tidak “diaci” tersebut pula tergantung puluhan penghargaan yang telah diraih Tony selama ini.

Soal apresiasi film dokumenter, ia menceritakan pengalamannya bahwa film Renita Renita pernah ditolak di Jakarta International Film Festival (JIFFest) 2006 karena dianggap tidak memenuhi standar kualitas yang ditetapkan panitia. Tetapi, film berdurasi 16 menit itu malah diminta oleh seorang kurator Singapore International Film Festival 2007 untuk diputar di festival tersebut.

“Untuk bisa bertahan di dokumenter, harus membangun jaringan, terutama di luar negeri yang punya prospek bagus. Dengan cara itu, saya bisa terus menghidupi film-film berikutnya yang akan dan sedang saya buat,” ujar Tonny yang kini juga menjadi pengajar tamu di beberapa kampus di Indonesia.

Godaan pun beberapa kali mendatanginya berupa tawaran menggarap sinetron dan film fiksi, namun semuanya ia tolak dengan halus meskipun menjanjikan pendapatan yang lebih besar. Ia ingin tetap berada di luar arus utama perfilman Indonesia, dan memilih menapaki jalan sunyi nan lengang sinema dokumenter yang mengangkat kehidupan kaum minoritas.