Reportase March 30, 2018

Mendunia Tanpa Kata

Pria paruh baya itu tampak sibuk dengan pisau-pisaunya. Kacamata yang membingkai kedua matanya terlihat sedikit turun dari tempat di mana seharusnya berada, namun hal itu sedikitpun tidak mengganggu konsentrasinya terhadap pisau-pisau hasil karyanya. Adalah Darmo Sudiman yang akrab disapa Diman, seorang pengrajin pisau batik yang berada di Dusun Krengseng, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.

“Selamat sore, Pak,” Diman mendongak saat mendengar sapaan kami sebelum akhirnya mengangguk seraya tersenyum. “Mari-mari silakan duduk,” katanya saat mempersilakan kami duduk di kursi yang terdapat di teras rumahnya, tetapi kami lebih memilih untuk duduk di lantai bersama dengan Diman dan pisau-pisau kerajinannya yang mendunia.

Berawal dari kegiatannya meneruskan usaha kerajinan pisau logam milik sang ayah, Diman menginginkan sebuah inovasi baru pada pisau miliknya agar dapat mengikuti perkembangan zaman, namun masih ada kaitannya dengan kebudayaan lokal. Karena itulah ia memilih batik sebagai inovasi yang diterapkan pada kerajinan pisaunya. Selain karena batik sudah dikenal secara nasional sebagai produk khas Yogyakarta, batik sendiri juga mudah diterapkan di media manapun. “Saya mulai coba-coba membatik di pisau logam itu tahun 2010, otodidak, banyak sekali gagalnya karena tidak semua logam itu benar-benar cocok untuk dibatik dengan malam.” Setelah mengalami banyak kegagalan, akhirnya Diman menemukan logam yang pas untuk dibatik sehingga kerajinannya tersebut mulai dikenal oleh masyarakat pada tahun 2012. “Lagipula membatik di logam itu kan belum ada, jadi saya masih leluasa buat mengkreasikannya,” sambungnya.

Darmo Sudiman. (Anindita Rahardini)
Darmo Sudiman. (Anindita Rahardini)

Pada awalnya Diman merintis usahanya seorang diri, mulai dari membentuk pisau logamnya, membatik, sampai dengan tahap penglorotan atau direbus dengan soda untuk menghilangkan malam yang menempel pada logam pisau. “Membuat pisau batik itu susah, nggak bisa buru-buru, harus sabar dan telaten. Satu pisau itu bisa tiga sampai tujuh hari.” Waktu itu ia tidak berani memperkerjakan karyawan. Namun ketika usahanya mulai banyak pesanan, Diman mulai memperkerjakan karyawan secara borongan dan tidak menentu karena tergantung banyaknya pesanan.

Diman mengajak kami berkeliling dan menunjukkan alat-alat untuk membuat pisau logam sebelum akhirnya dibatik oleh karyawannya. “Dulu satu daerah sini pengrajin pisau logam semua. Lalu saya yang pertama bikin pisau batik,” ucapnya disela-sela penjelasannya mengenai proses pembuatan pisau miliknya. Bahkan pria kelahiran empat puluh lima tahun silam itu menunjukkan keahliannya dalam menggunakan mesin gerinda untuk menghaluskan dan menajamkan mata pisau yang telah dibentuk dan dipotong. Setelah pisau halus dan tajam selanjutnya pisau diberi tangkai berupa kayu yang juga dibatik.

Ia menjelaskan jika pada dasarnya pembuatan pisau batik sama dengan pembuatan pisau pada umumnya, hanya saja tidak melalui proses pembakaran karena logam yang digunakannya merupakan logam jenis stainless-steel, berbeda jika logam yang digunakan adalah logam jenis baja. Diman bahkan mengatakan logam jenis stainless-steel adalah logam yang paling bagus digunakan untuk membatik, terlebih lagi logam tersebut tidak akan berkarat karena tidak melewati proses pembakaran.

Diman menunjukkan cara menggunakan mesin gerinda. (Anindita Rahardini)
Diman menunjukkan cara menggunakan mesin gerinda. (Anindita Rahardini)

Setelah diajak melihat proses pembuatan pisau, Diman mengajak kami kembali ke teras rumahnya untuk melihat proses pembatikan yang tengah dilakukan oleh seorang wanita yang usianya tidak jauh berbeda dengan Diman. Wanita itu tampak begitu luwes menggerakkan canting di atas logam sesuai dengan motif yang diinginkan. “Kalau mbaknya ini sudah tahu semua motifnya, sudah hafal,” ujar Diman. “Bapak juga ikut ngebatik?” tanya kami yang dijawab dengan kekehan olehnya. “Kalo saya ya membuat pisaunya, nanti yang membatik mbaknya ini sama teman-temannya.” Karena merasa tertarik dengan proses membatik yang dilakukan oleh wanita tersebut, kami mendekat dan mengetahui bahwa batik digambar secara langsung di atas logam dengan malam tanpa mencetak pola terlebih dahulu sehingga kerajinan pisau batik tersebut benar-benar kerajinan tangan.

“Nah, nanti kalau sudah dibatik begini kita rendam kurang lebih dua setengah hari supaya warnanya keluar, terus direbus dengan soda abu agar malam-nya hilang, istilahnya dilorot gitu, lalu dibersihkan,” terang Diman melanjutkan penjelasannya mengenai proses pembuatan pisau batik.

Salah satu karyawan Diman sedang membatik pisau. (Anindita Rahardini)
Salah satu karyawan Diman sedang membatik pisau. (Anindita Rahardini)
Salah satu karyawan Diman sedang memasang tangkai pisau. (Anindita Rahardini)
Salah satu karyawan Diman sedang memasang tangkai pisau. (Anindita Rahardini)

Ketika kami bertanya apakah warna malam-nya dapat hilang ketika sering digunakan atau dicuci, dengan tegas Diman membantah. Dia menyatakan jika motif batik pada pisaunya tidak akan hilang. Warna dari motif tersebut justru akan semakin terlihat jika sering digunakan karena jarak antara motif batik dengan mata pisau cukup jauh. “Pisau saya kalau digunakan warnanya malah semakin kelihatan, jadi awet. Apalagi kalau pertamanya dibuat memotong nanas, wah itu malah bagus sekali.” Mendengar pernyataannya, kami kembali bertanya apakah malam yang terdapat dalam logam pisau berbahaya atau tidak bagi makanan. Namun lagi-lagi kami menerima bantahan. Dia menyatakan jika pisaunya aman digunakan karena dia tidak menggunakan pewarna sedikit pun.

Meski dibilang sukses dalam usahanya, Diman juga memiliki berbagai macam pengalaman yang kurang menyenangkan. Selain karena banyak yang gagal, dia pernah tidak bisa memenuhi pesanan dari Prancis karena pesanan yang begitu banyak namun kemampuan yang ada terbatas.

Selain itu Diman juga belum mengetahui sistem ekspor-impor. Karena itulah dia mengharapkan adanya pelatihan dan bimbingan dari pemerintah agar usahanya tersebut dapat diangkat. Belum lagi dengan kondisi masyarakat yang masih kurang melirik kerajinan tersebut. “Ya kan memang usaha saya suksesnya belum lama, masih baru, dan rata-rata masyarakat masih merasa eman-eman kalau pisau batiknya dipakai, padahal lebih bagus dipakai, bisa tahu juga tajam atau tidaknya. Saya kalau di rumah saja pakainya pisau batik.”

Meski begitu, Diman tetap senang karena usahanya dikenal oleh orang-orang, dan banyak tamu yang datang karena mereka memang menyukai produk batik. Diman sendiri memilih untuk menjual produk pisau batiknya di showroom yang ada tepat di depan rumahnya agar tamu-tamu yang datang bisa sekaligus melihat proses membatiknya.

Koleksi pisau batik milik Darmo Sudiman. (Anindita Rahardini)
Koleksi pisau batik milik Darmo Sudiman. (Anindita Rahardini)
Showroom pisau batik yang berada di depan rumah Darmo Sudiman. (Anindita Rahardini)
Showroom pisau batik yang berada di depan rumah Darmo Sudiman. (Anindita Rahardini)