Reportase September 21, 2019

Menyelami Musik “Bising” Noise

Ada banyak aliran musik di dunia ini yang memiliki basis penikmatnya tersendiri. Mungkin belum terbayang sebelumnya, suara bising yang berasal dari gesekan antara besi dan logam dikategorikan sebagai sebuah ‘musik’ yang kini jumlah pendengarnya terus bertambah. Ialah musik noise atau pengertian harafiahnya adalah musik gaduh yang memanfaatkan suara-suara di sekitar kita. Jenis musik ini memang belum sepopuler aliran musik pop, namun di Indonesia sudah ada beberapa orang yang mulai melirik musik noise sebagai suatu entitas baru.

Mahamboro, penikmat musik noise sekaligus komposer pertunjukan seni suara mengaku awalnya tidak tertarik pada aliran musik ‘bising’ ini. Ia berkilah, yang menjadi magnet pemikatnya adalah susunan suara-suara yang membentuk musik noise. Pemusik yang sedang melanjutkan studi pendidikan S2 di Institut Seni Indonesia Solo ini beranggapan suara adalah inti dari musik itu sendiri, baik bernada maupun tidak. Menurutnya, musik noise tidak hanya sekedar musik, namun memiliki arti dan rasa. Seperti jenis musik lainnya, musik noise ada sebagai sarana mengekspresikan rasa, emosi, bahkan musik untuk unjuk rasa.

Pernyataan Mahamboro itu didukung oleh Indra Menus, pendiri Jogja Noise Bombing, yang menjelaskan bahwa kiblat musik noise saat ini adalah Jepang. Pada awal mulanya, musik noise merupakan suatu bentuk pembangkangan atau pemberontakan sebab dianggap tak beraturan oleh masyarakat umum. Maka dari itu banyak pelaku musik noise yang menggunakan jenis musik ini sebagai bentuk ekspresi dan kritik atas apa yang terjadi olehnya. 

Meski di Jepang dianggap sebagai musik pembangkangan, musik noise masuk di Indonesia dengan cara yang berbeda. Musik noise dikenal sebagai seni suara yang anti mainstream. Dalam proses penciptaan lagu, pelaku musik noise bisa mengeksplorasi tema apapun tanpa dibatasi kaidah yang kaku.

Dalam proses pembuatan lagu, Mahamboro mengatakan bila musik noise tidak membutuhkan alat musik khusus. Ia melanjutkan, benda dan situasi apapun yang menghasilkan suara dapat dijadikan bahan untuk membuat lagu. Penulis lagu dapat memanfaatkan suara yang mungkin belum pernah terpikirkan oleh pencipta lagu lainnya, seperti suara hujan dan televisi rusak. Berbagai suara ini kemudian disusun sesuai keinginan penulis lagu dengan alat bantu mixer.

Makin bertambahnya penikmat seni musik noise, khususnya di Yogyakarta, memunculkan sebuah komunitas bernama Jogja Noise Bombing atau JNB. Komunitas ini ada sejak tahun 2009, yang diawali dengan diunggahnya kegiatan pertunjukan musik noise di laman Youtube. Kini JNB terus berkembang dan memiliki banyak penikmat. Mulai tahun 2012 lalu, komunitas JNB memiliki agenda rutin tahunan, di antaranya konser dan pertunjukan hingga bombing, atau sebuah kegiatan di mana musik noise dimainkan di tempat umum. Pertunjukan ini sekaligus menjadi wadah bagi penikmat musik noise di Yogyakarta.

Beberapa penikmat musik sekaligus pelaku musik noise yang tergabung dalam JNB tercatat pernah berkeliling Asia Tenggara hingga Eropa untuk bertukar ilmu dengan penikmat aliran musik noise lainnya. Menurut Adit, salah satu anggota JNB, penikmat musik noise terbagi menjadi tiga aliran, antara lain sebagai sebuah sound art atau seni suara, musik noise dalam ranah akademis, dan sumber hiburan atau just for fun.

Aliran musik noise memiliki banyak penikmat dari berbagai latar belakang, mulai dari orang awam, akademisi, hingga musisi yang concern pada musik noise itu sendiri. Inilah yang menjadikan seni musik noise sebagai seni pengekspresian melalui suara yang beragam dan unik. Bahkan Mahamboro tidak dapat mendefinisikan apa musik noise itu.

Pada Maret 2019 lalu, kami mendapat kesempatan untuk melihat langsung kegiatan bombing yang diselenggarakan oleh JNB. Pertunjukan yang dilakukan di pelataran Tugu Golong Gilig Yogyakarta ini turut mengundang musisi baik dari dalam maupun luar negeri. Rucha Wulandari dari Ruang Imaji mengatakan kegiatan bombing ini dilaksanakan dalam rangka dokumentasi film dari salah satu proyek Nanyang Techonology University, Singapura. Rucha juga memberi kesempatan kepada kami untuk mewawancara anggota tim tersebut, di antaranya Jerrell Chow sebagai sutradara, Lee Yu En sebagai produser sekaligus tata suara, dan Cornelius Tang sebagai juru kamera.

Jerrell yang kerap dipanggil Jerry menjelaskan timnya memilih musik noise untuk film dokumenternya karena memilki keunikan tersendiri sebab musik noise dapat disebut musik meski tanpa ada not balok dan ritme yang teratur.  “Maka dari itu kita memilih untuk mendokumentasikan musik noise dan penting untuk lebih diperkenalkan ke publik,” kata Jerry.

Di kesempatan yang sama kami juga bertemu dengan salah satu musisi noise yang berasal dari Amerika Serikat bernama James, dan juga Maya sebagai peminat musik noise dari Belanda. Menurut James, musisi noise yang sudah berkiprah lebih dari 30 tahun itu, musik noise adalah salah satu hasil dari bagaimana semesta berbicara, termasuk tanaman, hewan, hingga hujan. Musisi yang pernah melakukan rekaman hingga benua antartika ini menganggap bahwa suara-suara itu lebih indah dibandingkan musik pada umumnya. Sementara menurut Maya, musik noise memiliki keunikan sebab dapat melepaskan emosi dan ekspresi. “Satu kata untuk menggambarkan musik noise adalah rough atau tangguh,” katanya.

Meski bagi sebagian orang noise bukan sebuah musik melainkan suara yang bahkan dianggap mengganggu, mereka sepakat bahwa elemen terpenting dari sebuah musik adalah suara. Tanpa suara, musik tidak akan memiliki nada, dan tanpa suara, semesta tidak dapat mengenal sebuah nada dan melodi yang indah.