Reportase September 21, 2019

Merawat Budaya Jawa Lewat Djaka Lodang

Majalah adalah sebuah media publikasi atau terbitan secara berkala yang memuat ragam artikel. Topik yang diangkat cukup bervariasi, mulai dari sains, mode, ekonomi, hingga kuliner. Pun dari sasaran pembacanya masing-masing majalah memiliki pasar tersendiri.

Pada era digital seperti sekarang, majalah tidak terbatas dalam bentuk cetak saja, banyak pula majalah versi dalam jaringan (daring) yang dapat diakses secara mudah dan murah. Bahkan makin banyak majalah yang membatasi produksi cetak dan beralih ke daring.

Masing-masing majalah kini berusaha untuk mempertahankan karakteristiknya ditengah persaingan. Sebut saja majalah Djaka Lodang yang sejak semula terbit hingga sekarang menggunakan bahasa Jawa dalam setiap artikelnya. Majalah yang lahir sejak tahun 1971 ini terbit setiap seminggu sekali atau biasa dikenal dengan majalah mingguan.

“Saya membuat majalah ini dalam bahasa Jawa dengan niat mempertahankan, melestarikan bahasa Jawa. Karena makin lama bahasa Jawa kurang mendapat perhatian,” ungkap Abdullah Purwodarsono, pemimpin umum sekaligus editor bahasa majalah Djaka Lodang.

Menurut Abdullah, keterampilan berbahasa Jawa penting sebab merupakan bahasa ibu bagi mereka yang lahir di tanah Jawa. Melalui majalah Djaka Lodang ini, lanjutnya, bahasa Jawa bisa selalu dipergunakan dan tetap lestari.

Bukan perkara mudah merintis majalah berbahasa daerah yang masih eksis hingga kini. Banyak hambatan dan rintangan yang harus dilalui. Meskipun begitu, Abdullah selalu bertekad dan gigih agar bahasa Jawa bisa dikenal oleh semua kalangan, tidak terbatas usia.  

Meski majalah Djaka Lodang telah berdiri selama 48 tahun, Abdullah mengungkapkan bahwa majalah ini hanya diminati oleh beberapa kalangan saja, seperti para kelompok lansia atau usia lanjut, dan sastrawan. Ini yang menjadi keprihatinan pria sepuh ini sebab khawatir tidak ada yang mau meneruskan perjuangan ia dan kawan-kawan perintis Djaka Lodang.  

Dari tahun ke tahun, majalah Djaka Lodang juga menghadapi masalah penurunan jumlah eksemplar. Majalah yang mengusung jargon Ngesti Budhi Rahayu Mungatmakari Jakatanyar ini, menurut Abdullah, mengalami penurunan yang drastis. “Sekarang tinggal 3 ribu eksemplar, dulu memang pernah sampai 13 ribu eksemplar,” tuturnya dengan raut wajah prihatin.

Perhatian pemerintah Yogyakarta untuk majalah lokal berbahasa daerah menjadi harapan Abdullah kini. Dukungan moril dari pemerintah diharapan bisa menjaga semangat para penggiat Djaka Lodang meski diakuinya belum menemukan sosok pengganti dirinya ketika pensiun nanti. “Mudah-mudahan masih ada yang meneruskan, sebab ini sudah mulai dilupakan,” harap Abdullah.