Foto Cerita October 20, 2016

Roda-Roda Gila

Atraksi Maut Memacu Adrenalin

Woorrr Woorrr Woorrr… Suara knalpot motor memecah telinga. Belasan orang berbondong-bondong membeli tiket menuju sebuah tong raksasa. Tong tersebut terbuat dari papan kayu yang disusun menggunakan kerangka besi. Tingginya 5 meter, diameternya 8 meter. Di dalam tong tampak dua orang pengendara Rx King dan seorang pengendara onthel. Setelah semua bersiap, satu-persatu kendaraan mulai menggilas dinding tong. Woorrr woorrr woorrr… Mereka pun berputar dengan ugal-ugalan.

Para penonton serentak menutup telinga. Satu demi satu pengendara mulai melakukan akrobat. Ada yang lepas stang, berdiri di atas motor, duduk menyamping, berjoget, bahkan membentuk formasi dengan bergandengan tanggan. Beberapa penonton mengeluarkan uang kertas dari sakunya, kemudian disodorkan ke bibir tong. Dengan sigap pengendara motor menyambar uang tersebut. Aksi yang mereka lakukan sangat mendebarkan. Penonton yang datang menyaksikan pun dibuatnya berdecak kagum.

Itulah atraksi Tong Stand Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) Yogyakarta. Mereka adalah kelompok hiburan rakyat yang tergabung dalam Diana Ria Enterprise, sebuah perusahaan pasar malam asal Demak, Jawa Tengah. Tong Stand atau yang lebih dikenal dengan Tong Setan merupakan pertunjukan yang cukup ekstrem. Atraksi ini mempertontonan kepiawaian seorang pengendara motor yang melaju di dalam tong melawan gravitasi. Para pengendara berputar-putar dengan kencang. Berbagai manuver pun mereka lakukan untuk memukau penonton.

Peminat tontonan ini rupanya cukup banyak. Dalam sekali putaran—kurang lebih sepuluh menit—para pemain tong dapat meraup rupiah yang lumayan, entah dari tiket maupun saweran. Namun, dari pendapatan yang banyak tentu sebanding dengan resiko yang harus diterima jika terjadi kecelakaan.

Salah satu pemain Tong Stand tersebut adalah Arip Budyono. Pria 32 tahun itu sudah menekuni atraksi maut tersebut sejak tahun 2005. “Awalnya aku cuma karyawan biasa yang manggil-manggil pengunjung, tapi setelah lihat tong, aku bilang bahwa aku ngak mau keluar dari pasar malem sebelum bisa menaklukan tong,” ujarnya. Akhirnya Arip pun berlatih selama beberapa bulan hingga ia mahir melakukan akrobat.

Menurut Arip, untuk menjadi seorang pembalap yang piawai tidaklah mudah. “Proses latihannya bertahap. Ibarat sekolah ya paud dulu, terus nol kecil, nol besar, baru masuk SD. Sama seperti main tong stand. Cuma di sini ilmunya pakai ilmu nekat dan niat. Kalau dua-duanya ngak jadi satu, ya ngak mungkin bisa,” ungkap Arip sambil tertawa.

Selama melakukan atraksi Tong Stand, Arip juga pernah mengalami kecelakaan. Peristiwa naas tersebut terjadi tepat setahun lalu. Kebetulan lokasinya juga di Sekaten. Untungnya luka yang ia alami tidak terlalu parah, jadi di hari berikutnya Arip bisa kembali bekerja. Jika terjadi kecelakaan kerja, pemilik pasar malam pun tidak tinggal diam. “Setiap karyawan yang bekerja mendapatkan asuransi dari bos, jadi kalau terjadi kecelakaan kerja kita tidak perlu pusing memikirkan biaya,” tambahnya.

Selain pengendara yang “khusus”, motor yang digunakan dalam atraksi Tong Stand juga memiliki penanganan yang khusus. Dari segi mesin memang tidak mengalami banyak perubahan, namun bila sudah ditarik, tuas gas tidak bisa kembali secara otomatis. Fungsinya agar motor dapat melaju dengan kecepatan stabil ketika melakukan manuver. Di samping itu, rem depan dan belakang juga dihilangkan. Untuk menurunkan kecepatan dan mengkentikan motor, Arip hanya mengandalkan gigi transmisi saja. “Takutnya kalau nginjak rem bisa langsung jatuh mas, jadi memang butuh ketangkasan,” ujar ayah dua anak itu.

Soal pendapatan, Arip mengaku mendapat 25% dari keuntungan per hari. Itu pun masih dibagi dengan kedua pemain lainnya. “Kalau di Sekaten, rata-rata per hari bisa sampai 3 juta. Kalau malam minggu bisa sampai 5 juta. Itu semua tergantung cuaca. Kalau hujan ya sepi,” ujar pria asal Demak tersebut. Ia juga menambahkan bahwa pendapatannya sebagai pembalap Tong Stand memang tergolong besar dibanding dengan karyawan lain. “Ya makanya itu kenapa aku tertarik jadi pemain Tong Stand, walaupun menantang tapi pendapatannya besar. Kalau aku jadi karyawan pasar malem biasa terus kapan ada perubahan?” pungkasnya.