Sastra April 30, 2020

Sanubari Seorang Rukmin

Rukmin sedang melihat profil Pram di meja kantornya. Ia juga mengecek rekam jejak Pram sampai bisa diisukan berhubungan dengan PKI. Kertas berhalaman-halaman itu dibolak-balikkannya sambil mencermatinya dengan saksama.

“Langit tampak mendung hari ini,” kata Rukmin sambil melihat awan mendung keabuan-abuan yang cukup pekat di angkasa dari jendela kantornya.

“Ya. Kau benar, Min. Sepertinya kita harus segera turun menggiring para tapol masuk ke barak,” ujar Makrul. Mereka berdua lekas mengambil senjata mereka, mengenakan topi tentara, kemudian turun dari pos tentara.

Di hutan tampak Tarji sedang mengayunkan parangnya ke arah semak belukar yang tumbuh liar. Pram yang berada di sebelahnya berkata, “Lihat, Ji. Sebentar lagi akan turun hujan.”

“Ya, aku tahu.” Tarji menurunkan parangnya, kemudian segera menyembunyikan dalam-dalam pecahan kaca di celananya. Pecahan kaca itu ia dapatkan ketika berkelahi dengan teman satu baraknya. Masalahnya sepele, cuma memperebutkan ikan asin yang menjadi makanan mereka.

“Buat apa pecahan kaca itu?” Pram bertanya kepada Tarji.

“Aku masih memiliki dendam kepada Rukmin. Gara-gara dia, istriku dijadikan gundiknya.”

Tak lama kemudian, beberapa tentara menyuruh para tapol yang bekerja di hutan untuk segera berbaris dan masuk ke dalam barak. Tarji berbaris di belakang Pram. Makrul dan Rukmin juga tampak di barisan tentara, sambil mengamati gerak-gerik para tapol yang dianggap mencurigakan.

“Ji, sebaiknya jangan kau lakukan. Bisa celaka kamu nanti,” bisik Pram kepada Tarji.

“Diam saja kamu, Pram. Ini masalah pribadi,” jawab Tarji pelan.

Kesempatan yang ditunggu Tarji tiba. Makrul tampak cermat meneliti satu per satu tapol yang akan masuk ke barak. Ia juga melihat perilaku mencurigakan Tarji dari kejauhan. Buat apa ia menatap Rukmin begitu tajam, pikir Makrul.

Tarji yang saat itu melewati Rukmin persis di depannya, langsung mengeluarkan pecahan kaca dari dalam celananya. Makrul langsung berlari menuju Rukmin. Dalam hitungan detik, Tarji menyayat leher Makrul secara sigap. Darah segar muncrat keluar dari leher Makrul dan ia langsung roboh di tanah.

“Dasar bajingan!” Rukmin langsung memukul pelipis Tarji menggunakan topor senapan dan meringkusnya dibantu tentara yang lain. Sumarto yang saat itu naik pitam, ingin segera menyudahi hidup Tarji.

“Hentikan! Jangan bunuh Tarji!” Tiba-tiba Pram keluar dari barisan dan langsung melindungi Tarji.

Rukmin mendekatkan diri, lalu berbicara kepada salah satu telinga Pram yang masih berfungsi. “Mau apa kau, Pram? Melindungi temanmu yang menyedihkan ini? Hahaha,” kata Sumarto bernada mengejek.

“Bukan soal itu, tetapi bagaimana caramu memperlakukan semua tapol sebagai manusia!” Pram bangkit berdiri, kemudian menatap mata Sumarto dengan tajam sebagai tanda menantang.

Plak! Tamparan keras menghampiri pipi Pram. Rukmin yang masih naik pitam berganti memalingkan wajahnya ke Pram.

“Jangan pernah main-main dengan kami. Seharusnya kalian bersyukur masih beruntung dibiarkan hidup sama Presiden. Kalian hanya beruntung saja tidak diciduk sewaktu di Jawa.” Sesaat Rukmin diam. Ia lalu melihat Makrul yang sudah tidak bernyawa. Ia kemudian menyuruh beberapa tentara untuk mengubur Makrul. Pram dan Tarji dilihatnya kembali.

“Bawa mereka ke ruang interogasi!”

Ruang interogasi di penjara Pulau Buru terkenal angker. Ruang itu sekaligus sebagai kuburan beberapa tapol yang dianggap melawan keputusan tentara. Pram digiring masuk ke salah satu bilik di ruang itu, di sisi bilik yang lain, Tarji juga ikut digiring dua tentara. Ia masih meringis kesakitan sambil memegang pelipisnya yang berdarah.

“Pramoedya Ananta Toer. Lahir 6 Februari 1925, di Blora, Jawa Tengah. Penulis, pernah bekerja di Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan PKI. Empat tahun tujuh bulan mendekam di Nusakambangan. Apa lagi yang kita tahu dengan dirimu?”

Pram diam saja.

“Bagaimana rasanya pelipismu dipukul pakai popor senapan? Apakah itu yang membuat salah satu telingamu menjadi tuli?”

Pram masih terdiam. Rukmin duduk di hadapan Pram. Ia menyalakan rokoknya, mencondongkan diri ke arah Pram, lalu membuang asapnya tepat di wajah Pram.

“Sebaiknya kali ini kau jawab pertanyaanku, apa yang membuatmu berpikir untuk menolong Tarji?”

“Aku tidak berpikir untuk menolongnya,” jawab Pram lugas.

“Lalu?” nada Rukmin seakan-akan menagih jawaban Pram.

“Dia salah satu teman baikku.”

“Baik, itu jawabanmu.” Sumarto menaruh rokoknya di asbak, lalu melanjutkan pembicaraannya.

“Tahukah kau? Sudah sejak lama aku memburumu waktu kau masih aktif di Lekra. Aku bahkan sempat menyuruh orang untuk membunuhmu, tapi gagal. Kita akhirnya bertemu di sini, di Pulau Buru.”

Terdengar teriakan Tarji di seberang bilik. Bunyi sabetan dan pukulan terdengar sampai ke bilik tempat Pram dan Rukmin berbicara. Sejenak Rukmin menengok ke arah seberang, kemudian kembali kepada Pram.

“Aku sangat ingin membunuhmu, Pram. Kau berbeda dari kebanyakan orang. Tulisan-tulisanmu menggelorakan rakyat untuk bebas. Kau hanya masih beruntung saja masih hidup di tempat seperti ini.”

“Kalau begitulah, bunuhlah aku jika itu yang kau mau,” jawab Pram tenang.

Rukmin tertawa.

“Tidak semudah itu, Pram. Ada aturannya. Lagipula, Presiden juga menyuruh kami untuk tidak mudah menghabisi nyawa para tapol yang berada di sini.”

Rukmin lalu bangkit berdiri. Ia memandangi hujan yang mengguyur alam Pulau Buru lewat jeruji jendela bilik yang penuh karat.

“Apakah benar kau menjadikan istri Tarji sebagai salah satu gundikmu?” Pram tiba-tiba bertanya.

“Ya itu benar.” Rukmin berpaling pada Pram.

“Kau tidak seharusnya melakukannya.” Suara gemuruh dahsyat disertai kilat menutup pembicaraan Pram dengan Rukmin siang itu.

Rukmin mengacuhkan Pram dan segera keluar dari bilik yang pengap itu.

Malam itu udara sangat dingin. Rukmin yang seharian mengerjakan tugasnya di lapangan ingin segera memuaskan hawa nafsunya. Ia lalu memakai jaket tentara, mengunci pintu kantornya dan bergegas menuju barak yang dihuni khusus para gundik.

Sesampainya di sana, ia langsung membuka tenda barak. Gundik-gundik yang berada di dalam kemudian melihat Rukmin sambil berusaha merayunya. Rukmin tidak mempedulikan itu. Ia langsung menuju ke arah Widiyah. Widiyah adalah istri Tarji. Rukmin terpesona dengan kecantikan Widiyah. Tidak hanya paras Widiyah yang memikat hati Rukmin. Tubuhnya yang tinggi dan langsing bak model di era 1960-an.

“Yah?”

Widiyah berpaling. “Gimana ada apa Mas?”

Yuk ikut Mas ke barak seberang,” pinta Rukmin.

“Baiklah.”

Suara hewan-hewan malam menemani Rukmin dan Widiyah selama perjalanan menuju barak seberang. Barak di seberang barak khusus ini biasanya digunakan untuk memuaskan hawa nafsu tentara kepada para gundiknya. Biasanya Rukmin memuaskan hawa nafsunya di tempat ini.

Widiyah sudah berganti pakaian. Ia menanggalkan semua pakaian yang ia kenakan kecuali kutang dan celana dalam. Rukmin juga tampak melepas bajunya dan hanya memakai celana panjang berdinasnya. Mereka langsung menuju ke tempat tidur. Widiyah langsung mapan. Rukmin tiba-tiba teringat sesuatu.

“Kenapa Mas kok belum mapan?” Widiyah terbangun sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

Enggak, Yah. Aku hanya teringat sesuatu.”

“Teringat apa toh Mas?”

“Aku jadi ingat perkataan Pram waktu siang tadi di ruang interogasi.”

“Pram? Pramoedya Ananta Toer penulis cerpen dan buku itu?” tanya Widiyah.

“Iya. Ia tadi mengatakan beberapa kata sewaktu aku interogasi.”

Halah, enggak usah begitu dipikirin toh, Mas.” Widiyah berusaha merayu Rukmin. “Mendingan sekarang Mas segera mapan nemenin aku di sini.”

Rukmin mengacuhkan rayuan Widiyah. Memori siang tadi masih melekat di pikirannya. Kata-kata Pram seakan-akan mengingatkan dosa-dosanya yang terlampaui banyak. Ia sangat berambisi membunuh Pram, bahkan sampai mengambil istri orang untuk dijadikan gundiknya. Bagaimana tanggapan Tarji, istri Widiyah? Apakah Tarji akan mengampuninya? Atau justru membunuhnya?

“Mas, Mas Rukmin…” Widiyah menggoyang-goyangkan tubuh Rukmin.

Rukmin tersadar dari lamunannya.

“Mas kok ngelamun??? Lagi mikirin apa sih Mas?” Widiyah bertanya lagi. Ia masih penasaran mengapa Rukmin tidak segera mapan tidur.

“Pram benar.”  Ia menoleh ke arah Widiyah. Widiyah menjadi bingung ditatapi Rukmin dengan wajah bingung.

“Aku harus minta maaf kepada suamimu.”

“Tarji? Halah dia itu memang pantas tak tinggal, Mas. Lha ngurusin aku aja enggak  becus, malah ngurusin kerjaannya buat film di Surabaya.”

“Tarji pernah kerja di Sarikat Buruh Film Indonesia (Sarbufi)?”

“Dia sering enggak pulang ke rumah. Tarji itu hanya pulang dua bulan sekali. Dia lebih seneng srawung sama temen-temennya buat film di Surabaya ketimbang pulang ke Cilacap.”

Rukmin menjadi semakin bersalah. Dia tidak sepantasnya mengambil istri orang, walaupun Widiyah sendiri juga memiliki masalah dengan suaminya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

“Mas enggak usah kuatir.” Widiyah mencoba mengusap-usap punggung Rukmin.

Enggak kuatir gimana toh?” Rukmin menyingkirkan tangan Widiyah dari punggungnya.

Widiyah terkejut. Rukmin tidak seperti biasanya, pikir Widiyah. Apakah mungkin ini semua karena Pram, penulis cerpen dan buku itu?

Enggak. Ini enggak bisa dibiarkan lagi.” Rukmin bangkit berdiri dari tempat tidur.

Lho Mas mau ke mana?” Widiyah kembali menutupi tubuhnya dengan selimut. Tangannya yang panjang berusaha menggapai tubuh Rukmin yang kekar.

“Aku mau meminta maaf sama suamimu.” Rukmin segera berpakaian, kemudian meninggalkan Widiyah seorang diri di barak.

Tek, tek, tek. Suara mesin ketik tua Royal 440 milik Pram berbunyi keras di barak para tapol. Barak yang dihuni sekitar 50 tapol itu terkesan pengap. Pram masih terbangun, menyelesaikan tulisannya. Tarji ada di sampingnya, sudah tertidur pulas. Kepalanya dibalut perban berlapis-lapis yang menutupi dahi, pelipis, dan kepala bagian belakangnya.

“Pram?”

Orang yang bersangkutan tersebut merasa terpanggil.

“Rukmin? Ada apa gerangan kau berkunjung ke sini?”

Rukmin lalu duduk di samping Pram.

“Kau benar, Pram. Aku mengakui bahwa diriku ini adalah seorang pembunuh. Aku juga seorang bajingan yang dengan seenaknya mengambil istri orang tanpa merasa bersalah. Waktu siang tadi di bilik, aku memang belum mengerti apa yang kau bicarakan. Malamnya ketika aku bersama Widiyah, istri Tarji, baru aku merasa sadar akan segala niat busukku.”

Pram berhenti mengetik. Jari-jarinya yang sudah mulai keriput itu perlahan-lahan menjauh dari mesin ketik. Ia kemudian memalingkan wajahnya kepada Rukmin.

“Apakah benar begitu?” tanya Pram.

“Aku sungguh menyesal telah melakukan semua ini, kepadamu, kepada Tarji, kepada Widiyah, kepada semua orang yang telah kulukai dan kusakiti selama ini.” Rukmin mulai menangis.   

Pram merasa kasihan melihat Rukmin. Ia juga ingin ikut menangis, tetapi niat itu ditahannya. Ia lalu menggeser kursinya untuk lebih dekat kepada Rukmin.

“Kau tahu? Tidak semua tapol yang berada di sini adalah orang-orang yang terlibat langsung dengan PKI. Mereka hanya sial saja ikut terciduk sewaktu di Jawa. Sama halnya dengan tentara. Tidak semua tentara di sini berpegang teguh pada instruksi Soeharto. Ada beberapa tentara yang mungkin dalam hati kecilnya merasa apa yang dilakukannya selama ini sebenarnya bertentangan dengan dirinya.”

Rukmin menatapi Pram.

“Lihatlah langit di sana.” Pram menunjuk langit yang penuh dengan bintang dan bulan purnama yang terang benderang menerangi alam Pulau Buru.

“Langit sungguh indah malam ini, Pram.”

“Ya, aku sependapat denganmu, Min. Langit memang memancarkan pesonanya malam ini, menerangi alam Pulau Buru yang gersang tak bertuan ini.”

Rukmin tampak merenung.

“Tepat sebelum kita datang ke sini, pulau ini hanyalah pulau dengan barikade pegunungan dan perbukitan, yang bersambungan dengan semak belukar. Kandungan mineralnya pun kurang untuk pembangunan.”

“Perkataanmu ada benarnya juga, Pram.”

“Menurut pendapat saya, sebaiknya Pulau Buru ini dihutankan dan ditinggalkan selama seratus tahun. Karena pulau ini tidak vulkanis dan terdiri dari savanah, yaitu padang rumput yang diselang-selingi oleh hutan-hutan kecil.”

Tiba-tiba Tarji terbangun. Ia menengok ke arah Pram dan Rukmin yang sedang berbincang-bincang. Seketika itu juga Rukmin menoleh ke belakang.

“Tarji?” Rukmin segera menghampiri Tarji.

“Bangsat kamu, Min!” Tarji lantas marah. Ia bangun dan langsung memukuli Rukmin dengan kedua tangannya. Ia juga menjejakkan kedua kakinya ke arah Rukmin.

“Sudah! Cukup, hentikan!” Pram berusaha melerai mereka berdua. Tarji perlahan-lahan mulai tenang.

“Ji, Rukmin mau meminta maaf sama kamu,” kata Pram.

“Iya, itu benar, Ji.” Rukmin memulai pembicaraan.

Tarji berusaha mengendalikan emosinya yang masih meletup-letup.

“Aku menyesal telah mengambil istrimu. Aku juga mengetahui bahwa Widiyah juga memiliki masalah denganmu, tetapi aku tidak sepantasnya mengambil istrimu walaupun kalian berdua juga memiliki masalah satu sama lain. Aku ini memang bodoh, Ji.”

Tarji hanya terdiam. Ia memandangi Rukmin sejenak. Ia juga terkejut dengan keputusan Rukmin yang mau mengakui kesalahannya.

Suara sandal orang berlari-lari tergopoh-gopoh terdengar keras dari luar barak. Seketika itu juga Widiyah langsung masuk ke barak tanpa ijin terlebih dahulu. Ia melihat Pram, Rukmin dan Tarji di situ. Ia tidak peduli masih mengenakan celana dalam dan kutang yang dibalut dengan selimut.

“Mas Tarji???” Widiyah langsung menghampiri Tarji dan memeluknya. Ia rindu tidak bertemu Tarji sekian lamanya. Tarji juga balas memeluk Widiyah dengan penuh kehangatan, sambil mengusap-usap rambutnya yang dibiarkan tergerai panjang.

“Aku kangen sama kamu Mas,” ungkap Widiyah dengan polosnya.