Reportase May 29, 2018

Scanography, ‘Sentilan’ pada Fotografi

Bagi banyak orang, mesin pemindai atau scan merupakan barang yang cukup familiar. Dengan alat ini, kita dapat mengubah sebuah foto maupun dokumen menjadi sebuah file digital. Namun siapa sangka, dengan mesin scan ini dapat melahirkan sebuah karya seni yang unik dan menarik. Di tangan Angki Purbandono, mesin scan dapat disulap menjadi sebuah media dalam berkarya seni. Berkat kreativitasnya, membuat seniman asal Yogyakarta ini dikenal dari berbagai kalangan seniman maupun penikmat seni. Bahkan sekarang Angki dapat menggelar pameran seni di berbagai negara. Karya seni ini sering disebut sebagai seni scanography.

Kami berkesempatan bertemu dengan Angki Purbandono di sebuah studio seni miliknya yang bernama Rumah Kijang Mizuma di bilangan Prawirotaman, Yogyakarta. Di studio yang tampak asri inilah Angki menuangkan inspirasi-inspirasi dalam berkarya. Awalnya laki-laki berambut gondrong ini belajar berbagai macam seni, ada yang belajar di sanggar dan ada juga di studio milik temannya yang lebih dahulu berkuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia belajar seni mulai dari musik, seni rupa, performance, dan fotografi. “Jadi dari awal memang sudah campur belajarnya,” tutur Angki. Sampai akhirnya ia menambatkan hati di seni fotografi.

Angki Purbandono, seniman scanography. (Leonardus Rama)
Angki Purbandono, seniman scanography. (Leonardus Rama)

Awalnya Angki mengenal seni scanography bermula dari ketertarikannya dengan ilmu fotografi. Tahun 1993, Angki masuk dalam sebuah sekolah bernama Modern School of Design untuk memulai mengenal ilmu fotografi. Setahun berselang ia melanjutkan studinya di ISI Yogyakarta untuk lebih mendalami lagi ilmu fotografi. Lalu Angki berfikir untuk melakukan sebuah inovasi terhadap ilmu fotografi ini. “Mulai mengetahui konsep-konsep fotografi, saya secara personal mulai mencari peluang-peluang yang lain dalam menciptakan sebuah karya fotografi,” ucap Angki. Akhirnya setelah melakukan berbagai riset, Angki menemukan sebuah cara baru dalam fotografi yaitu dengan membuat sebuah karya fotografi tanpa menggunakan kamera. Dari situlah ia mengenal sebuah metode yang bernama scanography. Seni scanography ini tidak jauh beda dengan fotografi pada umumnya. “Bisa dibilang dalam pembuatan seni ini, metode yang saya pakai adalah scanography, tetapi saya tidak menghilangkan konsep-konsep tradisi seperti momen, jejak, dan cerita yang terkandung dalam sebuah ilmu fotografi,” jelasnya.

Memang fotografi secara konseptual sendiri belum menjadi seni yang penting di mata para seniman seni rupa yang ada di Indonesia pada waktu itu. Mereka hanya memandang bahwa fotografi ini hanya sebatas untuk jurnalistik, komersial, fashion, dan lainnya. Melalui scanography, Angki membuat sebuah ‘sentilan’ kepada para seniman seni rupa untuk lebih membuka mata terhadap fotografi yang dapat menghasilkan ‘kelainan-kelainan’ yang unik dan menarik.

Angki sedang menunjukkan hasil edit dari karyanya. (Leonardus Rama)
Angki sedang menunjukkan hasil edit dari karyanya. (Leonardus Rama)

Tahun 2004, Angki ditarik oleh salah satu rumah seni yang sangat terkenal melahirkan para seniman kontemporer. Rumah seni ini bernama Rumah Seni Cemeti. Mereka melihat bahwa potensi yang dimiliki Angki dalam membuat sebuah terobosan baru dalam ilmu fotografi. Walaupun pada saat itu masih dalam sebuah angan-angan fotografi tanpa menggunakan kamera, hanya sebatas sebuah promosi konsep belum menarik khalayak.

Ilmu antropologi menjadi sebuah elemen yang sangat krusial dalam seni ini. Sebelumnya pada tahun 1994, eksperimen-eksperimen yang dilakukan oleh Angki masih sebatas teknis dan mengandai-andai seperti mengolah sebuah bentuk visual dengan bahasa-bahasa yang puitis dan tidak berhasil. “Setelah ilmu antropologi masuk, baru kesadaran visualnya lebih mumpuni atau lebih sadar kalau apa yang dibuat itu sia-sia,” tutur Angki. Dengan ilmu ini, Angki belajar bagaimana hubungannya dengan visual, bagaimana hubungannya dengan media. Dari kajian-kajian sederhana tersebut melahirkan sebuah analisis spontan yang diciptakan atas nama seniman. Dari penggunaan konsep fotografi, akhirnya cara melihat hasil karya ini bertransformasi seperti mereka melihat sebuah karya seni lukis, bukan hanya sebagai momen saja. “Jadi melalui scanography ini saya memperkenalkan perjalanan fotografi kontemporer di Indonesia,” ucap Angki diikuti dengan senyuman.

Mesin scan dan komputer yang selalu Angki pakai untuk menghasilkan karyanya. (Leonardus Rama)
Mesin scan dan komputer yang selalu Angki pakai untuk menghasilkan karyanya. (Leonardus Rama)
Kemasan ini merupakan sampel yang nantinya akan melalui proses scanning. (Leonardus Rama)
Kemasan ini merupakan sampel yang nantinya akan melalui proses scanning. (Leonardus Rama)

Dalam prakteknya, pengenalan terhadap objek sangatlah penting karena tidak sembarang objek dapat dipindai dalam mesin scan. Peluang dalam karya seni ini sangat tidak terbatas. Dengan mengolahnya di dalam komputer banyak pilihan untuk menjadikan karya ini seperti desain grafis, ilustrasi, poster maupun hiasan. Tetapi di sini Angki berkonsentrasi pada visual bagaimana orang melihatnya sebagai sebuah karya fotografi.

Kalau berbicara masalah inspirasi, memiliki banyak pengalaman di luar sangat penting karena untuk menentukan isi dari karya scanography ini, sama seperti mempelajari fotografi pada umumnya. “Semua juga tergantung pada personalnya, semakin banyak personalnya mencari masalah atau menemui ruang-ruang baru terus keinginan untuk mendapatkan pertemuan-pertemuan baru, dia pasti akan menemukan banyak tanda sebagai inspirasinya,” kata Angki. Pemikiran yang out of the box sangat diperlukan agar tidak terperangkap pada sebuah pemikiran yang itu-itu melulu.

Untuk proses pembuatannya sendiri, menurut penjelasan dari Angki terdapat dua proses, yaitu proses penemuan objek secara langsung di mana ketika menemukan sebuah objek lalu langsung diletakan pada mesin scan. Lalu yang kedua adalah penemuan objek yang berupa instalasi. Baik itu instalasi secara alami atau instalasi buatan. Untuk pencetakannya sendiri biasanya menggunakan acrylic. Tetapi terkadang Angki melakukan eksperimen-eksperimen dalam pencetakan tersebut seperti pada kain, kertas dan sebagainya. Objek yang digunakan juga ada batasannya, karena tidak boleh melebihi dari ukuran mesin scan. Tetapi dengan beriringnya waktu, semua objek mudah didapatkan dari manapun. Dengan konsepnya yang tidak menghilangkan unsur alam juga menjadi sebuah kemudahan dalam mendapatkan sebuah objek untuk nantinya dipindai. Yang unik dari hasil scanography ini adalah di mana akan ditemukan kedetailan dan keindahan dari objek yang sebelumnya tak kasat oleh mata telanjang.

Salah satu karya Angki yang tidak luput memasukan unsur-unsur alam. (Leonardus Rama)
Salah satu karya Angki yang tidak luput memasukan unsur-unsur alam. (Leonardus Rama)
Karya dari Angki Purbandono. (Leonardus Rama)
Karya dari Angki Purbandono. (Leonardus Rama)

Di balik keindahannya dalam menunjukkan kedetailannya, dalam pembuatan seni ini sering kali ada kendala-kendala yang dijumpai, khususnya dalam segi teknis. Dalam pembuatan karya ini harus ada pemahaman pada objek yang akan dipilih dalam pembuatanya. Harus memperhatikan pula kualitas dari objek itu sendiri. menurut Angki harus juga memperhatikan komposisinya apakah objek tersebut adalah benda padat, transparan, semi-transparan dan sebagainya. Dari pengalamannya dalam pembuatan karya seni, Angki pernah membuat sebuah karya scanography dari sebuah otak sapi segar. Dalam proses pembuatannya ini dibutuhkan kesabaran yang super ekstra karena harus mengulang-ulang proses scanning untuk mendapatkan sebuah keindahan dan kedetailan yang diguratkan pada otak sapi itu. Memang kembali pada konsep-konsep fotografi, objek harus diarahkan juga agar menjadi sebuah kedetailan yang sempurna.

Ditanya mengenai antusiasme publik tentang seni scanography, Angki tersenyum dan sumringah menjawab bahwa antusiasme publik terhadap seni ini semakin bertambah. “Ya hari ini aja saya kedatangan kalian, jadi hampir tiap hari bertambah satu orang untuk mereka menikmati cara kerja scanography,” ucapnya diikuti tertawa lepas. Secara tidak terduga, antusiasme ini juga datang dari kalangan mahasiswa di mana seni ini dijadikan sebagai kajian-kajian mereka dalam menyelesaikan tugas akhir maupun penelitian yang lain. Tidak berhenti pada kajian-kajian ilmiah, scanography ini juga berkembang pada pasar seni rupa kontemporer. Baginya, itu merupakan sebuah kelebihan dari sebuah eksperimen yang dia lakukan.