Foto Cerita September 2, 2019

Tempa Pamor

Waktu baru menunjukkan pukul 11 siang, tetapi besalen milik Ki Empu Djeno Harumbrojo sudah riuh dengan suara tempaan besi. Gelar empu yang tersemat di depan namanya diperoleh bukan tanpa usaha. Setelah 30 tahun berkarya membuat keris bersama ayahnya, Ki Empu Sungkowo Harumbrojo, ia baru mendapatkan nama itu. Empu Sungkowo merupakan keturunan ke-17 dari Empu Supodriyo, seorang empu pada jaman Majapahit. Empu Djeno salah satu pembuat keris dengan cara tradisional yang tersisa.

Siang itu, Sang Empu berhalangan untuk terjun langsung membuat keris. Empu Djeno, begitu lebih akrab ia disapa, sedang sakit. Dua orang panjaklah yang sedari tadi sibuk memukul-mukul besi. Panjak merupakan orang yang biasanya membantu empu dalam pembuatan keris. Di balik ruangan berdinding anyaman bambu itulah keris-keris dibuat secara tradisional. Empu Djeno akan menanyakan hari lahir, tanggal, bulan, dan tahun lahir pemesan dalam penanggalan Jawa sebelum mulai membuat keris. Ini dilakukanya supaya energi yang ada pada keris selaras dengan energi pemilik keris.

Tidak cukup hanya menanyakan tanggal lahir pemesan, Empu Djeno juga melakukan ritual adat Jawa seperti berpuasa, berprihatin, selamatan, menentukan bahan, dan menghindari hari pantangan bekerja. Ada lima hari pantangan dalam bekerja, yaitu: Selasa Pahing, Rabu Wage, Kamis Pahing, Kamis Wage, dan Kamis Legi. Selama 40 hari pembuatan keris, ia akan berpuasa pada Kamis Wage, Jumat Kliwon, dan Sabtu Legi. Jika pantangan ini tidak dilaksanakan, menurut Empu Djeno, sesuatu yang buruk biasanya akan terjadi.

Setelah melaukan berbagai ritual, proses selanjutnya adalah proses secara teknis. Pemilihan bahan, Penempaan, dan pembuatan luk (lekukan pada keris) masuk dalam proses teknis. Proses terakhir pada pembuatan keris yang harus dilakukan oleh Empu Djeno adalah menyediakan sesaji, memandikan keris, dan mengolesi minyak cendana. Setelah proses tersebut selesai, barulah keris diberikan pada pemesan. Tidak heran jika menyelesaikan satu keris membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Dahulu, keris digunakan untuk perang satu lawan satu. Tapi kini, keris berubah menjadi jimat bagi pemiliknya atau sebagai aksesoris pada saat pesta perkawinan adat jawa. Keris disimpan dan dirawat secara khusus oleh sang pemilik. Bahkan hingga dimandikan, diberi sesaji. Nilai sejarah yang kental, serta proses pembuatan yang lama menjadikan senjata yang sudah ada sejak jaman Majapahit itu ditetapkan oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2005 silam. Sayangnya, semakin sedikit pembuat keris di jaman sekarang ini. Jika keris hilang, generasi mendatang hanya akan dapat melihat keris dari sebuah gambar.