Reportase September 21, 2019

Tuah Jamu Sang Abdi Dalem Pakualaman

Jalan Masjid pagi itu tampak masih lengang. Di pinggir jalan, tempat berdirinya Masjid Pakualaman, Yogyakarta itu ada beberapa orang yang menjajakan dagangannya. Ada yang sibuk berjualan koran dan majalah, ada pula yang membuka warung nasi kucing.

Sepanjang jalan itu pula ada sebuah kedai jamu tradisional yang berdiri sejak tahun 1950. Saat masih pagi sekitar pukul 6, halaman depan kedai Jamu Ginggang digunakan sebagai lapak jualan sayuran oleh beberapa penjual. Penjual sayuran baru akan membereskan dagangannya menjelang waktu buka kedai Jamu Ginggang. 

Alunan bunyi kendaraan bermotor yang sesekali melintas di Jalan Masjid menemani aktivitas orang-orang itu. Jika dilihat dari seberang jalan, kedai jamu ini hanya berukuran kecil, lengkap dengan gaya dekorasi khas Jawa. Interior ruangan yang terkesan tradisional menambah daya tarik pembeli yang singgah untuk membeli satu gelas jamu yang dijual Jamu Ginggang. Beberapa pernak-pernik mulai dari kaos oblong hingga batik juga dijual di kedai ini. Ada satu barang antik yang menarik perhatian pembeli. Sebuah jam dinding dengan pendulum atau bandul yang dipasang di salah satu pondasinya.

Beberapa waktu berselang muncullah seorang ibu yang membawa bahan-bahan dasar kebutuhan untuk membuat jamu. Yayuk, nama ibu itu, setiap hari menemani ibu-ibu yang lain meracik jamu. Menurut penuturannya, istilah Jamu Ginggang berasal dari kata “tan genggang” yang artinya “persahabatan”. Lama-kelamaan, kata “tan genggang” berubah menjadi “tan ginggang” yang bertahan hingga sekarang.

Kedai jamu yang ada sejak tahun 1930 ini didirikan oleh Bilowo, abdi dalem Kadipaten Pakualaman pada masa pemerintahan KGPAA Paku Alam VII. Selain Bilowo ada 6 hingga 7 abdi dalem yang meramu jamu untuk kerabat kadipaten. KGPAA Paku Alam VII kemudian memberi kesempatan untuk menjual jamu secara lebih luas, tidak hanya kepada kerabat di kadipaten saja.

Penjualan jamu yang dilakukan oleh Bilowo mendapat sambutan baik dari masyarakat sekitar. Baru pada tahun 1940-an, Bilowo mulai menjajakan jamunya di sekitar Pakualaman dengan cara berkeliling. Pada tahun yang sama Bilowo juga mulai merintis berdirinya kedai Jamu Ginggang yang lestari hingga sekarang. Kedai jamu ini awalnya masih berbentuk emplek yang lokasinya di pinggir jalan.

Bilowo ialah generasi pertama kedai Jamu Ginggang. Setelah Bilowo meninggal, usahanya digantikan oleh putranya, Puspomadijo, pada tahun 1950. Tidak sendirian, Puspomadijo dibantu oleh ketiga anaknya. Melalui tangan dingin putra-putranya, warung emplekan Jamu Ginggang berubah menjadi kedai permanen. Menyusul produksinya yang juga kian meningkat dan jumlah karyawan yang bertambah.

Setelah generasi Puspomadijo, kemudian dilanjutkan oleh Dasiyah dan Dasinah hingga saat ini. Dasiyah ialah kakak Yayuk, sementara Dasinah adalah ibunya.

Waktu berubah sangat cepat pagi itu. Jalan Masjid mulai ramai oleh lalu lalang orang-orang. Yayuk bertutur bahwa jamu yang paling laris di Kedai Jamu Ginggang ialah beras kencur, paitan, dan jamu sehat lelaki. Dalam sehari, lanjutnya, Jamu Ginggang bisa meraup untung hingga 200 ribu rupiah. Penjualan beras kencurlah yang menyumbang keuntungan paling besar.

Berbicara mengenai macam-macam jamu yang dijual di kedai ini, jamu galian putri adalah jamu yang bahan dasarnya sulit didapatkan. Menurut Yayuk, jamu jenis ini menggunakan bahan jokeling yang semakin langka. Harganya pun diakuinya semakin mahal dan harus bersaing dengan penjual jamu lainnya.

Suasana hening yang kontras dengan pemandangan Jalan Masjid menyelimuti Kedai Jamu Ginggang pagi menjelang siang itu. Kesan tradisional kedai jamu yang berusaha dipertahankan oleh Yayuk dan keluarganya ini bukan tanpa alasan. Yayuk khawatir jika renovasi kedai secara besar-besaran dilakukan, maka kesan sejarah hingga kekhasan Jamu Ginggang akan hilang. Menurutnya, sejauh ini usaha renovasi yang dilakukan hanya sebatas mengecat ulang tembok dan menambal tembok beserta langit-langit yang sudah berlubang dimakan usia. Barang-barang perabotan mulai dari lemari hingga kursi dan meja tetap dipertahankan dan tidak diganti dengan yang baru.

Kendala lain yang dialami Jamu Ginggang yakni sulit mempromosikan jamu ke anak-anak. “Orang yang minum jamu atau minuman herbal biasanya berusia 40 tahun ke atas,” keluhnya.

Pengunjung Jamu Ginggang didominasi oleh para pekerja kantoran pada hari biasa, sedangkan ketika hari libur, pengunjung yang datang didominasi oleh mahasiswa. Idim, salah satu pengunjung ketika ditemui mengatakan bahwa jika tidak minum jamu, maka badannya terasa kurang segar. “Kalau misalnya sering begadang, terus kalau enggak minum jamu tuh rasanya agak kurang enak gitu,” ujar Idim.

Panas mulai menyeruak masuk ke dalam kedai. Yayuk melanjutkan, Kadipaten Pakualaman kerap kali melibatkan Jamu Ginggang dalam rapat atau hajat besar seperti Maulid Nabi. Jamu Ginggang biasanya menyediakan jamu bagi para kerabat kadipaten dan tamu undangan yang hadir. Selain dari Kadipaten Pakualaman, Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY juga pernah mengundang Jamu Ginggang untuk ikut pameran.

Matahari perlahan-lahan mulai menyinar terang di sepanjang Jalan Masjid. Bayang-bayang kendaraan hingga orang-orang yang berjalan mulai tampak jelas. Kembali ke Idim, sebagai pengunjung, ia memberi masukan agar Jamu Ginggang bisa dijual secara online. “Jadi orang yang jauh-jauh (asalnya) bisa pesan melalui online,” katanya sambil tertawa.