Reportase June 13, 2018

Tutur Cerita dalam Cukil

Siang itu matahari bersinar cukup terik. Sebuah rumah sederhana di Jalan Somodaran, Banyuraden, Gamping, Sleman tampak telihat sepi dari luar. Tirai bambu yang menggantung digunakan sebagai penutup di depan teras yang pada akhirnya menutupi pintu utama rumah dan membuat rumah itu terlihat tertutup dari kejauhan. Rumah tersebut tampak sederhana, tidak banyak pepohonan di pekarangan rumahnya. Tampak seorang lelaki paruh baya sibuk di teras rumah tersebut dengan masih menggunakan celemek kotor yang tertimpa berbagai warna cat. Rumah tersebut adalah rumah milik pria paruh baya bernama Syahrizal Pahlevi atau yang kerap disapa Levi, salah satu seniman grafis yang ada di Yogyakarta.

Teras rumah sederhana yang tak terlalu luas menjadi tempat kerjanya. Suara lalu lalang kendaraan di depan rumahnya seolah menjadi musik pengiring baginya. Dari raut wajahnya tak ada ekspresi terganggu dengan suara-suara tersebut, seolah tak ada yang dapat memecahkan fokusnya. Ia lebih menyukai bekerja di siang hari dari pada malam hari, walaupun malam hari suasana relatif lebih sepi sehingga dapat lebih berkonsentrasi. Seni grafis yang Levi selami adalah  teknik cukil kayu atau woodcut. “Menurut saya, cukil kayu ini menarik karena kita tidak tahu hasil akhirnya, masih harus menebak-nebak, kadang hasilnya juga tak terduga,” katanya seraya menyunggingkan senyuman.

Pergaulan membawa Levi mendalami lebih jauh woodcut printing. Dalam menggunakan teknik cukil kayu, pria lulusan DKV ISI Yogyakarta ini membutuhkan setidaknya satu plat kayu sebagai acuan cetak. Plat kayu tersebut ia cukil menggunakan pisau cukil. Pada umumnya para seniman grafis yang menggunakan teknik ini memakai lima jenis pisau cukil, yaitu bentuk V, datar, U besar, U kecil, dan miring, namun Levi sudah terbiasa menggunakan dua jenis saja.

Sembari menjelaskan macam-macam pisau cukil tersebut, Levi juga memperagakan cara menggunakan pisau-pisau tersebut. Setelah plat kayu selesai dicukil, plat tersebut diolesi dengan cat sesuai dengan warna yang diinginkan, begitupun seterusnya hingga mendapatkan bentuk gambar yang diinginkan atau hingga plat sudah tidak dapat dicukil atau tak berbentuk lagi. Teknik cukil kayu ini tidak menggunakan cat air, melainkan menggunakan tinta khusus yang disebut tinta offset. Hal ini dikarenakan tinta offset cukup liat dan fleksibel jika medianya diganti. Setelah proses pewarnaan, plat kayu tersebut dijiplak ke atas kertas lalu dipres dengan mesin pres atau mesin etching press yang dibelinya di Bandung, bisa juga dilakukan secara manual. “Nah, nanti terus platnya dicukil lagi, diwarna lagi pakai warna lain. Gitu terus sampai cetakannya jadi sesuai bayangan,” ujar levi sembari mengoleskan cat ke cetakan.

Syahrizal Pahlevi, seniman woodcut printing. (Leonardus Rama)
Syahrizal Pahlevi, seniman woodcut printing. (Leonardus Rama)

Lahan depan rumah yang tak terlalu luas tanpa pepohonan membuat rumah ini terlihat jelas dari jalanan. Sempat dibuat heran karena lahan depan rumah tidak dimanfaatkan untuk menjemur, membantu proses pengeringan cat. Ternyata terdapat alasan di balik itu semua. Kertas merupakan media yang sensitif jika dijemur di bawah sinar matahari, kertas dapat melengkung sehingga merusak hasil cetakan. Proses pengeringan cat setiap warna membutuhkan waktu kisaran 1-2 hari karena hanya diangin-angin di tempat yang kering. Menurut Levi, kertas merupakan media yang cocok untuk menerapkan seni grafis karena ketika mengering, tinta yang berada di atas kertas cenderung melekat kuat dan terlihat seperti lapisan kaca. Jika menggunakan kanvas, tinta lebih mudah lepas dikarenakan tekstur kanvas yang lunak.

Kaleng-kaleng cat diletakan di atas meja kerjanya yang sudah tak terlihat lagi warna aslinya karena terkena berbagai macam warna cat. Saat ini, Levi lebih suka bermain dengan warna dalam menghasilkan karyanya. Dulu ia pernah menggeluti woodprinting dengan warna black and white. Karya black and white dihasilkan dengan cara memilih media cetak putih kemudian cetakan yang telah dicukil diolesi dengan cat berwarna hitam kemudian dicetak di atas media yang dipilih. “Biasanya saya coba-coba dulu kalau hitam-putih, coba di kertas buat lihat kurang apanya, nanti kalau sudah sesuai baru saya cetak di kertas yang sesungguhnya.”

Proses pengecatan. (Leonardus Rama)
Proses pengecatan. (Leonardus Rama)

Satu karya berukuran kecil membutuhkan waktu 1-2 minggu untuk diselesaikan, sementara itu untuk membuat karya berukuran besar membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan. Hal ini dikarenakan proses menunggu tinta menjadi kering yang terbilang memakan waktu yang cukup lama. “Cepat atau tidaknya tergantung berapa banyak warna yang dipakai. Kalau saya bisanya pakai belasan warna, pernah sampai puluhan, jadi hasilnya bisa sampai kira-kira satu bulan,” tutur Levi dengan tangan-tangannya yang masih sibuk bergelut dengan tinta warna warni. Cukil kayu memiliki beberapa kesulitan tersendiri dalam proses produksinya. Levi menjelaskan kesulitan yang ia alami ketika menggeluti teknik ini. “Kesulitannya sama saja, cuma kalau pakai teknik ini memang persiapannya harus lebih detail, bayangannya harus matang karena kalau gagal harus diulang dari awal, kecuali kalau pakai satu plat untuk satu warna, berarti hanya satu plat saja yang diganti, tapi memang pemakaian bahannya jadi lebih banyak.”

Tangannya masih tetap sibuk merampungkan lembar demi lembar karyanya sembari mengobrol. Bagi Levi sendiri, ia selalu mendapatkan inspirasi dari pengalaman pribadi. Untuk mendapatkan pengalaman tersebut tidak jarang Levi melakukan street printmaking atau yang lebih sering ia sebut sebagai mobile printmaking disebut demikian karena dalam proses pembuatan karya seniman berpindah-pindah tempat. Street printmaking tersebut ia lakukan diantara kerumunanan di tempat keramaian, sebagai strategi untuk mensosialisasikan teknik woodprinting. Ketika mengikuti residensi ke Guanlan, Cina, Levi juga pernah melakukan mobile printmaking. Namun sayangnya pihak penyelenggara tidak menyukai tindakan yang Levi lakukan meskipun sebenarnya Levi sudah mengantongi ijin dari sekretaris direkturnya. “Ya mungkin ada mis-komunikasi karena perbedaan bahasa. Menurut mereka juga image printmaking itu harus di studio yang steril. Harus high class.” Meskipun begitu sampai saat ini Levi masih melakukan street printmaking.

Hasil press yang masih dalam proses pengeringan. (Leonardus Rama)
Hasil press yang masih dalam proses pengeringan. (Leonardus Rama)
Potret teras rumah yang menjadi ruang kerja Levi. (Leonardus Rama)
Potret teras rumah yang menjadi ruang kerja Levi. (Leonardus Rama)

Sebagai seorang seniman, Levi selalu dituntut untuk jujur dalam setiap karya-karyanya. Di dalam seni grafis harus terdapat tanda yang menyatakan nomor hasil karya ke berapa dari total semua karya yang sama. Misalkan dalam sebuah karya terdapat tanda “1/5”, itu artinya karya tersebut merupakan karya pertama dari total lima karya yang ada di dunia. Untuk menjamin itu semua, sang seniman haruslah menghancurkan plat kayu setelah selesai produksi.

Hawa panas yang menyeruak tak menyurutkan niat Levi untuk melanjutkan ceritanya. Untuk lebih mengenalkan woodprinting kepada masyarakat, selain menggunakan  street printmaking, Levi juga menggunakan strategi lain untuk bersosialisasi, misalnya mengadakan pameran yang disertai dengan info mengenai teknik yang digunakan, workshop, website, dan membuka kelas pengajaran.

Levi sendiri juga mempunyai rencana untuk menerbitkan jurnal atau buku mengenai woodprinting. “Masyarakat kebanyakan kurang tahu soal seni grafis karena seni grafis itu kan luas. Tapi kalau langsung cukil kayu gitu biasanya banyak yang tahu, padahal itu termasuk seni grafis.” Beruntungnya pemerintah mulai memperhatikan seni woodprinting. Hal ini diwujudkan oleh pemerintah dengan dimulainya kerja sama antara pemerintah dengan seniman. Pria yang lahir pada tahun 1965 itu mengungkapkan jika pihak pemerintah sudah memberikan dana untuk mengadakan Pekan Seni Grafis Yogyakarta yang rutin diadakan setiap dua tahun sekali.