Reportase September 13, 2019

Warta Seni dari Tatar Pasundan

Siang yang sejuk menyelimuti langit Bandung kala itu. Ramai orang-orang dan pedagang makanan turut memeriahkan suasana di Jalan Haji Akbar yang tidak begitu banyak pengunjung. Jalan itu juga merupakan saksi berdirinya sebuah galeri dan sentra souvenir wayang golek yang cukup terkenal di Bandung: Gallery Wayang Golek dan Souvenir Cupumanik.

Letak galeri itu terkesan unik. Tidak seperti sentra cinderamata kebanyakan yang letaknya strategis, bangunan ini terletak di tengah-tengah perkampungan. Bangunannya juga tidak begitu besar, dapat dikatakan seperti sebuah depot kecil yang diisi berbagai macam wayang golek yang dipamerkan dan dijual.

Bagian depan bangunan juga disuguhkan tulisan “Cupumanik Bandung” yang dipegang oleh Cepot, salah satu tokoh dalam wayang golek. Cepot adalah salah satu dari punakawan selain Semar, Gareng dan Petruk. Bedanya dengan cerita dalam wayang kulit, Cepot adalah nama lain dari Bagong dan merupakan anak pertama dari Semar. Hal ini tentu berbeda jika dibandingkan dengan cerita pewayangan dalam wayang kulit yang menceritakan bahwa Cepot atau Bagong ini justru merupakan anak terakhir dari Semar.

Jika letaknya dapat dibilang “tersembunyi” dan jauh dari keramaian kota, interior dalam bangunan justru semakin unik. Sederet aksesoris hingga pernak-pernik dipajang di sepanjang etalase dan dinding bangunan. Bagian belakang bangunan juga digunakan sebagai tempat produksi sekaligus pembuatan wayang golek.

Tak lama kemudian, seorang perempuan muncul dari balik ruang kerjanya. Ruang kerjanya berada di tengah-tengah bangunan. Perempuan itu adalah Shanty Sondari, pemilik Cupumanik saat ini. Ia juga merupakan anak dari Herry Hermawan yang merupakan pendiri Cupumanik.

“Ayah saya sebenarnya kalau bisa disebut, pahlawan usaha kecil menengah ya. Jadi waktu dulu itu ada usaha-usaha kecil gitu, dikembangkan oleh ayah saya.” Shanty, begitu ia dipanggil memulai ceritanya pada siang itu. Ia kemudian melanjutkan ceritanya. “Nah waktu ayah saya datang ke Purwakarta, ada pengrajin-pengrajin wayang ini yang terbengkalai, tidak tahu harus ke mana, mau menyalurkan wayang-wayang hasil karyanya. Lalu sama ayah saya diambil, dibawa ke Bandung, dipasarkan di sini, ternyata sukses. Akhirnya bisa kerja sama terus sampai 30 tahun.”

Herry Hermawan adalah pendiri Cupumanik pada tahun 1980. Nama “Cupumanik” diambil dari cerita pewayangan yang berarti wadah bundar berhiaskan permata yang indah. Sepak terjangnya di kebudayaan Sunda khususnya wayang golek dimulai ketika ia bersama pemerintah bekerja sama dalam membangun UKM Bapikra pada tahun 1977. Seperti yang dikatakan Shanty, ayahnya berperan penting dalam memajukan beberapa UKM, khususnya UKM Bapikra, sehingga menjadi UKM yang sukses. Peran
pentingnya dapat dilihat dari usahanya dalam mendidik dan mengasuh UKM-UKM tersebut.

Dahulu, wayang golek digunakan oleh Walisongo sebagai media dakwah. Salah satu tempat belajar dan pertunjukan wayang golek yang terkenal di Bandung adalah Padepokan Giri Harja yang didirikan oleh Asep Sunandar Sunarya. Asep adalah dalang sekaligus maestro wayang golek.

Shanty juga mengatakan bahwa Cupumanik hanya khusus menjual wayang golek sebagai hiasan, bukan sebagai media dakwah dalam proses pembuatannya. “Enggak. Jadi wayang golek Cupumanik itu khusus untuk hiasan. Kalau misalnya wawancara ke Giri Harja atau Asep Sunandar Sunarya, mungkin beda jawabannya.”

Suasana di ruang tengah di samping ruang kerja Shanty semakin nyaman, ditambah sirkulasi udara yang hangat tetapi tidak membuat gerah. Shanty juga sempat bercerita soal perbedaan mendasar wayang golek dan wayang kulit. Menurutnya, perbedaan mencolok wayang golek dan wayang kulit bisa dilihat dari dimensi dan fisiknya. Ia juga berpendapat bahwa asal kedua jenis wayang juga berbeda. “Perbedaan wayang golek sama wayang kulit itu, kalau wayang golek dari Jawa Barat, wayang kulit dari Jawa Tengah.”

Wayang kulit memiliki satu dimensi, hanya bisa dilihat dari luarnya saja. Wayang golek bisa dilihat secara tiga dimensi, bisa dilihat dari luar dan memiliki ketebalan. “Tapi pada dasarnya sejarahnya sama, jadi cerita-ceritanya sama, cuma perbedaan fisiknya saja,” imbuhnya kemudian.

Shanty menuturkan bahwa bahan dasar pembuatan wayang golek bukan hanya dari kayu albasiah yang lebih mudah didapatkan dan diukir. Ada juga bahan dasar lain yaitu kayu lame. Perbedaan kedua bahan dasar ini turut mempengaruhi harga jual wayang golek. Kayu albasiah biasanya digunakan untuk membuat wayang dengan kisaran harga sepuluh ribu
rupiah sampai lima puluh ribu rupiah. Kayu lame digunakan untuk membuat wayang premium, yang kisaran harganya mulai dari tiga juta, tujuh juta, delapan juta, hingga lima belas juta rupiah. “Kayu lame itu kayu yang enggak bisa ditanam, tapi cukup langka dan hasilnya sangat bagus sekali, jadinya lebih mahal dibandingkan dengan wayang yang terbuat dari kayu albasiah,” ujar Shanty.

Menurut Shanty, jenis wayang golek yang laris terjual adalah wayang golek Rama-Shinta. Shanty juga sempat menunjukkan beberapa model wayang golek premium. Motif warna pada masing-masing wayang berbeda satu sama lain, dengan tujuan menyesuaikan batik yang dikenakan pada wayang. Motif warna yang berbeda-beda pada masing-masing wayang juga menjadi keunikan Cupumanik dibandingkan dengan produksi wayang golek yang lain.

Keunikan Cupumanik tidak hanya berhenti pada motif warna wayang. Yang membedakan Wayang Golek Cupumanik dengan yang lain adalah bahannya. “Jadi mulai kayu, terus batiknya, dari pengecatannya, itu semuanya beda. Kita kualitas tinggi semua, gitu.”

Lebih-lebih, menurut Shanty, masing-masing orang membuat wayang, jadi satu orang membuat satu wayang, sehingga hasil pengerjaan wayang tentunya akan berbeda satu sama lain.

Pengerjaan wayang golek di Cupumanik khusus hanya mulai pengecatan, pembuatan baju, pemakaian baju dan pengemasan wayang. “Untuk pengukiran bahan mentah kita ambil di Purwakarta dengan pengrajin yang kita asuh sendiri, kita didik,” cerita Shanty. Cupumanik juga mendidik para pengrajin wayang golek agar kualitas wayang golek menjadi bagus.

Wayang golek erat kaitannya dengan budaya Sunda. Shanty bahkan berujar banyak orang yang meminta agar Wayang Golek Cupumanik tetap dilestarikan. “Makanya kita sampai saat ini tetap bertahan, karena juga rasanya berat sekali kalau harus menghapus budaya Sunda ini.” Prinsip yang diterapkan oleh Shanty dan karyawannya ini menjadi bukti Cupumanik tetap bertahan hingga sekarang.

Jika berbicara tentang hubungan Wayang Golek Cupumanik dengan budaya Sunda, tentu ada orang-orang di balik layar yang ikut terlibat di dalamnya. Orang-orang ini tidak lain adalah orang-orang yang tinggal di sekitar Cupumanik yang bekerja di sana. “Jadi rata-rata karyawan Cupumanik itu tinggalnya di daerah sekitar sini, membantu perekonomian masyarakat di sekitar Cupumanik,” ungkap Shanty. Jelas terlihat adanya hubungan mutualisme yang terjalin antara Cupumanik dan masyarakat sekitar.

“Kita enggak ada bikin pagelaran. Jadi cuma wayang buat hiasan aja, khusus di Cupumanik ini,” terang Shanty. Ia juga mengatakan tempat Cupumanik yang terbatas membuat Cupumanik hanya menyediakan galeri dan tempat penjualan cinderamata.

Jumlah karyawan yang bekerja di Cupumanik saat ini sekitar 35 orang. Padahal, jumlah karyawan yang bekerja sempat mencapai angka 40. “Faktor usia, karena semua itu dari saya lahir, itu juga sudah pada kerja di sini,” kata Shanty menjelaskan alasan berkurangnya jumlah karyawan yang bekerja di Cupumanik.

Latar belakang karyawan yang bekerja di Cupumanik juga berpengaruh pada gaji yang diterima. Ada karyawan yang meminta kenaikan gaji pada Shanty, tetapi ditolak. “Oh ya pasti itu, karena inginnya UMR Kota Bandung.” Ia menambahkan, “Cuma, dengan tingkat pendidikan dia yang SD, sayangnya kita juga enggak sanggup ya, ngasih UMR yang sesuai dengan Kota Bandung. Jadi kita sedikit di bawahnya, gitu.”

Baik Asep Sunandar dan Herry Hermawan sama-sama telah melestarikan budaya Sunda melalui perannya masing-masing. Hal itu yang membuat wayang golek tetap lestari sampai sekarang, bahkan dikenal oleh dunia internasional.

Shanty merupakan generasi penerus budaya Sunda melalui wayang golek yang digunakan sebagai hiasan dan suvenir. “Soalnya banyak orang yang ngomong, ‘Waduh Cupumanik jangan sampai udahan ya, enggak ada lagi yang bisa meneruskan budaya Sunda, enggak ada lagi yang bisa melestarikan’,” kata Shanty berharap.